logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 23 April 2003 Ekonomi  
Line

Gula Mahal, Petani Tetap ''Gigit Jari''

SLAWI - Kendati harga gula di pasaran melonjak hingga Rp 5.200/kg, namun dampaknya tidak berpihak kepada petani tebu. Bahkan sekarang muncul kekhawatiran di kalangan petani, pada saat musim giling Juni mendatang harga gula justru akan turun drastis, seperti tahun lalu.

Ketua DPD APTRI Jateng H Fatchudin Rosyidi mengatakan, berdasarkan pengalaman tahun lalu, harga gula sempat melonjak hingga Rp 4.500/kg. Namun saat musim giling bulan Juni harga gula turun drastis sampai titik terendah Rp 2.550/kg. Harga tersebut tidak sebanding dengan harga produksi yang mencapai Rp 3.200/kg. ''Karena dituntut kebutuhan hidup yang mendesak dan biaya pengolahan lahan pertanian, sehingga stok gula sejak bulan Oktober sudah habis terjual. Sehingga, petani dan pabrik gula tidak pernah merasakan harga gula yang signifikan,'' katanya ketika ditemui, kemarin.

Akibat tidak adanya kestabilan harga gula itu, lanjut Fatchudin, para petani mengalihkan lahannya untuk tanaman palawija. Area tanaman tebu turun sebesar 55,8% dan produktivitas gula di Jateng turun 32% yang berdampak pada lima pabrik gula (PG) tutup, di antaranya PG Kalibagor, Banjaratma, Cipiring, Colomadu, dan PG Ceper Baru.

Ia mengatakan, hingga kini hanya sebilan PG yang masih operasi. Tak pelak gula yang diproduksi sekitar 170 ribu ton/tahun. ''Padahal kebutuhan gula di Jateng sebesar 340 ribu ton/tahun, sehingga kekurangan gula mencapai 50 persen. Maka untuk menutup kekurangan harus melalui impor gula.'' (G12-69)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA