logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 9 April 2003 Olahraga  
Line

Gozali, Surprise di Ruang Ganti, dan SMS Itu ...

KEHADIRAN mantan Manajer Umum PSIS HB Bahreisy Gozali pada pertandingan PSIS melawan PSPS di Stadion Jatidiri, 30 Maret lalu, boleh dibilang kejutan bagi pemerhati sepakbola Semarang yang menjumpainya. Ketika itu, dia memilih duduk di bangku khusus wartawan peliput (di depan tribune kehormatan).

Yang lebih surprise, seusai kemenangan 5-1, Gozali masuk ke ruang ganti pemain. Tentu saja itu membuat kaget yang ada di sana-Manajer Tim Yoyok Sukawi, Pelatih Daniel Roekito, tokoh sepakbola Simon Legiman, dan para pemain. Kehadirannya memang spontan, tanpa memberitahu dahulu.

Dalam kesempatan tersebut, Simon langsung mendaulat Gozali memberi sambutan. Di antara kata-kata sambutan Dirut PT Gazali Inti International (GII) itu meluncur kalimat, "Atas kemenangan ini, saya tambahkan bonus Rp 15 juta." Karuan saja, pernyataan suntikan bonus itu langsung mendapat aplaus para pemain dan seluruh personel tim.

Ketika PSIS menjamu PSDS Deli Serdang, Sabtu (5/4) lalu, Ketua Bidang Dana itu hadir lagi. Kali ini dia langsung menghampiri ruang ganti pemain sebelum pertandingan dimulai. Kemudian, saat pertandingan berlangsung, dia diajak oleh Sekum PSIS Prijo Anggoro BR duduk di bangku cadangan. Setelah beberapa menit pertandingan berlangsung, hadir Ketua Umum PSIS/Wali Kota Sukawi Sutarip SH yang langsung duduk berdampingan dengan Gozali.

Hingga babak pertama usai, skor tetap 0-0. Susai evaluasi permainan oleh Pelatih Daniel Roekito, Gozali pun tergugah untuk memotivasi pemain. ".... Jika kalian bisa merebut tiga angka dalam pertandingan ini, saya siapkan bonus Rp 20 juta," katanya.

Entah karena rangsangan tersebut lalu motivasi pemain meningkat atau memang faktor lain, faktanya PSIS menang 2-0, sehingga bonus tambahan pun bisa dinikmati Eko Purjianto dkk.

Terlepas dari semua itu, Roekito pun mengakui timnya mendapat dorongan semangat dari pembina organizer kegiatan sosial Gazali Productions tersebut. Roekito tak sungkan menyampaikan terima kasihnya.

Tak Campuri Manajemen

Kehadiran tersebut mau tak mau memang menimbulkan pertanyaan sekaligus harapan. Apa Pak Gozali sudah kembali ke PSIS? Begitu pertanyaan yang muncul di antara para pemain. Seorang ofisial mengirim SMS kepada saya, "Saya ikut senang dan bangga Pak Gozali bergabung lagi."

Harapan seperti itu wajar, mengingat komitmen dan kiprah Gozali di dunia olahraga Semarang dan Jateng tidak diragukan lagi. Dia tercatat sebagai Wakil Ketua KONI Jateng Bidang Dana, pembina PODSI, PBVSI, dan tentu bidang dana PSIS.

Di luar itu, beberapa harapan juga terlontar kepadanya seperti permintaan menjadi Ketua Pengda PBVSI, Manajer Tim Sepakbola Pra-PON Jateng, hingga ajakan dari Ketua Umum PP PBVSI Rita Subowo yang memintanya menjadi manajer tim nasional bola voli ke SEA Games. "Saya kini sedang konsentrasi di KONI Jateng untuk persiapan PON XVI. Jadi semua permintaan itu, untuk sementara tidak dapat saya penuhi," kata ayah tiga anak itu.

Soal harapan dari pecinta, manajemen, dan pemain PSIS? "Saya pun belum bisa memenuhi. Jika saya memberi bonus, itu hanya ungkapan kecintaan pribadi sebagai warga Semarang yang ikut menghargai kerja keras para pemain. Namun, saya tidak mau mencampuri manajemen tim, sehingga saya pun belum bisa menjawab permintaan itu. Bonus yang saya berikan memang khusus untuk pemain dan pelatih, tidak menyentuh manajemen tim," kilahnya.

Sikap Gozali saat ini adalah wujud dari rasa memiliki. Dia merasakan betul perjuangan berat ketika ikut mengantar PSIS kembali promosi pada 2000 dengan tampil sebagai juara Divisi I. "Saya tidak rela jika PSIS harus degradasi. Kunci dari itu tentu kekompakan dan kebersamaan, sehingga tidak ada saling curiga di antara personel tim," katanya kepada para pemain.

Soal penolakan itu benar-benar atau basa-basi, yang tahu persis tentu hanya yang bersangkutan. Namun, segala kemungkinan pun tidak tertutup. Artinya, sikap tersebut masih mungkin berubah sesuai dengan kondisi. Dan, kondisi bisa tercipta secara alamiah, bisa juga melalui lobi dan pendekatan. Faktor lobi inilah yang akan menjadi penentu, apakah manajemen tim bisa merangkulnya untuk terlibat dalam tim atau tidak.

Sebagai seorang yang dikenal dermawan, dia selalu menekankan melakukan sesuatu secara ikhlas. Harus diingat, tingkat ikhlas adalah urusan makhluk dengan Sang Khalik (manusia dengan Allah SWT).

Sementara itu, sesama manusia, sadar atau tak sadar, setiap kita pasti membutuhkan aktualisasi atau dalam istilah Jawa diuwongke. Jadi, kepada siapa pun, ketika mengharap pertolongan, kita harus bisa menghargainya. Kita tidak perlu memuji atau menyanjung, tetapi menempatkannya secara proporsional. (Darjo Soyat-57e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA