logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Banyak yang Tersesat dan Telantar

CERITA jamaah tersesat, telantar, bahkan "hilang", bukan hal baru. Kementerian Urusan Haji Arab Saudi sebenarnya terus memperbaharui sistem yang diterapkannya untuk lebih memberikan kelancaran beribadah. Tetapi mungkin perbaikan sistem baru itu lebih cocok bagi jamaah yang pernah pergi haji. Sedangkan jamaah Indonesia sebagian besar kali pertama datang ke tanah suci. Ini masalahnya.

Dari segi usia jamaah Indonesia mayoritas berusia 40-60 tahun. Namun jika dilihat kenyataannya, kebanyakan dari mereka belum pernah naik pesawat terbang. Kalau demikian hampir pasti pergi haji juga menjadi kali pertama ke luar negeri. Mereka juga datang dari latar belakang beragam. Ada orang kota berstatus sosial ekonomi bagus. Banyak pula orang lugu dari udik.

Dengan kondisi seperti itu hampir pasti masalah akan muncul. Misalnya jamaah Kloter 53 asal Karawang, seorang nenek berusia 92 tahun, tiba-tiba hilang.

"Pak, saya terpisah dari kelompok. Tolong tunjukkan jalan ke tenda." Pernyataan setengah merengek itu disampikan Abdurahman (75) asal NTB di kawasan Jamarah, Mina, setelah tiga jam kebingungan. Lain hari, juga di daerah itu, dua pasang jamaah asal Jambi mengalami nasib sama.

Menolong sesama jamaah, mestinya bisa dilakukan siapa saja. Namun, toh, banyak yang lebih suka menghindar. Alasannya yang dihafal cuma jalan menuju pemukimannya sendiri. Menghantar berarti akan berjalan lebih jauh dan bisa-bisa ikut tersesat karena peta yang tersedia tidak cukup jelas.

Itulah romantika ketika empat hari (nafa sani) melempar jumroh di Mina. Hampir setiap saat bertemu jamaah tersesat. Kalau sudah begitu kita tidak bisa mengandalkan polisi (Askar-Red) untuk dimintai tolong. Selain hanya bisa bahasa Arab, mereka rata-rata juga tidak mengerti denah, meskipun kita tunjukkan KTP dari maktab.

Tempat menginap di Mina, berupa tenda semi permanen berwarna putih, diatur rapi sedemikian rupa dan nyaris sama bentuk maupun posisinya. Ribuan tenda itu dipisahkan oleh jalan-jalan yang semuanya menuju Jamarah, tempat melempar jumroh. Jamaah Indonesia kebanyakan menempati kemah di dekat terowongan Mina hingga ke perbatasan Mina-Muzdalifah dekat rumah sakit Al Wa'da.

Jika kebetulan menempati tenda di perbatasan Mina-Muzdalifah berarti jaraknya yang paling jauh (sekitar 6 km). Pada hari-hari afdol hampir tidak ada mobil yang bisa mencapai Jamarah kecuali ambulan yang selalu hilir mudik setiap saat. Jamaah harus berjalan kaki sekitar 30 menit. Begitu mudahnya untuk menuju Jamarah sampai-sampai orang tidak mengingat jalan kembalinya.

Ungkapan beribadah haji bukan hanya harus siap secara rohani, namun yang terpenting fisik, ternyata ada benarnya. Saat wukuf di Padang Arafah, kebanyakan ketua rombongan/pembimbing menyarankan agar jamaah langsung dari Mekah ke Arafah. Hampir tidak ada yang menyarankan mengikuti sunah nabi, yakni melakukan tarwiyah atau bermalam dahulu di Mina, sebelum menuju Arafah.

Padahal dengan tarwiyah kita bisa mengenali lingkungan di Mina, tenda yang akan menampung kita selama lempar jumroh tiga hari. Terbukti sewaktu ada "tragedi" jamaah Indonesia harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke tenda di Mina, mereka yang bertarwiyah ini tidak ada masalah. Langsung ketemu tendanya. Sementara ada jamaah yang berjalan sampai 24 jam baru ketemu tendanya.

Petugas Indonesia mengakui peristiwa terlantar dan jalan kaki dari Muzdalifah ke Mina itu membuat jamaah banyak yang sakit bahkan beberapa meninggal dunia. Pemerintah RI kemudian secara resmi mengirimkan surat protes kepada Pemerintah Arab Saudi. Beberapa hari kemudian ada kabar Wakil Menteri Urusan Haji Arab Saudi mendadak diberhentikan.

Kabarnya jalan kaki dari Muzdalifah ke Mina itu bukan suatu kesengajaan. Saat itu sedang diterapkan sistem angkutan yang diperkirakan lebih efisien atas saran sebuah konsultan asal AS. Jika sebelumnya jamaah diangkut dari Arafah ke Muzdalifah untuk mengambil batu, kemudian dinihari langsung diangkut lagi ke Mina, itu diubah karena dianggap memacetkan jalan.

Metode yang baru itu membiarkan jamaah sampai dinihari di Muzdalifah. Setelah merasa cukup mereka dipersilakan jalan kaki ke arah Mina sampai ketemu bus yang hilir mudik mengangkut jamaah ke Mina. Kenyataannya, bus hanya bergerak seperti orang jalan kaki. Sementara orang-orang lebih suka jalan kaki karena tak sabar. Saran konsultan AS itu dianggap gagal.

Skenario yang mungkin bagus itu tidak sempat tersosialisasikan. Setidaknya banyak jamaah yang tidak tahu. Mereka hanya tahu diangkut dari Mina sejak petang dan diturunkan di Muzdalifah dengan barang bawaannya. Setelah subuh, baru mereka berinisiatif berjalan kaki mencari tenda yang bentuknya sama, petanya tak jelas, dan petugas yang ditanya membingungkan.

14 Tewas

Musibah yang terjadi akibat metode itu, jutaan jamaah yang sudah berada di Mina untuk melontar jumrah, ternyata harus berhadapan dengan jamaah yang baru tiba dinihari dari Muzdalifah dan ingin melempar jumrah.

Karena jumlahnya sama-sama banyak dan arus jalan yang dipakai tidak memadai dengan mereka yang juga akan melempar jumrah, akhirnya terjadi musibah yang tidak diinginkan. Mereka saling berdesakan. jutaan jamaah akan ke luar dari areal jumrah berhadapan dengan jamaah yang jumlah sama dan ingin melempar jumrah di Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.

Akibatnya mereka yang berbadan kuat, bisa menerobos kerumunan. Namun yang lemah dan umumnya yang berusia lanjut, tidak bisa menerobos sehingga akhirnya kelelahan. Bahkan ada yang jatuh dan terinjak-injak oleh jamaah lainnya, yang akhirnya diketahui 14 orang tewas.

Alhamdulillah jamaah Indonesia selamat dari musibah di Muzdalifah-Mina yang dikenal lebih tepat lagi dengan sebutan musibah jumarah, mirip dengan musibah terowongan Mina, hanya saja jumlah korbannya kecil dan tidak di terowongan melainkan di jalan raya.(33)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA