logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Semarang & sekitarnya  
Line

Berbahasa Jawa Itu (Tak) Gampang

DI depan kelas, Kusharyanto terbata-bata melafalkan salam pembuka yang biasa dipakai pranatacara (pembawa acara pada suatu perhelatan atau dikenal pula dengan sebutan pambiwara-Red).

''Mahardikeng tyas... ring kamardikan nugraha... miwah sih... wilasanipun Gusti ingkang... Maha Tunggal... waradin... sagung dumadi... raharja niskala... satuhu,'' ucapnya patah-patah.

Teman-temannya tertawa setiap kali dia berhenti dan tampak serius memikirkan kata-kata selanjutnya. Tapi tak ada raut cemas, takut, atau malu pada diri mahasiswa semester IV Pendidikan Bahasa Jawa Unnes itu. Bisa jadi dia memaklumi dirinya, juga teman-teman yang menertawainya itu, memang baru menjadi ''murid'' dalam latihan pranatacara.

Suasana serupa di atas mulai dijumpai di ruang kelas FBS Unnes sejak kursus ''Berbahasa Jawa'' yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Jawa itu dibuka 12 Maret lalu. Setiap Rabu dan Minggu pukul 19.00-22.00, berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Jawa di-gulawentah.

Kursus itu meliputi latihan pranatacara, renggep (cara berbicara dan bertutur-kata dengan baik dan benar-Red), gendhing dan tembang, serta anekawidya yang meliputi latihan berbusana dan berpenampilan gaya Jawa.

Apa yang melandasi penyelenggaraan kursus tersebut? Sebab, bukankah Unnes pada hakIkatnya memiliki Jurusan Bahasa Jawa? Yoyok Supriyono, Ketua Penyelenggara, mengatakan awalnya kursus tersebut memiliki target agar mahasiswa yang tergabung dalam UKM kesenian Jawa, UKM Kethoprak, UKM Penembrama, UKM Karawitan, dan UKM Tari Klasik mampu setidaknya berbahasa Jawa secara benar.

Proses selanjutnya kursus diberlakukan untuk semua mahasiswa. Terbukti, peminatnya pun beragam seperti mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa Prancis, serta dari jurusan lain.

Semangat lain yang mendorong dia bersama rekan-rekannya membentuk kegiatan tersebut adalah dibukanya kembali Jurusan Bahasa Jawa di Unnes setelah dibekukan tahun 1994.

''Fakta di lapangan banyak mahasiswa tidak bisa berbahasa Jawa meskipun dia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Jawa,'' ujar Yoyok.

Tak Mudah

Banyaknya mahasiswa yang ternyata tak mampu berbahasa Jawa itu dijumpai saat kursus berlangsung. Seperti Rabu (18/3) malam itu, saat materi yang diberikan berupa latihan pranatacara, banyak peserta kursus yang berusaha menjalin komunikasi dengan sang dwija (instruktur) dengan bahasa Jawa halus sering berhenti di tengah-tengah kalimat yang sedang diungkapnya.

Bukan itu saja. Kesalahan dalam pemilihan kata atau pelafalan pun terjadi. Instruktur Trontong Sadewa, dengan gayanya yang serius tapi santai, berkali-kali harus membetulkan kekeliruan itu.

Pada suasana semacam itu, sesekali ada peserta yang nyeletuk, ''We la kok angel, ya... Ternyata berbahasa Jawa itu tidak gampang. Padahal setiap hari kita memakainya.''

Terlepas dari persoalan masih banyak mahasiswa yang ''lemah'' berbahasa Jawa, ada yang cukup menarik dikemukakan. Yakni, semangat dan antusiasme dalam menyimak semua uraian instruktur. Keingintahuan mereka tampak begitu besar. Meskipun sadar pasti banyak kesalahan ketika mengucapkannya, sebagian besar tak canggung untuk bertanya dalam bahasa Jawa halus.

Ketertarikan mereka semakin tampak ketika Sucipto Hadi Purnomo (Koordinator Editor Bahasa Suara Merdeka) yang mengelola rubrik ''Mardi Jawi'' pada Suara Merdeka Edisi Minggu sengaja diundang untuk memberikan pengetahuan mengenai ''Cara Menulis dalam Bahasa Jawa''.

''Sangat baik memang kalau kursus dilengkapi dengan latihan menulis dalam bahasa Jawa,'' ujar Sucipto.

Yoyok pun menegaskan hal tersebut. ''Dengan latihan menulis itu, pasti lebih lengkap. Saya yakin, peminatnya pasti akan bertambah,'' ujar dia sembari mengatakan terus meningkatnya jumlah pendaftar pada kursus yang diselenggarakannya itu.(Saroni Asikin-13)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA