logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Tajuk Rencana  
Line

Bangsa Ini Terus Dihadapkan Ujian

- Ketika bom Bali meledak tanggal 21 Oktober tahun lalu, kita semua terperanjat. Kita tidak menyangka sama sekali bencana sedahsyat itu bisa terjadi di negeri dengan bangsa yang sangat cinta damai ini. Memang sebelumnya, sejak reformasi bergulir, kehidupan masyarakat kita nyaris tidak pernah lepas lagi dari konflik. Termasuk penggunaan bom. Tempat ibadah, kantor pemerintah, lembaga keuangan, tempat umum, bahkan rumah sakit menjadi sasaran. Harta benda hancur dan korban jiwa pun jatuh. Namun, semua itu masih dalam skala kecil. Sebagai bangsa kita masih yakin, konflik lebih besar yang bisa makin menggoyahkan kehidupan bangsa secara menyeluruh tak akan terjadi. Kita yakin pula bangsa ini akan mampu mengatasi konflik-konflik itu.

- Bom Bali kemudian menyadarkan kita tentang berbagai hal. Bencana itu dilakukan oleh sesama anak bangsa. Bom itu sebenarnya mempunyai sasaran lain, yaitu bangsa Amerika yang dipandang sebagai musuh. Hal itu bisa kita baca dengan gamblang mulai dari rentetan peristiwa 11 September, penghancuran menara kembar WTC di New York dan Pentagon di Washington. Peristiwa kelabu itu berbuntut serbuan oleh AS terhadap Afghanistan, untuk memburu Usamah bin Ladin yang dituding ada di balik teror 11 September. Sumber-sumber Barat, khususnya Washington, kemudian menyebutkan tentang sarang-sarang teroris di negeri ini. Tudingan yang semula sama selalu dibantah. Namun, kasus bom Bali kemudian menyadarkan kita tentang peran Amrozi dkk di negeri ini.

- Yang sangat penting kita catat dari peristiwa tersebut, bencana itu merupakan ujian bagi bangsa ini yang sumbernya justru berasal dari luar. Akibat bencana itu, terus berkelanjutan. Bali dijauhi wisatawan asing. Kehidupan Bali yang gemilang pun menyuram dengan drastis. Baru belakangan ini, turis mancanegara mulai datang kembali. Ada hotel kelas internasional yang tingkat huniannya sudah mencapai 50% sampai 60%, meskipun belum menyeluruh. Masih ada yang harus bekerja keras untuk menjalin dan meyakinkan kembali mitra-mitra kerja samanya di luar negeri bahwa Bali sudah aman. Dan harus dicatat, surutnya Bali membawa dampak suram pula terhadap kawasan wisata lain. Yang paling menonjol misalnya Yogyakarta.

- Namun, selagi turisme Bali baru saja mulai bangkit, AS bersama koalisinya menyerbu Irak. Peristiwa itu lagi-lagi membawa ujian sangat berat bagi bangsa ini. Dampak buruknya bakal menimpa berbagai sektor ekonomi. Di bidang industri dan ekspor bahkan sudah terasa. Sebagai contoh, ekspor tekstil dan berbagai jenis kerajinan ke Timur Tengah, AS dan Eropa mandek. Juga impor bahan mentah untuk industri. Jika perang berkepanjangan, puluhan ribu tenaga kerja di berbagai negara Timur Tengah terpaksa diungsikan ke negara lain atau pulang. Berarti aliran devisa yang cukup besar, yang mereka kirim pulang tiap bulan pun terhenti. Padahal ada isyarat Bush mulai ragu, apakah benar bisa menyelesaikan perang dalam waktu singkat seperti diyakini semula.

- Rentetan itu semua merupakan ujian sangat berat bagi bangsa kita yang sudah dalam kesulitan ekonomi akibat krisis. Kesulitan bakal makin berat jika para pemimpin bangsa, dengan dukungan seluruh rakyat, mengambil langkah antisipasi yang kurang tepat. Perang Irak sekarang saja telah meniupkan udara panas di Tanah Air. Kita semua mengutuk langkah Presiden Bush. Masyarakat bereaksi sangat beragam. Mulai dari unjuk rasa untuk mengungkapkan kecaman keras sampai mengajukan berbagai tuntutan. Ada yang menuntut agar Bush dan konco-konco koalisinya diajukan ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat kemanusiaan, ada yang menuntut agar dubes kita di AS ditarik, Kedubes AS agar ditutup, bahkan ada yang menuntut agar Indonesia menarik diri dari PBB.

- Kita semua bebas mengungkapkan itu semua sebagai wacana. Namun, diharapkan suasana panas itu tidak mendorong ke arah tindakan-tindakan yang malah merugikan kepentingan bangsa. Misalnya tindak kekerasan terhadap objek, instalasi atau industri yang berkaitan dengan AS atau Inggris, sweeping terhadap warga negara tersebut yang bekerja atau berkunjung ke sini dan lain-lain. Seperti pernah kita kemukakan, tindakan semacam itu bisa makin menjauhkan minat para investor, turis untuk berkunjung dan berbagai kepentingan lain. Seharusnyalah kita semua sebagai bangsa, justru mampu mengambil hikmah dari konflik yang mengglobal itu. Bersatu padu kembali menghadapi tantangan, baik dari luar maupun dalam negeri yang sangat berat.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA