logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Analisis Berita

Perang Darat, AS Repot

BILA Irak mampu bertahan atau meminimalkan kerugian akibat serangan udara dahsyat AS yang diperkirakan jauh lebih hebat dari perang ''Badai Gurun'' (1991), maka perang darat yang ditunggu-tunggu pasukan dan sukarelawan Irak pasti berlangsung seru.

Tidak hanya sampai di situ. Presiden Irak Saddam Hussein juga perlu memperhitungkan pembangkangan dari tentaranya terhadap rezim dan serangan balas dendam pasukan Kurdistan di wilayah utara Irak.

Bila kedua hal itu terjadi, besar kemungkinan perang darat tidak akan seru. Sebab, semangat tempur pasukan dan sukarelawan Irak bakal anjlok dan besar kemungkinan rezim Saddam segera tumbang seperti rezim Talib di Afganistan.

Dua hal itulah yang dikhawatirkan banyak analis Arab. ''Bila perang darat dimulai, AS diperkirakan akan repot menghadapi perlawanan pasukan dan rakyat Irak. Namun yang dikhawatirkan, bila terjadi pembangkangan atau serangan balas dendam dari pasukan Kurdistan,'' papar pakar strategis Arab Dr Musthafa Al Ani.

Jika pembangkangan pasukan Saddam terjadi, ujar dia, justru AS akan mengambil manfaat sangat besar. ''Perang kilat yang dicanangkan benar-benar bisa sukses sesuai dengan rencana semula tanpa banyak korban di pihaknya.''

Karena itu pula, Dr Hisham Al-Ayuobi yang juga analis strategis Arab mengemukakan, serangan awal mengejutkan dengan rudal Tomahawk pada Kamis (20/3) bisa jadi merupakan pesan kepada tentara dan rakyat Irak agar ikut membantu segera menjatuhkan Saddam.

''Tentunya serangan seperti ini bukan untuk target penghancuran basis militer, tapi lebih ditujukan ke target pimpinan Irak sebagai pesan agar tentara dan rakyat bisa membantu menjatuhkan rezim Saddam dan AS tidak terkesan sebagai agresor.''

Sebar Pamflet

Sejak krisis Irak memuncak, AS telah menyebarkan sekitar 17 juta pamflet kepada tentara Irak agar tidak melakukan perlawanan. Gelombang radio Irak pun diambil alih pasukan AS pada serangan hari pertama dan dijadikan corong propaganda anti-Saddam.

Bila skenario pembangkangan dan serangan balas dendam Kurdistan urung, maka kemampuan Irak harus bertahan menghadapi serangan udara dahsyat AS dan Inggris.

Selain itu, Irak melawan AS-Inggris dengan menerapkan strategi perang darat yang juga melibatkan pasukan berani mati -yang oleh warga Arab disebut istisyhadiin (pasukan mati syahid)- bisa berperan besar.

Wapres Irak Taha Yassin Ramadhan secara terang-terangan menyatakan negaranya sudah tidak memiliki senjata pamungkas lagi seperti rudal jarak jauh, senjata kimia atau biologi. Namun dia menyatakan Irak memiliki ''senjata baru'', yakni istisyhadiin.

Meskipun jumlah mereka tidak diketahui, diperkirakan ribuan orang yang terdiri atas tiga kelompok. Kelompok pertama adalah istisyhadiin resmi yang dibentuk oleh angkatan bersenjata.

Kedua adalah kelompok semiresmi yang direkrut dari pasukan artileri dan pertahanan udara dengan mendapat pelatihan khusus dan telah diawasi langsung oleh mantan Menteri Pertahanan Irak Jenderal Adnan Kherullah.

Pada 1992, putra sulung Saddam, Uday, membentuk milisi bernama Fidaeyu Saddam (Pasukan Berani Mati untuk Saddam) yang direkrut dari kawula muda Irak. Mereka digaji tinggi dan mendapat fasilitas yang serba wah.

Pada hari pertama serangan AS, Kamis (20/3), putra lain Saddam, Qusai, telah menginstruksikan pasukan Fidaeyu untuk mulai beraksi termasuk di luar Irak.

Kelompok Kedua

Dari tiga kelompok tersebut hanya kelompok kedua yang pernah terbukti perkasa melawan musuh saat perang Irak-Iran. Kelompok itu banyak berjasa, terutama dalam pertempuran di medan yang sangat sulit.

Sementara itu dua kelompok lainnya tak lebih dari sekadar pengawal Saddam dan keluarganya serta ketangguhannya belum terbukti.

Pembuktian pertama justru bila perang darat melawan AS-Inggris benar-benar terjadi.

Ibrahim Al-Mar`asyi mengemukakan, pasukan berani mati Irak tidak sama dengan istisyhadiin Palestina dari faksi Hammas atau Al-Jihad yang semata-mata ingin mati syahid membela tanah air dan mencari rida Allah.

''Kamikaze Irak muncul semata-mata untuk melindungi rezim,'' ucap peneliti Irak yang sekarang bermukim di AS itu kepada mingguan Arab Al-Majalla.

Namun bisa jadi dari ratusan atau bahkan ribuan, sukarelawan Arab yang masuk ke Irak sejak krisis memuncak beberapa bulan lalu ada anasir dari Hammas atau Al-Jihad Palestina yang didatangkan untuk melatih mereka.

''Yang jelas bila perang darat terjadi, pasukan kamikaze Irak tidak ada pilihan selain bertempur habis-habisan membela rezim ketimbang ditangkap pasukan AS atau rezim pengganti Saddam,'' papar Ibrahim lagi.

Namun, AS dibantu sekutu dekatnya, Inggris dan Israel, tentunya tidak akan tinggal diam menghadapi kemungkinan bertempur dengan apa yang disebut ''pasukan bunuh diri itu''.

Sejumlah pengamat memastikan, Washington akan menimba pengalaman berharga dari Israel. Negeri zionis itu disebut berhasil menghadapi apa yang mereka sebut ''kelompok bunuh diri Palestina'' dengan melakukan serangan dini terhadap basis-basis yang dicurigai menjadi tempat persembunyian kelompok tersebut, kendati menimbulkan korban jiwa besar di kalangan sipil.

AS benar-benar miskin pengalaman melawan pasukan berani mati di darat, karena pernah menderita korban besar ketika 230 orang tewas di kalangan pasukan marinir di Lebanon, dan belasan tewas ketika menghadapi pasukan Somalia.

Terlepas dari itu semua, bila Irak mampu bertahan menghadapi serangan udara yang sangat hebat dan menarik pasukan darat AS berperang di daratan atau perang kota, maka pasukan berani matinya Saddam dibantu jutaan sukarelawan, minimal bisa mengimbangi.

Meskipun demikian, Irak tak bisa dikatakan akan menang dalam pertempuran. Namun paling sedikit, dapat memperpanjang masa peperangan yang bisa menimbulkan korban besar di kubu pasukan AS, sehingga memaksa negeri adidaya itu mendengar desakan internasional untuk menghentikan perang.(ant-31j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA