logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Kurma Ajua, Kurma Kesukaan Rasul

NAMPAKNYA sepele, tetapi masalah buah tangan (oleh-oleh-Red) bisa bikin pusing jamaah haji. Mereka bingung harus beli apa. Sebab, buah tangan memang mempunyai kreteria tersendiri.

Harganya kalau bisa jangan terlalu murah, tetapi juga jangan terlalu mahal. Yang penting cukup berharga bagi yang menerimanya. Maka, yang ideal buah tangan berupa barang atau makanan yang khas dari daerah tujuan. Repotnya, apa itu buah, makanan atau barang yang ada di Arab, hampir semua tersedia di Tanah Air.

Namun, rasanya tidak puas, kalau tidak beli di Tanah Suci. Nah, kalau kita mau sedikit telaten, masih ada juga produksi khas Tanah Suci, yang belum banyak dijum;pai di Indonesia. Kalau pun toh ada, masih relatif langka.

Air Zam-zam

Misalnya, air zam-zam. Di samping langka, harganya di sini mahal seperti diungkapkan di atas. Padahal di sana, air ini mudah didapat dan gratis. Bahkan pemerintah Arab Saudi mengedrop air zam-zam ke maktab-maktab setiap harinya mencapai 1,5 juta kemasan. Dengan demikian jamaah bisa mengonsumsi air ini dengan mudah. Tidak harus mengambil dari sumur zam-zam yang ada di Masjidil Haram.

Banyak handai taulan di Tanah Air yang sangat mengharapkan mendapat air yang diyakini bermanfaat sebagai obat berbagai macam penyakit. Dalam hadis nabi disebutkan, air mulia itu bisa menghilangkan lapar dan dahaga. Cara meminumnya, harus menghadap kiblat dan meminum tiga kali tegukan yang diselingi dengan ambil nafas. Sebelum minum membaca basmalah dan diakhiri dengan alhamdulillah. Kalau mengikuti sunah rasul, beliau meminum zam-zam sambil berdiri, seperti diriwayatlah oleh Abdullah bin Abbas.

Kurma Ajua

Arab, memang dikenal penghasil kurma. Di Semarang, juga ada kurma. Namun di sana ada kurma khas yang tidak sama dengan kurma-kurma yang lain. Orang menyebutnya sebagai kurma rasul atau kurma ajua.

Dulu Nabi Muhammad, kalau berbuka puasa, yang dimakan adalah kurma. Kurma yang dimakan itu diberi nama ajua. Ceritanya, ajua adalah nama dari anak Salman Alfarizi, orang nasrani yang akhirnya masuk Islam. Dia mewakafkan lahan kurmanya untuk perjuangan Islam. Untuk mengenang jasa-jasanya itulah, akhirnya rasul menamakan kurma yang dimakan saat berbuka puasa sebagai kurma ajua.

Pasar Kurma Madimah, menjual berbagai jenis kurma, Ada kurma Mesir, Iran, Irak, kurma hijau, alkatiri dan lainnya. Namun yang diyakini bisa mengobati penyakit hanya kurma rasul. Kurma ini mengandung protein tinggi dan dapat memperlancar peredaran darah. Namun kata Achmad Ali, penjual kurma dari Yaman, kurma rasul bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Sekali makan harus tujuh butir.

Menurut penjual kurma di Madinah, yakni H Bahrudin asal Madura, khasiat kurma ajua tidak perlu diragukan, sebab juga ada hadisnya yang berbunyi, "Siapa yang makan kurma ajua, pagi-pagi tujuh butir tidak akan terkena racun atau sihir." Syaratnya sebelum memakan harus membaca basmalah dan salawat nabi.

Batang Siwak

Yang lebih spresifik lagi, batang siwak, meskipun di Toko Pand Jalan Pandanaran Semarang, juga tersedia. Dulu siwak digunakan rasul untuk membersihkan gigi sebagai pengganti sikap gigi.

Diyakini batang siwak ini bisa untuk mengobati sakit gigi, membersihkan gigi dan kalau menggunakannya mendapat pahala, karena mengikuti jejak nabi. Bahkan dalam hadisnya, nabi berkata, "seandainya hambaku tidak keberatan, akan kuperintahkan untuk bersiwak setiap akan salat." Namun siwak banyak dipakai hanya sekadar dioles-oleskan pada bibir sambil berzikir.

Hal ini diyakini mendatangkan pahala. Saking populernya siwak, ada pengusaha yang memanfaatkan nama itu untuk merk sikat gigi.

Akar fatimah diyakini bisa memperlancar kelahiran bagi wanita hamil. Sedangkan untuk bisa hamil, kurma hijau atau buah kurma muda diyakini bisa mendatangkan keturunan bagi wanita mandul. Ada pula minyak Arab yang banyak digunakan para kiai untuk mengasmak. Di Arab minyak ini digunakan untuk wangi-wangian saat peringatan hari kelahiran rasul.

Kadal Mesir

Jenis oleh-oleh yang satu ini tergolong aneh. Banyak jamaah Indonesia yang memburunya, yakni kadal mesir. Binatang melata yang sudah diawetkan ini juga banyak dijual di pasar atau kaki lima. Konon berkasiat sebagai obat kuat lelaki.

Ini tak bedanya dengan hajar jahanam yang berupa batu. Batu ini dikasih air, kemudian larut. Larutannya itu diyakini bisa menambah energi lelaki saat bersebadan. Namun, kedua buah tangan jenis ini banyak dicibirkan orang Arab sendiri.

"Kalau ada orang Indonesia yang bertanya soal kadal mesir, justru orang Mesir bertanya soal kadal Indonesia yang ukurannya lebih besar," ungkap Rohani asal Demak yang kini belajar di universitas Yaman.

Dia mengingatkan, hendaknya jamaah Indonesia berhati-hati. Sebab ada pedagang yang bermotif hanya mencari keuntungan, dengan merekayasa apa saja yang ada di Arab. Misalnya minyak onta yang dikabarkan bisa sebagai obat kuat lelaki. (33)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA