
| Rabu, 23 April 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Peringatan Hari Bumi
Batang Selatan Mendesak DihijaukanBATANG - Bertepatan dengan Hari Bumi Internasional, 22 April, selayaknya semua pihak mencurahkan perhatian terhadap bumi yang menua. Apalagiterjadi berbagai bencana dan masalah yang tidak diketahui kapan terhenti. Sebut saja persoalan air yang mencekik, sehingga PDAM Batang, misalnya, tak mampu menyediakan air untuk pelanggan. Karena itulah Kelompok Peduli Lingkungan (Kepel), LSM yang peduli terhadap lingkungan, mendesak DPRD dan Pemerintah Kabupaten Batang membuat peraturan daerah untuk melestarikan flora dan fauna di habitat asli. Dengan tujuan, tidak punah oleh perkembangan peradaban manusia yang tak terkendali. ''Contohnya kelangkaan air bagi PDAM Batang karena hutan di kawasan Bismo berkurang. Ironisnya, itu terjadi karena penebangan tidak terkontrol. Ratusan, bahkan ribuan, pohon lindung tumbang oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab,'' ujar Ketua Kepel Nur Hadi, didampingi Panitia Hari Bumi Satria Toto Laksana, seusai peringatan di kawasan hutan lindung Mranten, Kecamatan Bawang, sore kemarin. Kedua aktivis pencinta alam itu menyatakan sudah saatnya beberapa tempat di Batang, khususnya di bagian selatan yang masuk deretan Pegunungan Dieng, dihijaukan kembali. Karena, banyak hutan lindung berubah fungsi. ''Saya informasikan, di beberapa tempat di hutan lindung di Batang bagian selatan atau utara dataran tinggi Dieng mendesak dihijaukan kembali. Bumi kita makin panas karena hutan berkurang. Itu tidak boleh terjadi di Batang. Kawasan hutan lindung hendaknya terjaga dan pasokan air untuk generasi mendatang pun terjamin,'' ujar Toto. Tanah Longsor Nurhadi mengemukakan pengurangan hutan lindung harus segera ditangani, karena setiap musim kemarau tiba cadangan air pasti berkurang. Tanah longsor akan menghantui tempat-tempat yang gundul saat memasuki musim hujan. ''Areal pertanian dan perkebunan di selatan, tepatnya di sebelah utara dataran tinggi Dieng yang berbatasan dengan Banjarnegara, perlu dihijaukan kembali. Kayuabang di Desa Gerlang, misalnya, mendesak dihutankan kembali.'' Direktur PDAM H Amien Harsono secara terpisah juga menyatakan prihatin atas ancaman krisis air di enam kabupaten. Yaitu, Batang, Banjarnegara, Kendal, Pekalongan, Temanggung, dan Wonosobo. Krisis Air ''Saya prihatin saat membuka Suara Merdeka halaman Kedu dan DIY, yang memberitakan berdasar hasil evaluasi kerja pengolahan hutan yang dilakukan sejumlah LSM di aula Wisma Sumodilogo, Kranggan, Temanggung, ada enam kabupaten krisis air.'' Dia menuturkan masalah itu harus jadi perhatian semua pihak. Apalagi sudah lintas wilayah kabupaten. ''Kami sangat berkompeten atas hasil eveluasi teman-teman LSM. Hal itu berkait erat dengan tugas kami menyediakan air bersih bagi masyarakat,'' ujar Amien. PDAM akhir-kahir ini kesulitan karena pasokan air sering tidak lancar. Ketidaklancaran pelayanan itu, kata dia, disebabkan oleh penurunan kapasitas produksi air, terutama pada musim kemarau.(ar-17g) |