logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Amerika Mulai Garap Ladang Minyak Irak

KOTA KUWAIT - Makin tampak bahwa tindakan perang AS bermotif antara lain penguasaan sumber minyak Irak. Pasukan AS dan Inggris Minggu kemarin memperkuat cengkeraman atas kawasan ladang minyak di Irak selatan.

Mereka mulai mengkaji berbagai cara untuk memulai kembali ekspor minyak dari ladang-ladang di kawasan itu. Sumber minyak di tempat itu mensuplai lebih dari separoh produksi minyak negeri itu.

Namun, ladang minyak di Kirkuk, Irak utara, masih tetap dikuasai Irak. Sehingga, Washington belum dapat dikatakan mencapai tujuannya untuk, dalam versi AS, mengamankan miliaran barel cadangan minyak atas nama rakyat Irak.

Kepentingan AS

Misi perang AS dipandang dengan penuh kecurigaan oleh berbagai pihak. Sebab, berbagai negara menganggap perang Irak sebagai upaya AS untuk mengamankan pasokan minyak murah dari negara pengekspor minyak terbesar ketujuh di dunia ini.

Seberapa cepat pasokan minyak mengalir kembali dari sumur-sumur di Irak selatan sangat tergantung pada kondisi infrastruktur pengiriman. Kesiapan infrastuktur ini belum dikaji oleh tim Boots dan Coots International Well Control dari Texas, yang dikontrak AS.

Namun, militer AS menyatakan fasilitas-fasilitas untuk 85 persen operasi ladang minyak di kawasan selatan itu dalam keadaan aman.

Irak sebagai produser minyak anggota OPEC mengekspor sekitar 1,8 juta barel per hari di bawah pengawasan PBB. Sekitar 60 persen dari volume itu berasal dari ladang minyak di selatan.

Para dealer akan diberi jaminan kembali bahwa terminal ekspor Irak di Mina al-Bakr akan dapat mensuplai setelah dikuasai tentara Inggris.

Tampaknya hanya terjadi kerusakan ringan di ladang-ladang tersebut. Tim pemadam kebakaran sedang berjuang memadamkan api dari sejumlah sumur minyak di ladang Rumaila, sumber utama di kawasan selatan dan mensuplai pasokan untuk terminal ekspor Teluk.

''Dalam tiga puluh sampai 45 hari ini, semuanya akan beres,'' kata pemimpin tim kontraktor AS yang ditugaskan memadamkan kebakaran.

AS memperkirakan, jumlah sumur minyak yang sengaja dibakar oleh Irak kurang dari 10 buah, hanya bagian kecil dari 500 sumur minyak di Rumaila.

Pasukan Irak sengaja membakar sekitar 700 sumur minyak di Kuwait saat Perang Teluk 1991. Upaya pemadaman api ketika itu memakan waktu berbulan-bulan.

Washington juga cepat-cepat merangkul ahli-ahli minyak Irak, karena keahlian mereka sangat penting untuk memulihkan kembali ladang-ladang minyak berkandungan miliaran barel minyak mentah. Sumber militer AS mengatakan, mereka masih membujuk para ahli minyak Irak untuk terlibat.

Irak masih mempertahankan ladang minyak Kirkuk, salah satu ladang minyak tertua dan terbesar di dunia, di kawasan Irak utara.

Perwira militer AS mengatakan, tidak ada aksi pembakaran atas ladang minyak berusia 76 tahun itu. Kirkuk mampu mensuplai sampai 900.000 barel per hari dan memasok sekitar 40 persen ekspor Irak.(rtr-gn-52)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA