
| Rabu, 9 April 2003 | Berita Utama |
AS Tembaki Wartawan Barat
BAGDAD - Seorang wartawan perang Reuters tewas dan tiga lainnya terluka di Bagdad, Selasa kemarin. Sebuah tank AS menembaki hotel tempat para wartawan itu bekerja. Seorang jurnalis Spanyol juga terluka. Juru kamera televisi Taras Protsyuk (35), seorang warga Ukrania yang menetap di Warsawa, meninggal setelah peluru meriam tank AS meledak di Hotel Palestine. Hotel itu menjadi markas bagi sebagian besar media asing, khususnya dari Barat, di ibu kota Irak tersebut. Protsyuk bekerja untuk Reuters sejak 1993, dan telah melakukan liputan di daerah-daerah konflik seperti Bosnia, Chechnya, Afghanistan, dan Kosovo. Samia Nakhoul, kepala biro Reuters di Teluk Persia, dan juru foto Faleh Kheiber (warga Irak) dirawat di rumah sakit karena wajah dan kepala mereka terluka. Para dokter mengatakan luka-luka mereka tidak serius. Koordinator televisi satelit Paul Pasquale (dari Inggris) dilarikan ke rumah sakit lantaran kakinya terluka, tetapi para dokter mengatakan kondisinya tidak membahayakan. Keempat wartawan itu bagian dari tim 18 wartawan perang Reuters yang berada di Bagdad. ''Kami sangat kehilangan atas kematian Taras. Dia menonjol dengan liputan-liputan sangat profesional di beberapa daerah konflik paling keras selama 10 tahun terakhir,'' kata Pemimpin Redaksi Reuters, Geert Linnebank. ''Taras salah seorang jurnalis televisi kami paling berpengalaman. Kepergiannya akan terasa berat bagi rekan-rekan, sahabat, dan keluarga,'' tambahnya. Dikatakannya, komandan Divisi Infantri Ketiga AS di Bagdad telah mengatakan bahwa salah satu tank divisi tersebut memang menembaki sekeliling Hotel Palestine.'' Komandan itu mengklaim, sebuah tanknya menembaki Hotel Palestine sebagai balasan atas tembakan dari hotel tersebut. Linnebank mempertanyakan mengapa pasukan AS menembaki hotel itu, padahal mereka seharusnya tahu hampir semua wartawan asing di Bagdad berbasis di sana. ''Kematian Taras, dan luka-luka yang diderita korban lain, semestinya tidak perlu terjadi,'' katanya. Protsyuk meninggalkan seorang istri dan seorang putra berusia delapan tahun. Dua wartawan Barat lain, Christian Liebig asal Jerman yang bekerja untuk majalah mingguan Focus dan Julio Anguita Parrado asal Spanyol dari harian El Mundo, tewas akibat serangan rudal Irak di daerah Bagdad selatan, Senin. Liebig dan Parrado tewas dalam serangan yang juga menewaskan dua tentara AS, demikian taklimat kedua media massa tempat kedua wartawan itu bekerja, kemarin. Liebig (35 tahun), merupakan sedikit wartawan Jerman yang mendapat izin untuk meliput perang bersama pasukan Amerika Serikats. Al-Jazeera Dirudal Tareq Ayub, koresponden stasiun televisi satelit Al-Jazeera yang berbasis di Qatar, juga tewas akibat luka yang dideritanya dalam serangan rudal pasukan penyerbu AS ke Bagdad. Zuheir al-Iraqi, seorang juru kamera TV itu, terkena serpihan peluru di bagian leher. Ayub (34) seorang Yordania keturunan Palestina, berstatus menikah dan punya dua anak. Dia baru sepekan di Bagdad, setelah meninggalkan basis biasanya di Yordania. Pembawa acara berita Al-Jazeera menuduh pasukan AS dengan sengaja merudal posisi para koresponden Al-Jazeera di Bagdad. Kantor biro jaringan televisi satelit itu di Kabul, Afghanistan, juga dibom pasukan AS pada November 2001 saat berusaha menumbangkan rezim Talib. Namun seorang perempuan juru bicara militer AS menyangkal serangan rudal itu dilakukan dengan sengaja. ''Kami tidak menargetkan Al-Jazeera. Kami hanya mengarahkan sasaran ke target-target militer,'' kata Mayor Rumi Nielson-Green, di markas besar koalisi di Qatar. Abu Dhabi TV, stasiun satelit saingan Al-Jazeera, kemarin mengumumkan bironya di Bagdad juga dihajar rudal AS. Televisi itu menayangkan laporan langsung yang memperlihatkan posisi kamera mereka terus diserang. Stasiun televisi Irak kemarin tidak dapat mengudara, ketika pasukan penyerbu pimpinan AS yang menuju jantung kota Bagdad membombardir antena-antena pemancarnya. Pasukan AS mengisyaratkan, mereka memang sengaja menargetkan sejumlah pemancar televisi. ''Secara jelas kami sampaikan, kami ingin menghancurkan kemampuan Saddam dalam menyebarkan berita-berita bohong,'' kata Mayor Michael Birmingham dari Divisi Infantri Ke-3 AS. Radio pemerintah juga tidak bisa siaran. Tetapi, setelah 20 menit membisu, radio itu kembali siaran, memperdengarkan musik nasional dan lagu-lagu yang memuji Saddam. Al-Jazeera, Abu Dhabi TV, dan TV Irak membuat kesal militer koalisi pimpinan AS, karena terus-menerus menyiarkan berita dan menayangkan gambar-gambar perang secara langsung, yang dianggap koalisi amat merugikan namun menguntungkan Irak. (rtr-ben-30) | |||||