logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 23 April 2003 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Pengamen dan Anak Jalanan Demo

YOGYAKARTA- Puluhan pengamen dan anak jalanan menggelar demo pada peringatan Hari Bumi, Selasa (22/4) kemarin. Mereka mengingatkan masyarakat agar menghargai lingkungan dan tidak melakukan hal-hal yang bisa memperparah kerusakan bumi.

Pengamen dan anak jalanan itu menyelenggarakan happening art di perempatan jalan lingkar Condongcatur. Sebagian besar dari mereka hanya mengenakan celana dalam dan tubuhnya penuh coreng moreng cat tembok. Dari ujung rambut sampai kaki tertutup warna putih dan coretan hitam serta merah.

Koordinator aksi, Iwan, menjelaskan, ''drama'' para pendemo itu menggambarkan keserakahan manusia mengeksploitasi alam. Sejumlah pengunjuk rasa mengangkat ''bumi'' mengelilingi lokasi aksi. Sementara itu anak-anak jalanan membawa poster bertuliskan kritik pada kebijakan-kebijakan yang tidak memedulikan lingkungan. ''Kami ingin memperlihatkan pada masyarakat, kerusakan bumi ini sudah pada taraf mengkhawatirkan,'' tandas pemuda dengan tato di beberapa bagian tubuhnya itu.

Dia memberi aba-aba pada rekan-rekannya, bagaimana harus ber-happening art. Menjelang tengah hari, aksi di perempatan berakhir. Mereka beristirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan ke bulevar UGM. Di sana ada beberapa elemen masyarakat yang juga sedang menggelar aksi, antara lain mendirikan tenda-tenda di sepanjang bulevar.

Pembangkangan

Aksi memperingati Hari Bumi juga dilakukan Aliansi Komisariat-komisariat Himpunan Mahasiswa Islam Yogyakarta di perempatan Tugu, DPRD DIY, dan Kantor Pos Besar. Mereka berhenti di beberapa tempat untuk berorasi dan membagikan selebaran.

Juru bicara aksi, Jons, dalam pernyataannya pada wartawan mengungkapkan, agar masyarakat melakukan pembangkangan sipil pada elite, kekuasaan, tirani yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil. Indonesia sebagai negara damai telah tergadaikan dan kepentingan modal mengeksploitasi alam tanpa memikirkan kelestariannya.

''Kami meminta masyarakat dan negara-negara dunia ketiga melakukan pembangkangan sipil terhadap negara maju. Merekalah (negara-negara maju-Red), dalang dari kehancuran bumi ini, seolah-olah hanya mereka yang punya,'' tandasnya.

Demonstran berhenti beberapa lama di DPRD DIY dan meminta wakil rakyat yang peduli pada lingkungan keluar dan ikut dalam aksi. Namun tak ada satu pun yang bergabung dengan pengunjuk rasa, hanya melihat dari kejauhan. Dari sana, aksi berlanjut di perempatan Kantor Pos Besar.

Demonstrasi kali ini tidak menyinggung nama Presiden Megawati dan Wapres Hamzah Haz, karena beberapa waktu terakhir ini sejumlah elemen mendapat ''ancaman'' dari orang-orang tak dikenal agar tidak menyebut-nyebut kedua nama itu dalam aksi.(D19-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA