logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Sala  
Line

Cekungan Cinta pun Berlumpur

TERNYATA ada kaitan antara banjir dan tempat memadu kasih di kawasan Jurug, Solo. Saat air Bengawan Solo meluap, Sabtu (22/3) lalu, beberapa pasang lelaki-perempuan yang biasa menjadi ''pelanggan'' Taman Ronggowarsito dan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) untuk tempat kencan, terpaksa gigit jari.

Mengapa? Sebab lokasi terlindung yang sering mereka gunakan bermesraan penuh lumpur. Tempat tersebut berupa cekungan-cekungan dengan luas rata-rata sekitar empat meter persegi. Letaknya pada lahan miring di tepi bengawan. Di pinggir sungai besar sepanjang Taman Ronggowarsito, setidaknya ada 10 buah. Sedangkan di TSTJ lebih banyak lagi, mencapai sekitar 20 cekungan.

Lokasinya memang relatif terlindung dari pandangan masyarakat umum. Sebab dinding tanah di belakang dan samping kanan-kiri cekungan cinta itu tingginya sekitar setengah hingga satu meter.

Di bagian atas dinding pun ditumbuhi semak-semak lebat, sehingga semakin membuat aman tempat berduaan itu dari pandangan masyarakat umum.

Tetapi karena lokasinya lebih rendah dari pada permukaan sebagian besar lahan taman, maka ketika aliran Bengawan Solo meluap, cekungan itu pun terendam air. Saat surut, lapisan lumpur tebal merendam dan mendekam di bagian lantainya.

''Jadi kami terpaksa harus mengeruk dan membersihkan lumpur di tempat-tempat itu, jika air bengawan sudah surut,'' kata beberapa pedagang yang membuka warung di Taman Ronggowarsito.

Dengan cangkul atau peralatan pengeruk lain, mereka pun menyingkirkan lumpur tersebut. Beberapa lainnya, mengguyur dengan air agar sisa-sisanya terbawa kembali ke sungai. Setelah tanahnya kering, lembaran tikar pun digelar.

Pesan Minuman

Lho, kenapa mesti mereka susah-susah mengeruk? Bukankah pasangan-pasangan itu sendiri yang menginginkan lokasi bercinta nyaman dan terlindung? Apakah mereka yang pacaran di tempat itu dipungut biaya?

''Tidak ada yang memungut biaya terhadap pasangan yang berkencan di situ. Tapi biasanya mereka yang berduaan di cekungan-cekungan tersebut, memesan makanan dan minuman pada kami. Maka kalau tempat itu tidak dibersihkan, kami sendiri yang rugi,'' ungkap Mbah Wiryo, seorang pedagang makanan-minuman dan pemilik warung yang sudah puluhan tahun berjualan di Taman Ronggowarsito.

Bahkan para pedagang di Taman Jurug yang lokasi jualannya berdekatan di sepanjang tepian bengawan, menyediakan obat nyamuk selama musim hujan seperti saat ini. Tentu saja agar sejoli terbebas dari gigitan nyamuk, sehingga betah pacaran di cekungan-cekungan yang terlindung rerimbunan semak tersebut.

Ujung-ujungnya, berharap supaya pesanan makanan dan minuman makin bertambah banyak. ''Tapi kalau luapan air meninggalkan lumpur seperti ini ya pengunjung sepi, Mas. Keuntungan turun,'' ujar beberapa wanita tua pemilik warung di TSTJ.

Ketika didesak, berapa pendapatan mereka dari melayani pesanan makanan-minuman para pengunjung taman yang pacaran tersebut, mereka enggan memberikan jawaban. ''Yang jelas kalau cekungannya kering, banyak pengunjung berpacaran di situ. Jadi pendapatan kami lumayan,'' ujar mereka. (Setyo Wiyono-17)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA