logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Di Asia Unjuk Rasa pun Terus Marak

BANGLADESH - Unjuk rasa antiperang juga melanda seluruh dunia. Di Asia, para pengunjuk rasa mendatangi kedubes-kedubes AS dan mencap Presiden George W Bush, PM Inggris Tony Blair, dan PM Australia John Howard sebagai teroris dan penjahat perang.

Di Bangladesh aksi unjuk rasa semakin membara, bahkan terjadi pemogokan nasional untuk memprotes perang di Irak. Para saksi mata mengatakan 6.000 guru, mahasiswa, dan staf Universitas Dhaka melakukan unjuk rasa dengan membakar boneka Bush.

Di Korea Selatan, biarawan-biarawan Budha menabuh gendang besar dalam suatu rapat di Seoul yang dihadiri 2.000 orang. Mereka berusaha menghibur para korban perang.

''Bush penjahat perang,'' kata aktivis hak asasi manusia Park Won-soon di hadapan massa. Mereka mengecam keputuan Seoul mengirim pasukan nontempur, guna membantu pasukan pimpinan AS.

Di Australia, tercatat empat aksi unjuk rasa antipernag, termasuk di ibu kota Australia Barat, Perth. Sekitar 10.000 orang turun ke jalan. Australia mengirim 2.000 tentara untuk membantu hampir 300.000 tentara AS-Inggris di Teluk.

Ribuan orang berkumpul di depan Kedubes AS di ibu kota Selandia Baru dan Thailand, dalam unjuk rasa menentang perang tanpa persetujuan PBB tersebut. Ratusan ribu orang diperkirakan turun ke jalan-jalan Eropa, sehari setelah protes di Athena dan Madrid yang sempat rusuh.

Dalam protes-protes di Timur Tengah juga terjadi kerusuhan. Dua orang tewas di Yaman. Pawai-pawai pro-Saddam terjadi di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Warga London bersiap-siap melakukan aksi ''Stop Koalisi Perang'', yang merupakan unjuk rasa besar-besaran seperti 15 Februari lalu, saat mana hadir satu juta orang.

Lebih dari 3.000 polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban, kendati unjuk rasa antiperang sebelumnya di ibu kota Inggris itu berlangsung tanpa insiden serius.

Di bumi Amerika sendiri, protes antiperang diikuti lebih dari 100.000 orang di New York. Protes yang semula berjalan damai itu, berakhir rusuh ketika massa berontak akibat tindakan pihak keamanan yang berusaha membubarkan mereka.

Massa tampaknya tidak terima mendapat perlakuan keras polisi. Kemarahan pun muncul. Batu, botol, dan air dilemparkan massa ke arah polisi.

Pihak kepolisian memperkirakan jumlah demonstran sekitar 125.000 orang, namun pihak penyelenggara menyebutkan angka 250.000.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA