
| Rabu, 23 April 2003 | Berita Utama |
Barang-barang Jarahan dari Museum Irak Dijual ke AS
WASHINGTON - Kolektor benda seni dan para dealer mengatakan, mereka siap membeli benda-benda bersejarah hasil jarahan dari museum-museum di Irak. Sementara itu, Biro Penyidik Federal (FBI) mengatakan sedikitnya satu benda bersejarah telah disita di Amerika. Lynne Chaffinch dari FBI mengatakan, dia menduga para pencuri berusaha menjual sebagian besar barang curian itu ke negara-negara kaya. FBI mencium, orang-orang di AS sudah siap membeli 60 persen benda seni kelas dunia dari Museum Bagdad itu, ilegal maupun legal. Ribuan benda bersejarah, sebagian sudah berusia ribuan tahun, dijarah ketika pasukan AS menggulingkan rezim Saddam Hussein. FBI telah bekerja sama dengan badan-badan penegakan hukum internasional dan AS, juga dengan kalangan kolektor benda seni, juru lelang dan pakar, untuk menemukan kembali benda-benda berharga itu. Lynne Chaffinch, manajer Program Pencurian Seni FBI, mengatakan kepada wartawan, dia menduga para pencuri itu akan berusaha menjual sebagian besar barang-barang hasil jarahan itu ke negara-negara kaya seperti AS, Inggris, Jerman, Jepang, Prancis dan Swiss. ''Ada beberapa motivasi, tetapi sebagian besar karena alasan uang,'' kata dia mengenai alasan di balik pencurian itu. Chaffinch mengatakan, petugas bea cukai di sebuah bandara di AS menyita sedikitnya sebuah benda bersejarah yang diduga kuat berasal dari museum Bagdad. Pejabat pabean tidak bersedia berkomentar lebih lanjut. Namun, mereka mengatakan para petugas bea cukai di pelabuhan atau bandara di seluruh negeri terus mengamat-amati kalau-kalau ada benda-benda berharga dari masa Asyria, Sumeria, Mesopotamia dan lainnya yang diyakini merupakan barang curian. Pasar Legal Pencuri biasanya mencoba menjual artefak dan benda seni curian di pasar legal. FBI sering kali mendengar tentang suatu benda dari dealer atau pakar seni, kemudian mengirim seorang agen untuk mengontak si penjual. Sebagian agen-agen ini sudah dibekali pengetahuan sejarah seni sehingga mereka dapat menyusup di dunia yang sangat khusus ini. ''Mereka harus mampu mengikuti pembicaraan kalangan kolektor,'' kata Chaffinch. FBI akan bekerja sama lebih erat dengan kolektor seni, balai-balai lelang, kurator museum dan penjual-penjual di internet seperti eBay untuk melacak setiap benda seni dari Irak yang dijual di AS. Salah satu upaya penting adalah memperoleh dokumentasi benda-benda curian itu dari Irak sehingga para petugas di AS dan di luar negeri dapat mendaftar benda apa saja yang telah ditemukan kembali. FBI akan segera mengirim satu tim agen, kemungkinan bersama Chaffinch, ke Bagdad untuk mengumpulkan informasi. Informasi itu akan disimpan di Arsip Benda Seni Curian Nasional di FBI. Arsip ini memiliki daftar sekitar 100.000 benda seni curian. Institut Oriental University of Chicago juga telah memasang deskripsi di internet tentang beberapa artefak penting yang dicuri. Para pakar dari universitas mengatakan, antara 50.000 dan 200.000 benda bersejarah dicuri dari museum-museum Bagdad setelah kota itu jatuh ke tangan pasukan AS. Gugus tugas Pemerintah AS terdiri atas Departemen Kehakiman, Departemen Luar Negeri, Bea Cukai, CIA dan Interpol sedang menyusun rencana untuk mengatasi kasus penjarahan di Irak. Ada usulan untuk memberikan pengampunan atau hadiah bagi penjarah yang mengembalikan benda-benda curian, tetapi belum ada keputusan final menyangkut soal ini. Selain itu, Interpol berencana mengadakan konferensi pada 5-6 Mei di Lyons, Prancis untuk mengorganisasi dan mengkoordinasi upaya penemuan kembali benda bersejarah itu dan menangkap pelakunya. Tim penyidik interpol sudah berada di Kuwait, menunggu izin militer AS untuk masuk ke Bagdad. Pemberitaan luas atas kasus penjarahan di Irak ikut membantu petugas menyidik kasus ini. Chaffinch mengatakan, karena benda-benda itu berasal dari masa-masa kuno peradaban, seluruh dunia menaruh perhatian terhadap kasus ini. ''Itu adalah kelahiran peradaban. Bukan cuma warisan Irak saja, melainkan juga warisan budaya dunia,'' kata dia. Garner Disambut Hangat Di Sulaimaniyah, Jenderal Purnawirawan AS Jay Garner disambut hangat saat berkunjung untuk menemui Pimpinan Persatuan Patriot Kurdistan (PUK) Jalal Talabani. Mereka membahas masa depan Irak. Garner tiba dengan menggunakan helikopter CH-53 dari Arbil. Sebelumnya dia menggunakan pesawat transportasi C-130 dari Bagdad ke Arbil. Pembicaraan antara Garner dengan Talabani difokuskan pada memulai kembali pelayanan vital kepada publik. Demikian dilaporkan ABC News, Selasa kemarin. PUK merupakan satu dari dua faksi dalam suku Kurdi di Irak. Satunya lagi bernama Partai Demokratik Kurdistan (KDP) pimpinan Massud Barzani yang berbasis di Arbil. Mereka berdua sama-sama dilibatkan dalam mempersiapkan pemerintahan sementara di Irak. Setelah berdialog dengan Talabani, Garner mengunjungi universitas setempat. Dia disambut kerumunan pelajar dan mahasiswa. ''Kalian orang-orang hebat. Kalian akan memiliki masa depan yang hebat,'' kata Garner. Di hadapan para tokoh Kurdi dan mahasiswa, Garner mengatakan wilayah pemerintahan otonomi Kurdi menjadi model bagi Irak. ''Yang telah kalian lakukan di sini selama 12 tahun adalah awal luar biasa dalam pemerintahan otonomi. Kalian telah memberi model pemerintahan bagi Irak,'' kata Garner di Universitas Sulaimaniyah. Sambutan hangat Kurdi ini sangat kontras dengan sambutan dingin di Bagdad Senin lalu. Garner menjabat direktur Kantor Rekonstruksi dan Bantuan Kemanusiaan (ORHA) untuk Irak pascaperang. Penunjukan Garner mengundang kecurigaan dari negara-negara Arab mengenai rencana Washington untuk Irak. Arab mendesak program rekonstruksi diserahkan kepada PBB. Long March Sementara itu, puluhan ribu warga Syiah Irak kemarin masih ada yang melakukan long march sejauh 80 km untuk berziarah ke kota suci Karbala, 80 km di baratdaya Bagdad. Mereka meneriakkan yel-yel. ''No America, no Saddam, no tirany'' dan ''Saddam, penjahat ganas, di mana kamu sekarang?'' Sambil berjalan, mereka memukuli dada dan mencambuki punggung sendiri sampai berdarah, suatu tindakan ritual selama perjalanan ziarah itu. Kemarin, ribuan peziarah membanjiri makam Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW, yang tewas di Karbala pada tahun 680. Sambil berpawai di Karbala, mereka membawa potret Mohammad Sadeq al-Sedr, seorang ulama Syiah yang tewas bersama dua putranya pada 1999. Pasukan AS tidak ada di Karbala demi menghormati perjalanan ziarah yang diorganisir oleh para pemimpin religius Syiah itu. Beberapa peziarah berterima kasih kepada AS dan Inggris karena telah menyingkirkan Saddam. Sebab, mereka dilarang melakukan kegiatan ritual ziarah ke Karbala sejak Saddam menjadi presiden Irak pada 1979. ''Terima kasih Bush, terima kasih Blair. Apa pun alasannya, kalau bukan karena mereka, Saddam dan putra-putranya masih bertahta seratus tahun lagi,'' seru seorang pengacara bernama Mohsen Abdul Ali Zubeidi. Di Beijing, Cina menyatakan keinginan agar sanksi PBB atas Irak dicabut. ''Pemerintah Cina menaruh perhatian besar pada situasi kemanusiaan di Irak, khususnya situasi sulit yang dihadapi rakyat Irak,'' kata jurubicara Kementerian Luar Negeri Liu Jianchao. Di Bagdad sendiri, barang-barang hasil jarahan mulai diperdagangkan. ''Tidak peduli kalau barang ini memang hasil mencuri. Tidak peduli kalau orang lain juga tahu. Tetapi, saya harus menjualnya untuk menyambung hidup,'' kata Mohammed Hadi di Bagdad. Hadi dengan semangat berteriak menjajakan dagangannya kepada siapa pun yang melintas. ''Sepatu atletik, murah, hanya 12.000 dinar alias empat dolar. Ada juga sarung tangan tinju, sepasang hanya dua dolar,'' seru Hadi kepada calon pembeli.(rtr-gn-52) | |||||