
| Rabu, 9 April 2003 | Jawa Tengah - Muria |
GrenenganPendaftaran Anggota KPUSEJAK pencanangan pendaftaran pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan (P4B), belakangan ini yang jadi pembicaraan di beberapa daerah adalah seputar proses pendaftaran calon komisi pemilihan umum (KPU). Di Blora pun, animo orang menjadi anggota lembaga itu cukup besar. Terbukti, hingga hari terakhir pengambilan formulir Senin (7/4) lalu, sedikitnya 100 orang mendaftarkan diri. Di Kabupaten Pati juga tak jauh berbeda. Pada hari ketiga ada 60 orang mengambil formulir. Sesuai dengan kriteria yang ditentukan, orang-orang yang berkeinginan menjadi anggota meliputi PNS, aktivis organisasi profesi, LSM, dan tokoh masyarakat. "Mungkin enak ya jadi anggota KPU? Aku sebenarnya juga ingin mendaftarkan diri," kata Dharmo Kenthul, rekan seprofesi, yang tiba-tiba menceletuk saat saya informasikan bahwa peminat yang mendaftarkan diri menjadi anggota cukup banyak. "Jangan sok ikut-ikutan. Memang sudah tahu kira-kira tugas dan kewajiban anggota KPU? Syukuri sajalah apa yang ada saat ini. Yen tak rasak-rasakke kowe kuwi nggento rongko, tak mau mensyukuri nikmati-Nya. Sudah punya pekerjaan masih ingin yang lain. Itu mengurangi hak orang lain," komentar Bang Jabat, begitu tahu Kenthul berminat menjadi anggota KPU. Muka Kenthul memerah begitu mendengar komentar Bang Jabat . Saya, meski merasakan omongan Bang Jabat kali ini tak enak juga, sependapat dengan pernyataan itu. Sebab, latar belakang keinginan Kenthul memang tidak jelas. Apakah dia ingin berperan dalam kancah pelaksanan pemilu? Atau, sekedar mencari pelarian profesi dan memburu status sosial? Baik. Jika sekadar melengkapi persyaratan administrasi, bagi dia yang sarjana mungkin tak masalah. Namun motivasi dia kok berkesan ikut-ikutan? "Sebenarnya apa yang melatarbelakangi keinginanmu melamar menjadi anggota? Apa mudheng pekerjaan anggota KPU?" tanyaku memancing.
*** Tanpa sadar Kenthul mencerocos, menceritakan keinginannya mendaftar sebagai anggota. Konon, seperti diberitakan koran terbitan Jawa Timur, kata dia, fasilitas yang akan diterima ketua dan anggota cukup menggiurkan. Ketua akan mendapat mobil inventaris dan honor bulanan. "Meski bermasa kerja cuma 5 tahun, dalam penyelenggaraan pemilu yang akan datang bisa dipilih lagi. Dengan catatan, berprestasi bagus," kata dia. "Oh, itu to yang jadi motivasimu jadi anggota? La kok nista temen. Mana idealismu? Kok jadi anggota hanya karena ingin memburu yang begituan," komentar Bang Jabat. Diberondong ejekan menyakitkan, Kenthul tak tersinggung. Seraya tersenyum dia melontarkan pernyataan tak kalah sengit. "Terserah orang mau menilai aku apa saja. Toh orang juga tak tahu bahwa sebenarnya aku mendaftar menjadi anggota sekalian untuk menyelidiki apakah pemilihan anggota benar-benar objektif," ujar dia. "Wah, kalau begini namanya senjata makan tuan. Maksud hati ingin ngerjani Kenthul, malah dia mempunyai serangan balik yang mematikan," gerutu saya. Kali ini Bang Jabat diam termangu. Mungkin dia merasakan betapa sengit serangan rekan seprofesi saya itu. Kalah-kalahe Bang Jabat hanya berkomentar, "Wong kok selawase urip rese. Mbok sekali-sekali berpikiran positif." "Wong sandang-panganku iku berawal dari kecurigaan kok dikomentari macam-macam," bantah Kenthul sekenanya. Sulit memang menilai kedua sahabat itu. Karena itulah, untuk sementara saya menilai mereka sama-sama benar. Selayaknya Bang Jabat berkomentar seperti itu karena tugas yang melekat pada jabatannya. Namun alur pikir Kenthul juga ada benarnya. Dalam rangka kontrol, memberikan pendidikan kepada khalayak, sepatutnya dia berpikiran kritis. Dengan catatan, tidak ditunggangi kepentingan kelompok tertentu. Sekali lagi, Kenthul juga manusia. Suatu saat pasti dia salah atau khilaf. Atau, jangan-jangan tanpa sadar dia telah ditunggangi kepentingan kelompok tertentu? Sebagai sahabat saya hanya bisa mengingatkan. "Sudahlah, Thul, biarkan semua mengalir seperti air. Posisikan diri sebagai pengamat, penilai. Jika kelak ada ketidakberesan, ya bongkar saja ramai-ramai. Kan asyik," saran saya. (Urip Daryanto-58g) |