logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 9 April 2003 Berita Utama  
Line

Bagdad Penuh Jebakan Maut

  • Truk-truk Dipasangi Bom
API MENYALA:Api menyala di sekitar Istana Presiden di Kota Bagdad setelah sebuah rudal yang diluncurkan pasukan koalisi menghantam sasaran di sekitar istana itu. Pertempuran masih terjadi antara pasukan koalisi pimpinan AS dan pasukan Irak di Bagdad.(Foto:Suara Merdeka/AFP-55t)

BAGDAD - Orang-orang Irak kemarin coba menghambat gerak maju pasukan koalisi pimpinan AS ke pusat kota Bagdad. Berbagai cara mereka lakukan, antara lain dengan memasang jebakan-jebakan booby trap.

Sumber-sumber militer AS mengatakan, seperti dikutip Reuters semalam, tentara Amerika menemukan beberapa jenis pertahanan inkonvensional.

Misalnya, granat-granat bertenaga roket yang akan meledak jika ada kendaraan musuh lewat, atau truk-truk yang dipasangi bom ditinggalkan di perempatan-perempatan jalan.

Brigjen Vincent Brooks, pati US Army (AD AS) di markas koalisi di Qatar, mengatakan pasukan penyerbu AS diduga akan menemui lebih banyak jebakan maut dalam beberapa hari mendatang.

Kemarin, pasukan AS melancarkan serangan habis-habisan ke gedung-gedung utama Pemerintah Irak di jantung kota Bagdad, hanya selang sehari setelah mereka menduduki istana utama Saddam Hussein di pusat kota itu.

Mereka menggempur dengan senapan mesin, roket, dan mortir. Baku tembak dengan tentara Irak berlangsung sengit sejak sebelum fajar di sekitar kompleks istana.

Namun Menteri Informasi Irak Mohammed Saeed al-Sahaf tetap bersikukuh membantah klaim AS bahwa pasukan koalisi telah berhasil merebut sebagian wilayah Bagdad.

Dia mengatakan kepada para wartawan, Irak akan mengganjal dan menghancurkan para agresor. ''Mereka akan menyerah atau dibakar di dalam tank-tank mereka,'' kata dia (profil Sahaf dapat dibaca di halaman 14).

Pertempuran hebat itu terjadi di tengah-tengah situasi ketidakpastian tentang nasib Saddam Hussein, yang menjadi target bombardir AS, Senin lalu.

Pesawat-pesawat AS mengebom Mansour, sebuah kawasan permukiman di ibu kota, setelah menerima informasi intelijen bahwa Saddam dan kedua putranya kemungkinan berada di tempat itu.

Serangan udara besar-besaran itu dilaksanakan pada pukul 14.00 waktu setempat (18.00 WIB) Senin. Sebuah pesawat bomber B1-B menjatuhkan empat bom kendali presisi, masing-masing berbobot hampir satu ton.

Dilaporkan, sejumlah warga sipil tewas dalam serangan itu, namun tidak ada keterangan sedikit pun tentang nasib Saddam, apakah dia lolos, luka, atau sudah tewas.

Pertempuran berlangsung sengit kemarin pagi. Pesawat-pesawat penghancur tank A-10 terbang berputar-putar di atas gedung Kementerian Perencanaan Irak, dan mengebom gedung itu.

Irak Rontokkan A-10

Pasukan Irak yang kalah persenjataan, kemarin sekali lagi berhasil merontokkan pesawat tempur AS. Kali ini, sebuah A-10 jatuh di dekat Bandara Saddam Hussein yang sudah dikuasai AS. Pilot sempat menyelamatkan diri dengan kursi pelontar.

Dua helikopter serang Apache membombardir sebuah kompleks pemerintahan dengan roket dan senapan mesin. Kompleks bangunan di Bagdad tenggara itu diyakini digunakan oleh pasukan elite Pengawal Republik.

Pesawat-pesawat AS terbang rendah untuk memberikan dukungan udara bagi pasukan daratnya, sementara dua tank bergerak dari sebuah istana Presiden Saddam untuk memgambil posisi dekat jembatan Jumhuriya.

Di seberang jembatan, pasukan Irak memberikan perlawanan gigih. Empat tank tetap berada di dalam kompleks, tetapi ikut terlibat dalam tembak-menembak sengit itu.

Siaran televisi dan radio Irak lenyap dari udara Selasa pagi kemarin, saat terjadi pertempuran. Ratusan warga sipil berusaha melarikan diri dari kota itu.

Reporter BBC Andrew Gilligan melaporkan, meskipun warga Bagdad masih tetap tenang selama pengeboman gencar pada awal peperangan, mereka kini mulai ketakutan begitu pasukan darat Amerika mencapai gerbang-gerbang kota.

Namun, hanya sedikit warga yang memiliki kendaraan atau mobil untuk bisa mengungsi ke tempat lain yang lebih aman.

Kantor berita AFP melaporkan, sedemikian banyak kendaraan lapis baja AS berusaha menerobos masuk ke dalam kota, sehingga terjadi kemacetan lalu lintas. Situasi ini menghambat upaya pertolongan kepada korban-korban terluka.

Palang Merah menyatakan, rumah sakit-rumah sakit di dalam kota Bagdad kebanjiran pasien baru. Akibatnya, rumah sakit kehabisan obat dan juga kekurangan air serta suplai listrik.

Di selatan Bagdad, militer AS menyatakan uji coba lapangan pendahuluan terhadap zat kimia yang ditemukan di dekat kota Karbala, mengindikasikan kemungkinan adanya gas saraf sarin, tabun, dan juga gas mustard.

Pentagon (Departemen Pertahanan AS) memperingatkan, temuan itu baru merupakan hasil awal dan akan dilakukan uji coba laboratorium lebih lanjut.

Sejak invasi ke Irak dimulai, sudah muncul serangkaian peringatan atas ''senapan asap'' milik Irak. Pasukan koalisi curiga pada persenjataan itu, dan mulai mencari keberadaan senjata pemusnah massal Irak.

Sipil Pimpin Basrah

Di Basrah, Irak selatan, militer Inggris kemarin menyatakan telah menunjuk seorang kepala suku setempat untuk menjadi pemimpin sipil di Provinsi Basrah, setelah pasukan yang loyal kepada Presiden Saddam telah terusir.

Juru bicara AD Inggris Kolonel Chris Vernon mengatakan pada suatu konferensi pers di Kuwait, Inggris ingin menyerahkan otoritas hukum dan ketertiban kepada kekuatan polisi Irak yang tersisa, bila pasukan Inggris sepenuhnya telah memantapkan situasi keamanan di dan sekitar kota itu.

''Ini bukan bekas Yugoslavia. Ini bukan Afghanistan. Pada dasarnya, apa yang kita lihat di Provinsi Basrah adalah pemfungsian infrastruktur sipil secara luas,'' katanya.

''Kami telah didekati oleh seorang pemimpin suku setempat, seorang syekh. Saya tidak akan menyebutkan namanya di forum ini, dan komandan-komandan divisi di lapangan bertemu dengannya Senin malam lalu,'' kata Vernon.

''Dia akan membentuk kepemimpinan di dalam Provinsi Basrah, dan kami memintanya untuk membentuk sebuah komite dari komunitas setempat yang mewakili semua masyarakat di sana.''

Di Irak utara, pesawat-pesawat tempur AS membombardir posisi-posisi serdadu Irak di dan sekitar pusat minyak kota Kirkuk. Bombardemen itu merupakan salah satu serangan paling dahsyat di daerah perang yang telah berlangsung 20 hari, kata seorang komandan senior pejuang Kurdi, kemarin.

Mam Rostam, yang memimpin posisi-posisi garis depan pasukan Kurdi Irak di timur kota Kirkuk, mengatakan dia mendengar serangan udara dimulai pada Senin malam dan berakhir pada Selasa kemarin sekitar pukul 10.30 (14.30 WIB).

''Terdengar ledakan-ledakan dahsyat berasal dari pengeboman posisi-posisi Irak di Kirkuk,'' katanya kepada Reuters melalui telepon dari Chamchamal, yang terletak sekitar 35 kilometer di timur Kirkuk.

Dia mengatakan para pejuang ''peshmerga'' yang dipimpinnya menempati posisi-posisi di dan sekitar Qarahanjir, sebuah kota yang belum lama ini ditinggalkan oleh pasukan Irak.

Para pejabat Kurdi Irak mengatakan peshmerga masuk sekitar 10 kilometer ke kota minyak strategis itu, tetapi dibujuk oleh militer AS untuk tidak melancarkan serangan darat.

Kurdi menguasai daerah kantong di Irak utara, yang direbut pasukan koalisi dari kekuasaan Saddam setelah Perang Teluk 1991. Daeerah itu dilindungi pesawat-pesawat AS dan sekutu yang memberlakukan ''zona larangan terbang''.

Turki khawatir, serangan oleh pasukan Kurdi Irak untuk menguasai Kirkuk dan ladang-ladang minyaknya yang luas, dapat mendorong minoritas Kurdi di Turki menuntut hak dan otonomi lebih luas.

Pasukan khusus AS bersama peshmerga dekat Chamchamal dan kota Taqtaq bergerak ke baratlaut, terutama untuk membantu menunjukkan target-target bagi serangan udara AS.

Sementara itu Mosul, kota terbesar ketiga Irak sekitar 165 kilometer di baratlaut Kirkuk, juga telah dibombardir beberapa pekan terakhir. Para pejuang peshmerga bersama sejumlah kecil pasukan AS terlibat pertempuran dengan pasukan Irak sepanjang jalan menuju Mosul.

Militer AS mungkin berusaha mengisolasi kota-kota utama di Irak utara dan benteng-benteng militer Irak, baik dari selatan ke Bagdad maupun dari Bagdad ke selatan.

Peran Vital PBB

Perdana Menteri Inggris Tony Blair kemarin mengatakan, dia dan Presiden AS George W Bush telah sepakat ''akan ada peranan vital'' bagi PBB di Irak pascaperang.

''Kita tentu saja setuju, seperti kami katakan dalam pernyataan bersama, bahwa akan ada peranan vital bagi PBB dalam rekonstruksi Irak,'' kata Blair kepada para wartawan, setelah mengadakan KTT dengan Bush di Irlandia Utara.

Tetapi dia mengatakan, ''Irak baru'' yang akan muncul setelah perang akan dijalankan oleh rakyat Irak sendiri, bukan Inggris, AS, atau PBB.(rtr-ben-gun-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA