logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Tajuk Rencana  
Line

Mengantisipasi Dampak Ekonomi Perang

- Serbuan Amerika Serikat ke Irak dan perang antarkedua negara yang belum jelas akan berlangsung berapa lama, menimbulkan dampak ekonomi yang beraneka ragam dan bereskalasi secara global. Bagi Indonesia dampaknya akan dirasakan cukup berat meskipun kita mungkin akan menikmati windfall profit akibat kenaikan harga minyak dunia. Tetapi sebenarnya kenaikan harga migas tak bisa dinikmati sepenuhnya. Secara neto bisa sama karena pada akhirnya kita juga akan dibuat pusing dengan harga BBM di dalam negeri. Kalaupun harga minyak nanti bisa mendekati 50 dolar AS per barel, sungguh kita belum bisa membayangkan apa akibatnya. Padahal pemerintah sudah menjanjikan untuk tidak lagi menaikkan harga BBM di dalam negeri sampai akhir bulan. Dan pada bulan-bulan berikutnya pun tidak mudah dilakukan.

- Sudah bisa diperkirakan kerepotan APBN tahun ini. Menteri Keuangan Dr Boediono mengatakan belum ada rencana untuk merevisi. Namun, melihat perkembangan yang terjadi dalam hari-hari ini, tampaknya revisi itu bisa jadi dilakukan. Apalagi bila sudah terjadi perubahan pada berbagai asumsi seperti nilai tukar rupiah, harga minyak, laju inflasi serta sukubunga SBI. Secara keseluruhan dampak ekonomi yang akan kita rasakan memang tidak bersifat langsung. Meskipun demikian, pada akhirnya juga akan sama saja karena secara riil perekonomian akan bergerak lebih lamban. Lihatlah berita-berita yang dilansir hari-hari ini mengenai ekonomi. Hampir semuanya bernada negatif dan mengisyaratkan tentang berbagai kesulitan yang bakal dihadapi, terutama karena turbulensi di pasar global.

- Harga emas turun, penyaluran kredit bagi UKM terancam tersendat dan ekspor nonmigas khususnya tekstil ke berbagai negara juga mengalami banyak pembatalan. Apa artinya? Berarti produksi akan menurun dan itu semua akan mempunyai dampak ikutan yang berkelanjutan seperti ancaman pemutusan hubungan kerja atau bahkan ada perusahaan yang gulung tikar akibat kehilangan pasar. Oleh karena itu, dapatlah kiranya situasi seperti ini dianggap sebagai suatu krisis dan pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah koordinatif atau membentuk pusat krisis untuk mengatasi dampak berat akibat perang AS dengan Irak. Tentu perlu dicari alternatif solusinya. Seperti misalnya bagi pengusaha eksportir adalah dengan mencari negara tujuan lain selain Timur Tengah. Mencari negara-negara yang tak terkena dampak perang.

- Tidak hanya Indonesia yang akan menghadapi hal tersebut. Persoalannya bagi kita situasi bertambah berat mengingat sekarang saja masih serba rentan. Pemulihan ekonomi belum tuntas. Dengan kata lain, kondisi kita relatif lebih rapuh bila tak segera diantisipasi dengan berbagai kebijakan. Pada dasarnya dunia bisnis itu harus fleksibel serta dapat menyesuaikan perubahan-perubahan yang terjadi. Demikian juga pemerintah perlu membuat berbagai skenario berikut prioritas masalah yang harus dipecahkan. Dalam situasi yang makin terdesak atau sulit diharapkan segera ada kesamaan visi dan persepsi agar segala permasalahan yang muncul dipecahkan. Bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan antara pemerintah dan dunia usaha, karena pada hakikatnya semua menghadapi masalah yang sama.

- Mumpung belum begitu krusial dan mendesak perlu disiapkan berbagai skenarionya, karena siapa pun belum bisa memperkirakan berapa lama perang akan berlangsung. Bisa singkat tetapi yang lebih mungkin akan berjalan cukup lama. Dalam hal inilah kita akan dihadapkan pada problem yang semakin akut apalagi bila belum disiapkan langkah-langkah pengatasannya. Prinsip help your self semakin berarti, karena siapa yang bisa menolong kita kalau bukan diri kita sendiri. Kalaupun nanti penyaluran kredit agak tersendat karena berbagai faktor, dunia usaha perlu bersiap-siap dengan alternatif solusinya. Dalam ekonomi selalu ada pilihan, termasuk pilihan untuk jalan ke luarnya. Asalkan kita pandai mencari terobosan dan tidak konvensional. Termasuk misalnya dengan membuka pasaran baru untuk barang-barang ekspor.

- Yang perlu dicegah adalah dampak psikologisnya agar tidak terjadi panic buying, kemerosotan kurs rupiah atau terjadinya kenaikan harga-harga barang dan jasa secara berlebihan. Kalau itu yang terjadi bisa lebih gawat. Dalam hal ini pemerintah perlu menyiapkan serangkaian kebijakan dan disosialisasikan kepada masyarakat khususnya dunia usaha. Perlunya agar tidak terjadi dampak psikologis. Apalagi kita tahu pemerintah juga akan mengalami berbagai kesulitan. Orientasi pada pasar dalam negeri serta berkonsentrasi pada pemecahan masalah kita sendiri akan lebih baik daripada kita hanya terkesima dengan perkembangan di luar tanpa berbuat apa-apa. Terkadang situasi sulit justru memperkuat tekad dan menumbuhkan kreativitas. Asal jangan malah membuat kita makin terpuruk.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA