logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 23 April 2003 Jawa Tengah - Muria  
Line

Grenengan

Benarkah Pejabat Terkotak-kotak

SETELAH sekian lama tak pernah diusik, belakangan ini muncul serangan tiba-tiba dan ada kesan membabi buta terhadap jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Blora. Celakanya, serangan kali ini justru membias luas. Tidak lagi sekadar bicara masalah aturan dan perundang-undangan yang berlaku, melainkan disertai isu tentang posisi Sekda yang secara otomatis sebagai ketua Baperjakat, sehingga dalam penataan SOT di lingkungan Pemkab Blora telah menimbulkan kesan "Patiisme".

"Menyusul terjadinya pageblug, tidak kalah ramai menjadi pembicaraan saat ini adalah situasi di lingkungan Pemkab Blora yang "panas", menyusul adanya pemberitaan yang menyebut-nyebut tentang kelompok "Patiisme"," komentar Dharmo Kenthul yang mengaku mendengar penuturan langsung dari beberapa pejabat tentang efek pemberitaan itu.

"Mosok, bila memang benar, kapan situasi Blora tidak mboseni alias tidak njelehi?" tanyaku seolah tak percaya. Memang sejak "musibah" menimpa diri ini, aku sengaja menghindar dari permasalahan-permasalahan yang sebenarnya tidak bermutu. Aku sengaja memosisikan diri sebagai jurnalis yang objektif, independen, dan tanpa prasangka. Berteman boleh, tetapi jangan sampai aku dimanfaatkan oleh kelompok tertentu.

"Benar, Kang. Saat ini praktis muncul kotak-kotak antara lain para pejabat di Blora, dan bila situasi ini tidak segera disikapi akan menimbulkan kerawanan. Terlebih, bisa jadi nantinya pejabat itu tidak lagi memikirkan, bagaimana dia berkarier tetapi sibuk bersikap akan ikut kelompok mana," jawab Kenthul bersemangat.

Seperti biasanya, Bang Jabat, sohib yang memang bernasib mujur sehingga saat ini menjadi punggawa pemerintah kelas pejabat nyrambul, "Ya memang benar situasi yang terjadi memang seperti itu. Bangeten iku yo wartawane. Meski sebenarnya realitas yang ada sedemikian adanya, tidak pernah ada kelompok-kelompok yang posisinya tersingkir mempermasalahkan hal itu."

***

Mendengar kalimat seolah-olah menyalahkan wartawan, sontak aku berontak. Meski dia sudah mengerti bagaimana kerja seorang jurnalis, kepada Bang Jabat kembali kujelaskan, tugas wartawan sekadar melaporkan kenyataan."Begitu, Lek, jangan asal menyalahkan wartawan," protesku.

Aku jelaskan munculnya berita tentang jabatan Sekda yang dinilai sudah menyalahi aturan, kemudian muncul isu "Patiisme", karena ada sekelompok mahasiswa kritis yang mempertanyakan baik secara lisan maupun tertulis. "Karena itu, jangan menyalahkan wartawan. Persoalannya, sekarang sudahkah berimbang pemberitaan itu. Artinya, konfirmasi dari pihak-pihak yang merasa disudutkan, sudahkah dilakukan?" tanyaku

"Ya embuh, sing jelas dengan munculnya pemberitaan seputar jabatan sekda, isu "Patiisme", situasi di lingkungan pejabat Blora saat ini "panas". Bila mengaku orang Blora dan mempunyai kepedulian terhadap Blora, hendaknya bisa bersikap bijak dan mau ngempake teori jusnalisme damai," sergah Bang Jabat.

Merinding juga aku mendengar bantahan demi bantahan Bang Jabat. Apalagi, ada seorang pejabat di lingkungan Pemkab yang kebetulan juga asli Blora dengan nada agak tinggi menyatakan munculnya pemberitaan itu praktis sama saja menceritakan memang di Blora ada kelompok yang disebut "Patiisme". Padahal selama ini kebetulan beberapa pejabat yang asli Blora tidak pernah mempermasalahkan itu dan berprinsip, penataan SOT memang benar-benar memperhitungkan asas prestasi, kepangkatan, loyalitas, dan senioritas. "Wis saiki kari kowe, saya harus bersikap piye. Berarti memang selama ini ada sekelompok pejabat dari daerah tertentu yang sengaja membuat kelompok tersendiri," ungkap pejabat itu.

Yakin bila pertanyaan itu kujawab, pejabat itu akan lebih muntab, aku hanya terdiam. Namun di balik keterdiaman itu, aku kembali merinding manakala mendengar informasi bahwa dalam waktu dekat akan ada gerakan dari sejumlah pejabat asli Blora untuk membentuk semacam forum silaturahmi. Dalam hati pula saya mempertanyakan, apa-apaan itu kok situasinya semakin runyam. Terus bagaimana jadinya bila situasi semacam itu dibiarkan ngambra-ambra? Hanya saja semakin aku ditekan, akhirnya muncul kesadaranku. Prek! Aku wartawan, ada berita aku tulis dan aku berusaha konfirmasi. Titik. Aku tidak akan ikut-ikutan semacam itu, karena memang harus bisa memosisikan diri sebagai pengamat.

Meski demikian, aku berusaha mengorek keterangan dari Bang Jabat, "Sakjane piye, Lek. Menurut kamu, sebaiknya bagaimana?" pancingku.

"Pokoke angel," ujar Bang Jabat singkat.

Meski saya tidak akan menyarankan langsung, sekadar urun rembug dalam rangka mengatasi situasi yang dalam versi Kenthul memanas, kiranya perlu langkah kongkrit dari yang kawogan. Artinya, secepatnya perlu diadakan rembuk akbar untuk menetralkan situasi yang sekalipun meneng-meneng, justru dalam pandanganku memang benar-benar panas.(Urip Daryanto-58j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA