logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Semarang & sekitarnya  
Line

Ngisor Asem

Mulai dari Reparasi Lars sampai Sepatu Golf

ANDA punya sepatu kesayangan yang sudah jebol sol-nya? Dibuang sayang, tapi kalau tetap dipakai, jelas tidak pantas. Tak usah khawatir. Bawa saja ke tukang reparasi sepatu. Mungkin saja, pikiran untuk membuang sepatu yang sudah rusak bisa ditepis jauh-jauh.

Di Jalan Suyudono, Semarang Selatan terdapat sentra reparasi sepatu yang cukup reprensentatif. Di sepanjang jalan itu sedikitnya ada lima usaha reparasi sepatu, bahkan lebih termasuk yang berada di gang-gang Kampung Bulu Setalan dan Lemah Gempal serta Basudewa. Di tempat ini sepatu rusak bisa di ''sulap'' menjadi layak pakai. bahkan seperti baru.

Berbeda dengan tukang sol keliling, di reparasi sepatu di kawasan Jalan Suyudono ini tempatnya lebih luas dan representatif. Perangkat kerjanya pun lebih beraneka rupa. Mulai mesin jahit, gunting, jarum, palu, catut, benang, hingga padhokan (besi yang ujungnya dibentuk menyerupai alas kaki). Tak ketinggalan beragam sol atau alas sepatu dari karet yang ditumpuk di atas kotak kayu.

Awal mulanya, sekitar era tahun tujuh puluhan, tukang reparasi yang sudah dilakoni secara turun temurun ini mangkal di Jalan Sugiyopranoto, namun karena ada pelebaran jalan di jalan raya raya tersebut, para perajin ini berinisiatif untuk pindah ke Jalan Suyudono.

Usaha yang mulanya digeluti oleh satu orang ini kini berkembang pesat. Kini, paling tidak ada 30 orang yang menggantungkan hidup dari usaha ini. Satu kios rata-rata mempekerjakan lima orang.

Layanan jasa yang disediakan tidak hanya terbatas pada mengganti sol sepatu, namun juga mengelem sepatu yang ''menganga'', hingga menyemir. Jenis sepatunya yang bisa di reparasi pun beragam. Mulai dari sepatu Lars hingga sepatu golf.

Bahkan reparasi tas kulit. Pegawai sejumlah instansi seperti kepolisian dan DLLAJR sudah menjadi langganan khususnya untuk reparasi sepatu lars.

Umumnya, tukang reparasi yang buka mulai pagi hingga menjelang petang ini mempunyai tarif yang nyaris sama satu dengan yang lainnya. Meskipun tanpa persaingan, bukan berarti para penyedia jasa ini seenaknya mengerjakan order yang datang. Ketelitian, kerapian, dan kualitas menjadi modal mereka untuk menarik hati pelanggan.

Karena itu, tak jarang, seorang pengguna jasa reparasi sepatu selalu datang ke tempat yang sama untuk memperbaiki sepatu. ''Sebagian besar yang datang ke sini sudah langganan sejak lama, bahkan ada juga yang turun temurun mulai dari kakek hingga cucunya,'' kata Muslih, pemilik Bulu Shoes di Jalan Suyudono 61. Ia yang didampingi perajin sepatu lainnya mengungkapkan tukang reparasi sepatu yang kebanyakan asli Semarang ini tidak pernah main-main mengerjakan ''order'' mereka. ''Soalnya jika dikerjakan asal-asalan pelanggan bisa kecewa dan pindah ke tempat lain.''

Mengenai tarif, tergantung bahan yang digunakan. Namun, untuk sol karet sepatu sepatu laki-laki Rp 50.000. Tarif yang lebih murah berlaku untuk mengelem alas sepatu yang menganga akibat daya rekat lemnya sudah berkurang, yaitu antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000.

Seiring memburuknya kondisi ekonomi yang ditandai dengan menurunnya daya beli masyarakat, reparasi sepatu menjadi pilihan yang dapat diandalkan. Sepatu yang kerusakannya masih dapat diatasi, akan dipakai lagi setelah direparasi.

Pujiarso, warga Jalan Pamularsih yang ditemui di salah satu kios Jalan Suyudono menuturkan, ia memilih untuk mereparasi sepatu sandal bertali milik anaknya yang lapisan solnya menganga di beberapa bagian. ''Eman-eman masih bagus, soalnya kalau beli sekarang harganya mahal,'' kata dia.

Ia tidak memungkiri, upaya mereparasi sepatu ia lakukan untuk menyiasati membengkaknya harga kebutuhan hidup akhir-akhir ini. ''Bayangkan saja, kalau setiap kali solnya rusak, saya mesti beli sepatu baru. Pasti mahal sekali,'' kata karyawan perusahaan swasta ini.

Meski demikian, para perajin reparasi sepatu ini tetap saja dibayangi oleh kenaikan bahan-bahan reparasi sepatu terutama lem. Dalam kondisi seperti ini, mereka mengalami dilematis. Masalahnya, jika ongkos reparasi dinaikkan dikhawatirkan konsumen akan merasa keberatan. ''Karena itu kami harus hati-hati dalam menetapkan biaya reparasi,'' ujar Muslih yang meneruskan usaha kakaknya.

Ia mengungkapkan setiap hari rata-rata masyarakat yang mereparasikan sepatunya bisa mencapai 50 hingga 100 orang. Sedangkan paling lambat waktu penyelesaian pekerjaan dua hari, tergantung kerusakan. Jadi, kalau bisa diperbaiki kenapa harus beli sepatu baru? (Arie Widiarto-76)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA