
| Rabu, 23 April 2003 | Sala |
Perilaku Seks MasyarakatApakah Solo Justru Lebih Buruk?SRIWEDARI- Permasalahan perilaku seks masyarakat Jakarta yang tercermin dalam buku Jakarta Undercover Sex in City membuat penasaran pengunjung Solo Book Fair 2003. Mereka memadati arena bedah buku itu yang nyempit di sudut kiri Ghra Wisata Niaga. ''Ada banyak perilaku masyarakat Kota Jakarta, dari kalangan atas sampai bawah. Yang jelas, perilaku saat ini tidak lagi konvensional. Menginginkan hal baru yang berbeda dari cara-cara biasanya,'' ungkap penulis Mohammar Mk yang riset hampir empat tahun sebelum menulis bukunya itu. Tak heran, penjelasan itu mengusik hati pengunjung. Mereka meminta agar penulisan seperti itu juga dilangsungkan di Solo. ''Jika ada Jakarta Undercover, bagaimana Solo? Apakah sama saja, lebih baik atau Solo justru lebih parah. Mbok di sini juga dibuat riset seperti yang di Jakarta,'' ungkap salah seorang pengunjung. Mohammar menjelaskan, riset baru dilakukan di Jakarta, menyusul Bandung dan Surabaya. Sementara itu, Solo belum dilakukan. ''Sebenarnya, saya pernah mengadakan liputan tentang salon-salon plus. Data tentang Solo masih sedikit. Bila mau menulis, tentu perlu tinggal di sini lebih dulu,'' ujar wartawan hiburan sebuah media massa itu. Pengunjung juga mempersoalkan norma-norma dalam pengungkapan buku yang laris manis di pasaran itu. Soal tersebut, ujar dia, hanya untuk menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. Pada bagian lain, aktivis perempuan RAy Sitoresmi Prabuningrat menanggapi adanya perilaku seks bervariasi. Dia berpendapat, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana membangun komunikasi antarpasangan. ''Dengan komunikasi itu permasalahan-permasalahan yang terjadi dapat dipecahkan, sehingga masing-masing pasangan mendapatkan apa yang mereka inginkan,'' tuturnya. Tentang pendidikan seks, dia mengemukakan, yang penting adalah kejujuran. Sebab, bila masalah ini ditutup-tutupi justru akan menimbulkan pertanyaan lebih panjang lagi.(F11-51j) |