
| Senin, 24 Maret 2003 | Berita Utama |
Lagi, Kedubes AS Diserbu Pendemo
JAKARTA-Gelombang aksi demo menentang invasi ke Irak oleh AS terus berlanjut. Bahkan kalangan kader partai pun sudah mulai turun ke jalan. Kemarin, ratusan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berunjuk rasa di depan Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Jakarta. Mereka datang menggunakan puluhan sepeda motor dan sejumlah mobil. Dalam aksinya, puluhan spanduk dan poster yang mereka rentangkan bertuliskan: ''Bush = Dajjal, Semoga Allah Memasukkan ke Neraka Jahannam'', ''Bush Is The Real Terrorrist', ''Bush, Blair, kalau Lu Berani, Jangan Keroyokan, Dong!'' Mereka juga mengibarkan bendera-bendera PPP dan Gerakan Pemuda Kakbah (GPK). Di samping itu, ada sebuah spanduk besar berwarna hijau bertulisan: ''Amerika Agresor, Seret Bush, Blair, Howard, dan Jose Maria Aznar ke Mahkamah Internasional''. Menurut pengamatan, aksi massa parpol itu sempat menutup Jalan Medan Merdeka Selatan yang mengarah ke Jalan MH Thamrin. Dalam orasinya, Ketua Fraksi PPP DPRD DKI, Ridho Kamaluddin, menegaskan kepada pemerintah untuk segera memutuskan hubungan diplomatik dengan AS. Dia bahkan meneriakkan, ''George Bush, George Bush''. Lalu dibalas oleh para kadernya: ''Mampus, mampus!'' Tuntutan keras itu, menurut Syarif Zulkarnain, salah seorang ketua DPW PPP, karena AS yang tidak mendapat mandat dari PBB tetap menyerang Irak. Selain orasi, para orator meneriakkan takbir ''Allahu Akbar'' di atas pembatas beton di depan pagar kawat berduri, yang membatasi peserta aksi dengan Kantor Kedubes AS. Selama jalannya aksi demo, aparat keamanan berjaga-jaga. Bahkan, polisi menerjunkan anggotanya sebanyak empat SSK (satuan setingkat kompi) dari Polda Metro Jaya. Beberapa pengunjuk rasa sempat membakar poster-poster yang mereka bawa di atas pagar kawat berduri. Berbagai Ormas Sebelumnya demo menentang serangan AS terhadap Irak di Kedubes AS juga dilakukan beberapa organisasi massa, seperti Garda Keadilan, Front Pembela Islam (FPI), dan Serikat Mahasiswa Jakarta. Dalam aksinya, seribuan orang dari Garda Partai Keadilan membawa bendera partai dan spanduk-spanduk menentang serangan AS dan sekutunya. Mereka umumnya dari kaum perempuan berpakaian muslimah, dan anak-anak. Beberapa saat kemudian puluhan orang dari Front Pembela Islam juga turut bergabung dalam aksi tersebut. Setengah jam kemudian puluhan anggota Serikat Mahasiswa Jakarta bergabung. Mereka berorasi dan menyanyikan yel-yel mengecam invasi AS ke Irak. Mereka juga meminta hubungan diplomatik dengan AS dan sekutunya, yaitu Inggris dan Australia dihentikan. Beberapa jam kemudian atau sekitar pukul 12.30 WIB, mereka membubarkan diri. Sebagian meninggalkan Jalan Merdeka Selatan, namun sebagian lagi masih bertahan di seputar Kedubes AS yang dipenuhi para pedagang kaki lima. Mereka yang masih bertahan adalah kelompok FPI, karena massanya akan berdatangan lagi ke lokasi demo. Sebelum membubarkan diri, massa dari berbagai ormas itu sempat membakar boneka Presiden AS George W Bush. Dalam waktu sekejap, boneka dari kain seukuran manusia dewasa itu habis terbakar. Pembakaran boneka itu merupakan bagian dari aksi yang digelar di depan Kedubes AS. Aksi unjuk rasa menentang serangan AS ke Irak itu berlangsung sejak pukul 10.00 WIB. Bersamaan dengan pembakaran boneka, dibacakan pernyataan bersama dari berbagai elemen yang tergabung dalam aksi. Dalam pernyataan itu disebutkan, sedikitnya ada 4 alasan mengapa perang harus dihentikan. Pertama, serangan AS ke Irak tidak mendapat alasan konstitusional internasional yang mengabsahkan. Kedua, apa pun alasannya perang merupakan wujud kekalahan kemanusiaan atas nafsu eksploitasi kepada sesama manusia. Ketiga, perang bagaimanapun akan lebih mengorbankan masyarakat sipil dan lebih memperburuk kondisi mereka, ketika mendapatkan embargo ekonomi. Keempat, bagaimanapun keberadaan adidaya tunggal tidak boleh ada di tingkat internasional, karena akan menciptakan ancaman dominasi dan hegemoni atas negara Irak yang pada gilirannya akan melemahkan bangunan kebudayaan dan peradaban di sebuah bangsa merdeka. Siaga I Aksi penyerbuan Amerika ke Irak juga mendapat reaksi keras warga Kota Malang. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI Malang, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), UAKI Unibraw dengan beberapa masyarakat melakukan aksi menolak perang dan anti-USA, di depan kampus Unibraw. Mereka juga menggelar teaterikal yang intinya mengecam pemerintahan AS dan sekutunya. Mahasiswa menilai penyerangan itu jelas-jelas melanggar dan menghancurkan perdamaian dunia. "Kami mengutuk sekeras-kerasnya tindakan AS dan koalisinya yang sama saja dengan sebuah premanisme dunia," ungkap juru bicara KAMMI David. Di Singosari, Kabupaten Malang, sekitar 500 anggota Gerakan Pemuda Ansor turun ke jalan. Sebelum longmarch di sepanjang jalan, massa melakukan istighotsah dengan para santri dari berbagai pesantren di Singosari. Massa yang sebagian menggunakan atribut dan pakaian putih-putih itu sempat membakar bendera AS dan Inggris sebagai bentuk kebencian terhadap dua negara tersebut. Kedua bendera itu dibakar beramai-ramai di pinggir jalan. Sementara itu, berdasarkan perintah Kapolda seluruh jajaran kepolisian di Jawa Timur dinyatakan sebagai Siaga I. Hal ini dampak dari penyerangan AS dan sekutunya ke Irak yang dikhawatirkan berimbas ke wilayah Jatim, khususnya Kota Malang. Penerapan status Siaga I sebagai langkah polisi untuk berjaga-jaga atas berbagai kemungkinan dampak sampingan yang muncul di Indonesia, termasuk di Malang. Kapolresta Malang AKBP Fatkhur Rachman SH MM Sekalipun dia tidak bisa menyebutkan indikasi adanya peningkatan status menjadi Siaga I, kata Kapolresta, paling tidak sebagai tindakan untuk harus selalu waspada agar Malang tetap dalam kondisi kondusif bagi kegiatan seluruh masyarakat. Untuk pengamanan status ini, Polresta menurunkan 200 personel. Mereka ditempatkan di beberapa lokasi yang erat kaitannya dengan citra Amerika. Misalnya, Mc Donalds, Dunkin Donut's, dan KFC. Pusat-pusat perdagangan juga akan menjadi sasaran penjagaan jajaran polresta. Termasuk aset-aset yang dinilai memiliki keterkaitan dengan pihak Amerika. Hotel-hotel pun termasuk bagian yang dijaga aparat kepolisian. Di setiap lokasi ditempati satu unit petugas jaga yang terdiri atas lima personel polisi dengan sifat pengamanannya tertutup dan terbuka. Sekali pun belum ada pengaturan tentang pengamanan di tempat-tempat ibadah, nanti juga akan difungsikan petugas patroli untuk ikut mengamankan. Untuk pengamanan orang-orang asing yang ada di Malang, menurut AKBP Fatkhur Rachman, saat ini mereka sudah banyak yang pulang ke negaranya. Selain karena telah habis masa kontrak kerjanya juga ada yang paspornya telah habis masa berlakunya. Aksi Boikot Sementara itu, kalangan pengusaha mulai melakukan boikot terhadap produk-produk yang berlabel Amerika. Salah satu pengusaha yang mulai melakukan boikot itu, yakni Grup Gama yang bergerak dalam bidang ayam goreng, resto, printing, dan belanja ini, mulai melakukan penolakan dan tidak lagi menggunakan, membeli, dan menjual semua produk buatan AS dan Inggris. Semua produk yang diboikot mencakup makanan, minuman botol, dan rokok. Juga produk peralatan audio dan audio visual, termasuk VCD, CD, kaset, dan MP3. Pokoknya, semua produk yang berbau AS. Mulai pakaian, aksesori, dan handphone, kami tak akan memakainya. Selama ini, di ayam goreng Gama bumbu-bumbu menggunakan produk dari AS. Karena itu, setelah AS bertingkah dengan melancarkan serangan ke Irak, grup Gama akan menggunakan produk lokal. Menurut Humas Grup Gama, Bachtiar Djanan M saat ditemui baru-baru ini langkah yang telah dilakukan Grup tersebut diharapkan diikuti baik secara individu maupun kelompok. "Tentu bagi masyarakat yang seide, yang cinta perdamaian, perikemanusiaan, dan ketuhanan," harap Bachtiar. Alasan pemboikotan, lanjut Bachtiar, sebagai tindakan protes terhadap Amerika Serikat yang menyebabkan hancurnya perdamaian di Timur Tengah serta seluruh dunia. Juga sebagai solidaritas terhadap sesama umat manusia. "Penyerbuan Amerika beserta kroni-kroninya merupakan tindakan sewenang-wenang dan merupakan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Berapa nyawa orang tak berdosa, termasuk anak-anak, akan menjadi korban, juga kerugian materiil, nonmateriil yang terbuang sia-sia demi melegalisasi sebuah aksi kekerasan," kutuk Bachtiar. Bakar Bendera AS Ribuan orang Islam Pekalongan Minggu kemarin melakukan demo di alun-alun Kota Pekalongan untuk mengutuk Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang membombardir Irak. Dalam aksinya mereka membakar bendera AS, Inggris, dan Israel. Demo itu dilakukan anak-anak, ibu-ibu, ulama seperti KH Aqib Abu Bakar, KH Masud Irfan, dan KH Yaskur Tasrib sekaligus menggelar aksi solidaritas untuk rakyat muslim Irak dan mengutuk kedholiman yang dipertunjukkan AS. Aksi itu diikuti berbagai macam ormas, OKP, dan partai Islam seperti HMI, FPI, Laskar Ababil, PPP, PBB, Partai Keadilan, dan para siswa-siswi SLTP Salafiyah Kauman. Bahkan, sejumlah anggota DPRD dan Kepala Depag serta Kepala Kesbang Linmas juga terlihat di antara massa demonstran. Aksi dimulai pukul 10.00, yaitu massa membawa berbagai macam spanduk dan poster yang isinya mengecam AS dan sekutunya. Mereka bergiliran menyampaikan orasi dengan disaksikan massa. Tampak ikut memberikan orasi yakni Habibi dari HMI, Imam Nuh (PK), Harjo Utomo (Laskar Ababil), Ketua Depag Drs H Abdul Fatah, H Mahmud Masykur (Wakil ketua DPRD), Ustad Said Sungkar, dan Yuli dari FPI. Pimpinan ormas/parpol itu mengajak umat Islam di Pekalongan memboikot semua produk Amerika. Alasannya, membeli barang atau minuman dan makanan produk AS dan Inggris berarti ikut membantu membasmi umat Islam di dunia. ''Mari kita boikot semua produk AS dan Inggris serta sekutunya yang selalu membunuh ribuan orang Islam di belahan bumi ini. Jika umat Islam membeli makanan atau minuman produk AS berarti membantu negara Yahudi membungkam Islam,'' ujar Ketua MPC (Majelis Pertimbangan Partai) PPP KH Abdurrahman Thobari disambut hangat ribuan orang Islam. Akhir dari aksi itu, mereka membakar bendera kebanggaan AS dan Inggris serta Israel. Setelah itu massa membubarkan diri. (bu, jo,A15-64,16t). |