logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Sala  
Line

Air Meluap, Pencarian Ladu Terhenti

BENGAWAN SOLO - Luapan air Bengawan Solo ternyata tak hanya membuat susah penduduk di pemukiman daerah rendah yang rumahnya kebanjiran, tetapi juga menjadikan kegiatan pencarian ladu di daerah Jurug, terhenti.

Sejak Sabtu (22/3) lalu hingga siang kemarin, sekitar 15 orang yang biasa bergulat untuk mendapatkan material endapan lumpur sungai tersebut, menghentikan aktivitasnya. Sebab, permukaan air bengawan masih cukup tinggi, dan arusnya masih deras. Beberapa di antara mereka hanya duduk-duduk saja.

''Yah..., bagaimana mau kerja, wong arusnya begitu kuat dan permukaan airnya tinggi. Jadi menunggu airnya surut, baru kami bisa mengambil ladu lagi,'' kata Supardi (54), yang biasa mengumpulkan ladu-nya di sisi selatan Taman Ronggowarsito, Solo.

Warga Kampung Jogobondo, Kelurahan Palur, Mojolaban, Sukoharjo itu setiap hari beroperasi dengan istrinya, Darti (40). Berdua, mereka bisa mendapatkan 3,5 m3, material yang biasa digunakan untuk dasar pemasangan paving block dan tanah penyubur tanaman tersebut. Hasilnya untuk menghidupi keluarga dengan dua anak tersebut.

''Jadi kalau keadaan normal, air Bengawan tidak meluap, setidaknya setiap pagi kami mendapatkan ladu sebanyak satu truk,'' ujar lelaki yang mengaku sudah 30 tahun lebih menggeluti pekerjaannya itu.

Rp 40 Ribu/Rit

Lain halnya dengan Salim (35). Penduduk Kampung Panjangrejo yang masih satu kelurahan dengan Suparti itu, hanya bekerja sendirian. Karena itu, tenaganya hanya mampu mengumpulkan sekitar 2,5 m3 dalam waktu satu hari. Padahal, pekerjaan itu merupakan gantungan hidup dia bersama satu istri dan seorang anaknya.

''Ladu ini biasanya dibeli truk-truk yang mangkal di sini. Harga jual kepada mereka, Rp 40 ribu/rit (3,5 m3). Tapi kalau para awak truk itu menjual kepada orang lain, harganya bervariasi. Kalau mengantar ke pembelinya, hanya dalam Kota Solo, mungkin berkisar Rp 135.000-150.000 per rit. Untuk luar kota lebih mahal,'' ungkapnya.

Keduanya mengaku, sebelum terjadi gerakan reformasi yang sebagian berefek negatif dengan adanyha pelanggaran berbagai tatanan, pekerjaan mereka adalah mencari pasir. Lokasinya di bantaran Bengawan Solo yang terletak di sebelah selatan lintasan rel kereta api, juga di daerah Jurug.

Tetapi beberapa waktu setelah gerakan itu bergulir, sebagian masyarakat yang menyalahartikan reformasi dengan melakukan tindakan seenaknya, mengaplingi lahan eksplorasi pasir mereka. Kini, areal tersebut sudah berubah wajah menjadi permukiman.

Tetapi dengan perubahan kondisi sosial itu, sekarang nasib mereka pun berubah. Keadaan cuaca pun memengaruhi hasil kerja mereka. (D11-17)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA