logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

KH Mohammad Arifin, Imam Zikir

KH Mohammad Arifin   SM/dok

LINANGAN air mata menjadi warna dominan di saat hening menguasai pikiran ribuan orang Islam yang berjubel di suatu tempat. Kumandang tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sejak beberapa saat bergema memecah suasana cerah hari itu. Tua, muda, miskin, kaya, laki-laki dan perempuan, serentak berserah diri dan mengagungkan asma Allah.

Ya, Rabbi! Alhamdulillahi Rabbil 'alamin. Tiada kebahagiaan dalam hidup ini, kecuali selalu dalam tatapan-Nya (ma'iyyatullah). Inilah zikir kalbu. Ma'iyyatullah membuat diri sebagai "aktor" yang terbaik di muka bumi ini.

Hati yang selalu terpaut pada-Nya dan terjaga hanya mencari "nilai" dari-Nya sebagai buah dari ihsan. Sehingga setiap gerak, napas, dan langkah hanya memburu rida-Nya. (QS Al-Baqarah:207).

Itulah nuansa, pemandangan, dan suasana hati yang bisa dijumpai setiap kali Ustad KH Muhammad Arifin Ilham memimpin zikir tobat. Kegiatan zikir akbar yang dipimpinnya selalu dihadiri ribuan orang muslim yang mayoritas berpakaian serba putih. Terakhir, dai kondang asal Banjarmasin Kalimantan Selatan itu memimpin zikir "berlinang air mata" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (3/3) pagi menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1424.

Sebelumnya, di awal Januari 2003, di tempat yang sama KH Muhammad Arifin Ilham juga memimpin zikir nasional bertitel "Indonesia Berzikir", menyambut pergantian 2002-2003. Kesuksesan dua kegiatan tersebut telah melambungkan popularitas kiai muda pemimpin Majelis Zikir "Az-Zikra" Jakarta itu. Kesuksesan itu pulalah yang mendorong Majelis Qolbun Salim Semarang mengundang alumnus Pondok Pesantren Assyafi'iyah Jakarta tersebut untuk memimpin zikir di Masjid Baiturrahman Semarang bertajuk "Jawa Tengah Berzikir, Meraih Tobat sebelum Wafat", Selasa 25 Maret 2003.

Humas Panitia Ir Didiek Herdiana Prasetya mengemukakan, acara yang akan diikuti para kepala daerah (gubernur, bupati, wali kota) beserta jajarannya, para alim ulama di Jateng, dan masyarakat umum, itu merupakan upaya membentuk pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT di tengah hingar -bingar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tujuan lain dari kegiatan itu, mempererat ukhuwah islamiyah kaum muslim Jawa Tengah, serta meningkatkan kesadaran beragama umat Islam di tengah menjalani kehidupan sehari-hari. Melalui zikir regional tersebut, diharapkan iklim sosial, politik, ekonomi, budaya, dan keamanan di Jateng makin bertambah baik dan kondusif.

Hakikat Zikir

Sementara itu, KH Muhammad Arifin Ilham menyatakan, sampai saat ini masih banyak umat muslim yang belum paham terhadap hakikat zikir. "Itulah sebabnya, zikir sering dikerjakan tanpa kesungguhan. Dan itu merupakan pekerjaan yang sia-sia," katanya kepada Suara Merdeka baru-baru ini sehubungan dengan rencana zikir regional di Semarang tersebut.

Secara harfiah, zikir berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan. Zikirullah berarti mengingat dan menyebut Allah. "Perpaduan dari keduanya merupakan makna awal dari khusyuk," papar Arifin Ilham.

Menurut dia, zikir terdiri atas empat bagian yang saling terikat dan tidak terpisahkan. Yaitu zikir lisan (ucapan), zikir kalbu (merasakan kehadiran Allah), zikir 'aql (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam), dan zikir amal (takwa: patuh dan taat terhadap perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya). Idealnya, kata ustad periang itu, zikir berangkat dari kekuatan hati; ditangkap oleh akal, dan dibuktikan dengan ketakwaan dan amal nyata di dunia ini.

Kegiatan zikir tobat yang dipimpin Muhammad Arifin Ilham berawal dari zikir mingguan yang dilaksanakan setiap Sabtu sehabis salat subuh di Masjid al-Amru Bittaqwa, Mampang Indah Dua, Depok, Jakarta.

Pada awalnya, kegiatan itu diikuti belasan orang jamaah dari kompleks perumahan tersebut. Berkat keistiqamahan jamaah dan kegigihan M Arifin Ilham yang dibantu beberapa orang ustad muda lain, kegiatan zikir itu kemudian berkembang dan mendapat respons positif.

Waktu pelaksanaan kegiatan zikir pun diganti menjadi Minggu pagi mulai pukul 08.00 WIB. Akhirnya ditetapkan, setiap Minggu pertama setiap bulan menjadi hari zikir. Bahkan, kemudian zikir serupa digelar di lain tempat, tidak saja di Mampang Depok, tempat mula kegiatan itu diselenggarakan.

Setelah kurang lebih setahun berjalan dan mengalami pasang-surut kehadiran jamaahnya, maka pada Ramadan 1422 H diselenggarakan zikir akbar di Masjid Agung At-Tin TMII Jakarta. Acara itu dihadiri tidak kurang dari 7.000 orang jamaah. Sejak itulah, zikir tobat makin dikenal masyarakat, sehingga setiap kali acara zikir selalu dihadiri banyak jamaah.

Selain di Masjid Al-Amru Bittaqwa Depok, sebagai pusat zikir, zikir tobat secara rutin juga dilaksanakan di Masjid Baitul Ihsan (Bank Indonesia Thamrin), Masjid At-Taqwa (Pamulang Estat), Masjid At-Taqwa (BPN Lippo Cikarang), Masjid Al-Ikhlas (BSD Tangerang), MT As-Sakinah (Bogor), Masjid Al-Bina (Senayan), Masjid Baiturrahman, (Bintaro), dan Menara Kadin Kuningan. Zikir tobat juga pernah digelar di Garut, Samarinda, Medan, Lombok, dan Bali.

Saat menyinggung motivasi sesungguhnya dari gerakan zikirnya itu, Muhammad Arifin Ilham mempersilakan melihat Alquran Surat Al-A'raf Ayat 96. Penggalan kalimat pertama ayat itu menyatakan, jika para penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, maka Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi.

Karena itu, Arifin mengumpulkan masyarakat untuk menyucikan jiwa dan hati, sehingga iman akan menancap di dalam dada-dada mereka, dan takwa akan menghiasi perilakunya. Jika itu terwujud, kata dia, maka derita bangsa Indonesia akan segera hilang. Lebih dari itu, Islam yang secara konsep sangat tinggi dan mulia bakal tercermin dalam pribadi setiap muslim.

"Setiap manusia hakikatnya adalah fitrah. Tapi sayangnya, arus kehidupan membuat hati mereka berkarat," ujar Arifin menjelaskan. Zikir dapat membersihkan karat yang melekat di hati manusia itu, sehingga dalam suasana hati yang bersih, suatu kebenaran akan dapat diterima dengan baik.

Dai Jahiliyah

Muhammad Arifin Ilham lahir 8 Juni l969 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dari pasangan H Ilham Marzuki dan Hj Nurhayati. Sejak kecil dia sudah menjadi "anak masjid". Ayahnya memang aktivis Masjid Sabilil Muttadien Banjarmasin, sehingga menular kepada anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara itu.

Di Masjid Sabilil itu, ada ustad yang menjadi idola Arifin, yakni KH Rabbi Hamdi. Ustad itu dikenal mempunyai tutur kata dan perilaku yang lembut. Kelembutan itulah yang amat berkesan di hati Arifin kecil, sampai-sampai dia memutuskan kelak menjadi sesorang penceramah, seperti Ustad Rabbi, atau setidak-tidaknya seorang guru.

Orang tuanya sangat senang mendengar cita-cita mulia Arifin itu. Maka, demi menggapai cita-cita mulia itu, Arifin dikirim ke Pesantren Darunnajah di Jakarta Selatan. Namun di pesantren itu Arifin cuma bertahan setengah tahun. Dia kemudian pindah ke Pesantren Assyafi'iyah, juga di Jakarta, hingga lulus sekolah menengah.

Di Pesantren Assyafi'iyah itu, bakat pidato Arifin mulai kelihatan. Beberapa kali dia meraih juara pidato, baik di Assyafi'iyah maupun antarpesantren se-Indonesia dan internasional. Karena kemampuannya berceramah itu, meski usianya masih remaja, Arifin sudah kerap keluar "kandang", mengisi pengajian di luar pesantren.

Bahkan, pada usia 16 tahun, dia sudah melalang buana ke beberapa daerah di Nusantara ini. Antara lain di Lampung, Batam, Balikpapan, Samarinda, dan Banjarmasin. Pernah pula dia berceramah di Singapura. "Subhanallah, pada waktu itu saya begitu bangga, dan sambutan jamaah yang saya ceramahi sungguh luar biasa," ungkap Arifin seraya beristighfar lirih.

Tapi anehnya, masa-masa yang membanggakan itu justru dianggapnya sebagai masa-masa yang memalukan, terutama malu kepada Allah. Dia menyebut dirinya sebagai dai jahiliyah. La jahiliyah kenapa? Sebab, katanya, saat itu dia hanya pandai bicara, tapi praktiknya nol besar. Motivasi berdakwahnya juga kurang bersih, dan salat subuh di masjid malas, apalagi tahajud. "Nah, itu kan dai jahiliyah namanya, pandai memberi penerangan pada umat, tapi tak mampu memberi penerangan pada dirinya sendiri," kata suami Wahyuniyati Al Wali itu.

Syukurlah, Allah berkenan memberi peringatan. Cara Allah memperingatkan hambanya bermacam-macam. Bisa meminjam mulut orang lain untuk memberi nasihat, bisa pula dengan menimpakan musibah.

Rupanya untuk Arifin, Allah memilih cara terakhir. Pada l977, di sekitar rumahnya di Mampang, dia dipatuk ular berbisa. Akibatnya sangat parah. Dia mengalami koma selama 21 hari dan seandainya selamat pun, kata dokter yang merawatnya, Arifin bakal mengalami kelumpuhan otak, dan bahkan impoten.

Namun sesungguhnya Allah yang memberi penyakit, dan Allah pulalah yang menyembuhkan. Manusia hanyalah bisa mengamalkan, kepastian sepenuhnya dalam kekuasaan Allah. Itu terbukti pada diri Arifin. Ramalan dokter yang menakutkan itu meleset jauh sekali. Lewat kebesaran-Nya, sarjana hubungan internasioanal dari Universitas Nasional Jakarta itu sembuh seperti sediakala.

Peristiwa itu sungguh menghentakkan kesadarannya. Dia kemudian merenungi perjalanan hidupnya, sambil mohon ampun sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT. Dia kemudian makin mendekatkan diri dengan cara berzikir dan memperbanyak ibadah. Dari pengalaman itu, jadilah Arifin seperti sekarang. (Nana Swarasama-64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA