
| Senin, 24 Maret 2003 | Semarang & sekitarnya |
Dendam, Pemuda Bunuh Preman''Ora Ana Ampun-ampunan...''SEMARANG TIMUR- Lantaran dendam kesumat, Bowo Santoso (18) nekat membantai seorang lelaki yang dikenal sebagai preman kawasan Sawah Besar, Minggu (23/3) kemarin di atas jembatan Citarum. Korban bernama Paryono (46) warga Jl Kaba Utara II RT 8 RW 12, Kelurahan Tandang, Tembalang tewas dengan sejumlah luka mengerikan. Wajahnya tak dapat dikenali lagi karena hancur dicacah dengan parang. Bagian dalam organ kepalanya keluar dan membasahi lantai jembatan, sementara lengan kiri dan beberapa jari tangannya putus. Peristiwa pembunuhan itu menjadi perhatian besar dari warga. Segera setelah mayat Paryono ditemukan, ratusan orang berdatangan ingin melihat dari dekat. Puluhan pengendara yang lewat di Jalan Soekarno-Hatta menyempatkan berhenti untuk menyaksikan mayat korban. Kondisi jenazah yang teramat mengerikan itu sampai membuat beberapa orang dan polisi muntah-muntah. Mayat korban kemudian dibawa ke RSUP Dr Kariadi untuk diautopsi. Tersangka yang tinggal di RT 1 RW 1, Pandansari, Kelurahan Sawah Besar menyerahkan diri satu jam usai kejadian ke Polsek Semarang Timur. Dia mengaku membunuh korban karena jengkel. Dua minggu lalu dia nyaris dibunuh Paryono karena menolak diajak minum minuman keras. Selain itu, Paryono marah karena Bowo berteman dengan seorang musuhnya bernama Bagong. Ditusuk ''Waktu itu saya diludahi, disiram congyang, dipukul, diinjak-injak, dan ditusuk dengan pisau. Untung saya tidak sampai mati,'' ujar Bowo. Pembunuhan itu terjadi sekitar pukul 10.00. Bowo mengaku awalnya tidak berniat menghabisi nyawa korban. Semula dia hanya bermaksud makan di warung bawah jembatan arteri (ujung Jl Soekarno-Hatta). Namun niatnya itu dia urungkan karena melihat Paryono sedang duduk di warung. Mendadak tersangka teringat kembali perlakuan korban terhadapnya dua minggu silam. Tersangka mengaku takut Paryono akan menghajarnya lagi, apalagi dia tahu korban selalu membawa sebilah pisau di balik bajunya. Tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk memberi pelajaran kepada lelaki yang telah membuatnya sakit hati itu. Dia bergegas pulang untuk mengambil parang. Tanpa diduga, ketika kembali dia berpapasan dengan korban di atas jembatan yang membentang di atas Banjirkanal Timur itu. Saat itu korban hanya memandanginya. Ketika Paryono lengah, dengan cepat Bowo mengeluarkan parangnya, lalu membabatkan ke tengkuk korban. Mendapat serangan itu Paryono berbalik hendak membalas sambil menghunus belatinya. Namun Bowo lebih cepat bergerak dan kembali menyarangkan senjatanya ke kepala dan lengan korban hingga jatuh tersungkur. Dalam keadaan bersimbah darah Paryono meminta ampun, namun Bowo tak mempedulikannya. ''Ora ampun-ampunan, kowe wis tau ngidoni karo ngantemi aku (Tidak ada ampun, kamu sudah meludahi dan memukuli aku),'' ujar Bowo. Dia terus membacokkan parangnya ke wajah korban berkali-kali. Setelah korban tewas, tersangka pulang ke rumahnya. Dia sempat membasuh muka dan berganti baju. Serahkan Diri Tanpa setahu tersangka, beberapa warga mengetahui tindakan sadis itu. Mereka melapor ke Lurah Sawah Besar, Sumadi yang juga anggota Polri. Bersama sejumlah perangkat kelurahan, Sumadi mendatangi rumah Bowo dan berhasil membujuknya untuk menyerahkan diri ke kantor polisi. Aparat reserse juga menyita sebilah parang yang digunakan membantai korban. Ketika ditemukan di samping rumah tersangka, parang itu masih berlumur darah segar. Bacokan ke kepala korban diperkirakan teramat kuat, karena ujung parang itu sampai bengkok. Tersangka mengaku tak punya pilihan selain menghabisi korban. Ancaman Paryono benar-benar membuatnya ketakutan sampai-sampai dia tak berani keluar rumah selama dua minggu. ''Ketimbang aku sing dipateni, aluwung aku sing mateni ndhisik (Daripada saya yang dibunuh, lebih baik saya bunuh dia lebih dulu),'' ujar Bowo. Menurut polisi, Paryono memang dikenal sering membuat ulah dan berurusan dengan polisi. Bahkan dia pernah tiga kali masuk penjara karena memeras dan mencopet. (G3-76) |