logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Jangan Sombong di Tanah Suci

SYUKUR alhamdulillah, seluruh jamaah haji Indonesia, termasuk jamaah Jawa Tengah, pekan lalu, sudah tiba kembali di Tanah Air. Dalam musim haji tahun ini, wartawan Suara Merdeka, Ragil Wiratno, Agus Fathudin Yusuf, Syamsul Huda, Asril AM, Bambang Usdeky dan Wahyu Atmaji, ikut bersama-sama jamaah lain menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Di sela-sela menjalankan ibadah haji, mereka merekam berbagai gambar dan peristiwa menarik yang tersajikan dalam laporan terpadu berikut ini.

SEORANG wanita berusia sekitar 50 tahun, tiba-tiba mencengkeram lengan saya dengan kuat. Dia merasa yakin tidak salah memegang orang, karena melihat saya memakai peci hitam sebagai khas orang Indonesia dan memakai seragam mirip pramuka.

Petugas haji Indonesia terdiri Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), Tim Pembimbing Ibadah Haji (TPIH) dan Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) selama di Tanah Suci memakai seragam celana coklat tua dan baju lengan panjang warna coklat muda, sama persis dengan seragam pramuka.

Dari cara bicaranya, saya tahu ibu itu berasal dari Sunda. Tampaknya dia tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Rupanya dia tersesat setelah salat di Masjidil Haram bersama suaminya. Sambil tangannya tetap memegang kuat-kuat lengan saya, dia menunjukkan gelang haji dan kartu alamat maktab.

"Pokoknya saya minta diantar ke maktab," kira-kira begitu kata-katanya dalam bahasa Sunda. Akhirnya ibu itu saya antar. Sepanjang jalan dia terus menangis. Anehnya, sesampai di maktab dia masih belum ingat tempatnya.

Akhirnya saya ajak minum teh susu sambil beristirahat. Beberapa saat kemudian, ibu itu baru ingat bahwa di bangunan itulah dia menginap. Saking senangnya, dari balik dompet dia mengeluarkan uang 50 real dan memaksa saya menerimanya sebagai ucapan terima kasih. Dengan serta merta pemberian itu saya tolak. Kami akhirnya berpisah.

Kejadian orang tersesat di Makah jumlahnya lebih banyak dibanding di Madinah. Hal itu disebabkan, selain jarak pondokan dengan masjid relatif jauh, jamaah tidak diberikan panduan denah atau peta akses dari maktab menuju masjid. Apalagi jalannya naik turun, berkelak-kelok dan ditutupi gedung-gedung bertingkat. Bagi orang desa yang tidak pernah menginjak kota dan orang-orang lanjut usia, kondisi itu tentu saja sangat menyulitkan mereka.

Di dekat Masjidil Haram memang ada sektor khusus yang menangani orang-orang tersesat atau dikenal "Sektor Sesat". Tetapi karena letaknya yang nyelempit di sekitar tempat sai sehingga jarang dilihat orang.

Apalagi banyak tenaga musiman Indonesia yang berseragam biru-biru tidak mengenal medan Kota Makah. Akibatnya ketika ditanya alamat maktab dan menunjukkan tempat jamaah yang tersesat mereka hanya geleng-geleng kepala.

Lain dengan jamaah haji asal DKI Jakarta. Pemda DKI membuat "Posko Haji DKI" tepat di depan Masjidil Haram, tak jauh dari Shobro Hotel. Tulisan posko dengan huruf besar sehingga terlihat jelas mencolok dari kejauhan.

Ikhtiar agar tahun depan para jamaah terutama dari Jateng tidak tersesat lagi, baik di Madinah maupun Madinah, Asisten II Sekda Pemprov Jateng Ir H Ahmad Suwito mengusulkan agar mereka dibuatkan peta khusus dari maktab pondokan menuju masjid. Kalau kesulitan membagi satu persatu untuk semua jamaah, paling tidak peta itu dibuat dalam ukuran besar ditempel di pondokan yang strategis.

"Dengan cara ini Insya Allah akan membantu jamaah tidak kesasar lagi," tutur Suwito.

Persoalan tersesat itu bukan monopoli orang desa saja. Tak sedikit pejabat atau orang berpendidikan muter-muter, bingung karepe dewe kesulitan mencari maktab pondokannya.

Orang Afghanistan, Pakistan, India, Turki dan lain-lain juga seringkali kedapatan tersesat. Saya pernah menjumpai seorang pejabat militer tersesat, tak berhasil sampai ke tempat pondokannya. Menurut KHM Cholil Bisri, pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang asal di Makah atau Madinah dalam hati terbesit kesombongan, hampir pasti kesasar.

"Ada pejabat atau orang berpendidikan merasa sok. Tenang saja, bersama saya dijamin tidak tersesat. Ya akhirnya tersesat betul. Makanya jangan ada sedikit pun perasaan sombong atau takabur. Kalau lupa bersikap atau berucap sombong segeralah bersitighfar," tutur Mbah Cholil.

Sebelum berangkat, saya dibekali oleh ayah mertua saya KH Achmad Mansyur Al-Hafidz dari Kedungbanteng Purwokerto, agar tidak tersesat di Makah maupun Madinah. Pertama, jangan sekali-sekali bersikap sombong, sekali pun hanya krenteg di hati.

Begitu datang di Masjidil Haram, sebelum masuk masjid disarankan membaca Al-Fatihah tiga kali. Pertama ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam. Alhamdulillah selama itu tak pernah tersesat.

Sombong di Tanah Air mungkin masih sedikit bisa ditoleransi. Tetapi di sana jangan sekali-sekali sombong. Sebab seketika itu bisa kena batunya.

Saya ingat betul seorang pedagang batu mulia di depan Masjidil Haram menawari batu. Dengan bermaksud guyonan, saya berkata,"batumu jelak. Ini lho cincin saya bagus" sambil menunjukkan batu giok warna hijau yang menempel di jari manis kanan.

Betul-betul saya tak bermaksud sombong atau takabur, tetapi sekadar guyonan. Tetapi alangkah sedihnya, sampai di pondokan, cincin batu giok itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Saya segera membaca istighfar berkali-kali, karena ingat ucapan saya kepada penjual batu termasuk kategori sombong meskipun hanya bergurau. Tetapi karena sudah terlanjur hilang ya bagaimana lagi. Ke mana perginya batu itu? Wallahu a'lam. Kalau tidak percaya, coba saja sombong di Tanah Suci.

Tetapi kini aku sudah punya batu lagi hadiah dari Habib Zain Alatas Semarang.

Kasus Pencurian

Menurut pemantauan Suara Merdeka tahun ini kasus pencurian dan kejahatan sangat menonjol. Tak sedikit jamaah haji Jateng yang kehilangan uang karena dicuri di pondokan, dijambret dan ditipu di Kota Makah. Bahkan di depan Masjidil Haram pun terjadi kejahatan berupa penjambretan tas berisi uang.

Kaad Hadi Wardoyo misalnya. warga Pliken Kembaran Banyumas itu kehilangan 1.500 real. Menurut Ketua Kloter 40 Banyumas Drs H Tohar, saat mereka salat di Masjidil Haram, kamar dalam keadaan terkunci. Tetapi ketika pulang, gerendel sudah dicungkil orang. Tas tempat menyimpan barang bawaan sudah diodal-adul tidak karuan. Ny Soliah, juga anggota Kloter 40 kehilangan 1.120 real di Hijr Ismail. Uang untuk bekal hanya tersisa Rp 200.000.

Sukardi, anggota Kloter 30 Wonosobo, kamarnya dibongkar orang, kopornya dirusak dan 900 real hilang.

Ny Lestari Binti Tarjan dari Koter 23 Pekalongan kehilangan 1.500 real dan Rp 500.000 yang disimpan di tas paspornya. Tas itu dijambret orang. Masih banyak kasus kehilangan dan pencurian seperti itu.

Kalau pas kehilangan di maktab, maka menurut perjanjian, pimpinan maktab harus bertanggungjawab dengan cara mengganti sejumlah uang atau barang yang hilang itu. Dalam praktiknya, ada maktab yang mau bertanggungjawab, tetapi ada pula yang lepas tangan begitu saja. Sedang mereka yang kehilangan di luar maktab, biasanya diupayakan urunan dari jamaah lain sekadar meringankan beban dan tanda simpati.

Ada pula orang yang berpura-pura sebagai petugas di depan Masjidil Haram. Dia memeriksa dan menggeledah tas jamaah. Tetapi sampai di maktab mereka terkejut karena uangnya hilang. Jamaah haji yang kehilangan uang, biasanya segera menghibur diri. "Mungkin uang yang ada pada dirinya ketitipan sesuatu yang tidak halal. Atau mungkin karena kurang dizakati dan sebagainya".(33)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA