logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Semarang & sekitarnya  
Line

''Kami Diibaratkan Tebu oleh Politikus''

DISKUSI interaktif bertajuk ''Nasib kaum miskin kota Pantura (masyarakat pesisir) antara harapan dan kenyataan'' yang diadakan Forum Pemuda Masyarakat Pesisir (FPMP) di Balai Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kuningan, Minggu (23/3), menjadi ajang gugatan kaum nelayan terhadap legislatif dan eksekutif. Pasalnya, mereka mengaku belum merasakan kue pembangunan, baik pada era orba hingga reformasi.

Apalagi, selama empat bulan terakhir ini nelayan di Kawasan Pantura menganggur karena laut sedang tidak ramah, angin bertiup kencang (nelayan menyebutnya musim baratan-Red).

''Selama musim baratan, atau selama empat bulan ini, kami terpaksa menganggur. Namun tidak ada satupun wakil rakyat yang datang ke kampung kami. Meskipun sekadar bertanya, apakah hari ini kami sudah makan? Padahal, pemilu lalu direwangi bacok-bacokan,'' kata tokoh masyarakat nelayan Kuningan Sanyoto.

Dia mengibaratkan masyarakat nelayan sebagai tebu bagi para politikus. Habis manis sepah dibuang. ''Kalaupun ada di antara nelayan yang nekat melaut karena memang sudah didesak kebutuhan pokok, itu pun semuanya serba utang.''

Karena pada musim baratan ikan sedang sulit di dapat, maka ketika nelayan yang nekat melaut pulang hanya membawa uang Rp 50 ribu. Itu pun harus dibagi dengan pemilik kapal dan membayar utang solar/rokok. Sehingga yang dibawa untuk anak-istri di rumah hanya Rp 10 ribu-an saja. ''Saat ini nelayan ngemut driji (gigit jari-Red). Untuk menyambung hidup, apa saja yang bisa dijadikan uang, dijual,'' tandasnya.

Memprihatinkan

Hal senada juga diungkapkan tokoh nelayan Kuningan yang lain, Muhtar. Kondisi para (buruh) nelayan sangat memprihatinkan. Kehidupan sehari-harinya adalah gali lubang-tutup lubang.

Untuk melaut, nelayan harus cermat berhitung. Dengan harga solar saat ini dan ubarampe lainnya, sekali melaut butuh modal Rp 35 ribu. Namun, kebanyakan pulang dengan tangan hampa. Ini sudah berlangsung empat bulan. ''Pemerintah tidak ada perhatian sama sekali. Sejak Gubernurnya Pak Wardi hingga Pak Mardiyanto, kami tidak pernah mendapatkan bantuan.''

Kondisi masyarakat nelayan di Semarang ternyata setali tiga uang dengan yang berada di Pekalongan dan Tegal. ''Selama empat bulan ini ada juga nelayan di Pekalongan yang melaut. Namun, ya tidak dapat apa-apa. Istilahnya, pulang hanya membawa bon-bonan (utang-Red) dari pengusaha sebesar Rp 10 ribu,'' kata Jones, tokoh nelayan Pekalongan.(Ali Arifin Muhlish-76)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA