
| Senin, 24 Maret 2003 | Olahraga |
PBSI Harus Ubah ParadigmaEINDHOVEN - Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) harus mengubah paradigma rekruitmen pemain ke Pelatnas, jika ingin menghasilkan pemain-pemain yang lebih menjanjikan untuk merebut kembali Piala Sudirman, demikian kata Direktur Pelatnas Christian Hadinata. "Mau nggak mau, kita harus mengubah paradigma. Harus ada revolusi, kemauan, keberanian dan kejujuran dalam rekruitmen para pemain ke Pelatnas. Yang masuk Pelatnas tidak harus selalu mereka yang juara nasional, postur harus diperhatikan," katanya di Eindhoven, Minggu. Ia menyadari, pola pikir klub, Pengda dan beberapa praktisi bulutangkis masih menggunakan paradigma lama. "Mereka berpikir, siapa yang sering juara di kompetisi nasional harus masuk Pelatnas," katanya. Padahal, kata dia, tidak harus demikian. "Kita harus lihat trend permainan lawan dalam kompetisi internasional. Tipe-tipe yang cocok dengan postur-postur yang cocok pula," katanya. "Lihat pemain-pemain Cina, Korsel, Denmark, bahkan Hongkong dan Taiwan. Postur mereka tinggi, gerak kaki mereka bagus," katanya. "Jika paradigma tidak diubah untuk mengikuti trend gaya permainan lawan-lawan kita, saya yakin kita akan tetap lemah di sektor putri dan tetap saja sulit untuk merebut Piala Sudirman atau Piala Uber," katanya. Ia mengatakan, "Saatnya klub-klub, Pengda dan PBSI duduk bersama untuk menyepakati paradigma baru itu, sehingga saat seleksi di klub, mereka juga menggunakan ukuran-ukuran dengan paradigma dan trend saat ini," katanya. "Terutama klub, jika tidak ada kesepakatan untuk menggunakan paradigma baru. Indonesia ya tetap seperti gini-gini saja," kata manajer tim Piala Sudirman Indonesia itu. (ant-57) |