
| Senin, 24 Maret 2003 | Semarang & sekitarnya |
Lantunan Shalawat dari Jonggring SalokaLANTUNAN shalawat nabi di Kampung Krobokan malam itu terasa syahdu dan berbeda. Sekitar 500 warga yang memenuhi Jl Taman Jonggring Saloka khusyuk mengalunkan bait-bait mengagungkan kebesaran Allah SWT serta menyebut Rasul. Mereka lesehan di atas tikar memenuhi sepanjang jalan itu di malam keinsyafan tersebut. Orang tua, muda, dan anak-anak ikut serta menyimak dan mengikuti bacaan tasbih, tahmid, dan takbir. Perempuan dan laki-laki tumplek bleg bersimpuh dan terus memanjatkan doa-doa. Tidak ada nuansa untuk saling sikut, saling tuding, adu otot yang hanya membuat masyarakat bubrah seperti yang terdengar selama ini. Semua warga RT 8 dan 9 RW 12 seolah tenggelam dalam kesakralan untuk membuat kemuliaan. Terasa berbeda? Ya, Kampung Krobokan, Semarang Barat yang selama ini dikenal sebagai kampung ''hitam'', kini telah mengubah diri. ''Kampung yang dulu masih dalam kegelapan, saat ini semuanya sudah insyaf menuju kemuliaan. Kami mengajak warga agar diberi petunjuk di jalan-Nya,'' ujar H Syarif Hidayatullah, warga setempat yang mengisi siraman rohani dalam acara ''Malam Mujahadah Istighotsah'', Kamis (20/3). "Semoga Allah memberikan keselamatan, hidayah, manfaat, berkah dunia dan akhirat," demikian terusan bait yang tertulis dalam dekor. Kegiatan itu dihadiri pula oleh kasepuhan Eyang Surya Zadhili Jaelani, Ketua RW Fauzan SAg, perangkat tingkat kelurahan, hingga rukun tetangga. ''Kami meminta kepada-Mu supaya orang Jonggring Saloka senantiasa ingat untuk kembali ke jalan yang penuh berkah,'' lanjut tokoh yang belum lama pulang dari menunaikan ibadah haji itu. Sambil berseloroh, dia mengemukakan andai saja baju-baju muslim kaum laki-laki itu dibuka, ''Akan terlihat gambar tato naga di lengan dan gambar elang di dada mereka.'' Seusai bermujahadah, mereka masih enggan beranjak pulang. Secara bersama-sama, Hidayatullah mengajak warga untuk selalu ingat dan waspada. Pesan lain yang disampaikan cukup mudah untuk diterima dan mengena di hati warga Jonggring Saloka lewat puji-pujian. Seperti sebuah bait yang cukup akrab di telinga warga yang dilantunkan bersama-sama: wedang jeruk yuk kanca, rasane legi/esuk awan sore bengi pada sregep ngaji//ngaji iku kanggo nggayuh mukti/yen ora ngaji uripe bakale rugi... Sesekali puji-pujian itu diselingi kalimat selengekan yang membuat warga terpingkal-pingkal. ''Esuk awan sore bengi aja lali karo sinetron Gunung Merapi..., malem Selasa Dendam Nyi Pelet, malem Kamis Angling Darma,'' kontan saja yang merasa disentil dengan acara televisi itu terbahak. Seseorang terdengar menimpali seloroh itu, ''Pak haji ya hafal.'' Suasana cair itu justru menambah keakraban warga. Atas ide kasepuhan, jamaah mujahadah itu diberi nama Insyaf Birohmati, insyaf yang membawa berkah kemuliaan bagi umat. Rencananya, kegiatan itu digelar setiap bulan. Maka, jangan heran jika Kampung Krobokan yang dulu dihuni sebagian tokoh tindak kejahatan, kini sudah berubah lebih baik lagi dan mudah dijumpai lantunan salawat nabi. (Agus Toto W-76c) |