logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 23 April 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Primkopti Pemalang Terancam Bangkrut

  • Anggota Minta RAT Luar Biasa

PEMALANG - Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Pemalang kini dinilai sebagian pengurus dan para anggota terancam bangkrut. Sebab, manajemen koperasi tidak profesional serta pengelolaan usaha berkesan asal-asalan.

Usaha pengadaan kedelai misalnya, kata beberapa anggota, saat ini tidak berjalan baik. Koperasi punya utang ke pihak ketiga dalam pengadaan kedelai Rp 167 juta. Karena tunggakan utang banyak, pengiriman kedelai disetop sebelum utang dilunasi.

Anggota pun harus membeli sendiri bahan baku pembuatan tempe dan tahu itu. Dampak yang lain, banyak karyawan mengangur. Itu tidak hanya terjadi di Kopti Pemalang, tetapi juag di unit-unit di setiap kecamatan.

Sementara itu usaha minimarket merugi Rp 40 juta. Usaha angkutan bus kini terhenti total. Enam unit bus yang masih bisa dioperasionalkan kini terparkir di garasi. Usaha lain yang gagal adalah perintisan pembuatan pompa bensin mini.

Wakil Ketua Risono menyatakan kondisi Primkopti Pemalang memang seperti itu. ''Para anggota ingin mengetahui mengapa terjadi seperti itu. Sebab, dulu usaha Kopti sangat maju,'' kata dia, didampingi sejumlah pengurus lain, kemarin.

Dia mengemukakan akibat persoalan itu para anggota menghendaki rapat anggota tahunan (RAT) luar biasa dengan agenda pergantian pengurus secara total. Pengurus akan diganti yang berkeahlian manajemen dan orientasi bisnis yang maju. Itu untuk menghindari kebangkrutan yang kini mengancam.

Sudah Dilunasi

Persoalan itu pernah diadukan ke Bupati HM Machroes SH pada 28 Oktober 2002. Saat itu mereka menyarankan ke Bupati persoalan diselesaikan lewat RAT. Namun hingga kini RAT belum dilaksanakan dan pengurus lama tetap menjabat.

Ketua H Sulchan menyatakan kini manajemen koperasi masih relatif bagus. Memang Primkopti masih punya utang ke pihak ketiga dalam usaha pengadaan kedelai. Namun itu tidak masalah, sebab nilai jaminan lebih banyak.

Di samping itu kini sebagian utang ke pihak ketiga sudah dilunasi, antara lain utang ke BPD Rp 27 juta. Utang ke Inkopti Semarang Rp 67 juta bisa diperhitungkan dengan kompensasi simpanan Kopti Pemalang yang masih ada di sana.

Usaha angkutan minibus mandek, kata dia, karena para karyawan tak bisa menutup setoran Rp 300.000/hari. Padahal, minibus setiap hari bisa menghasilkan minimal Rp 1 juta lebih.

Adapun pergantian pengurus akan diselesaikan dalam RAT dalam waktu dekat ini. Sebab, rapat anggota adalah pemegang kekuasaan tertinggi koperasi. Pergantian tak bisa dilakukan hanya karena keinginan sebagian pengurus. (sf-20g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA