
| Senin, 24 Maret 2003 | Karangan Khas |
Otda dan Kemitraan Berantas TuberkulosisOleh: Saifuddin Ali Anwar PERINGATAN Hari Tb (tbc - tuberkulosis) se-dunia jatuh pada hari ini, 24 Maret 2003. WHO mengambil tema peringatan People With TB sedangkan slogan yang dicanangkan adalah Dots Cured Me-It Will Cured You To kurang lebih dapat diartikan bahwa penduduk dunia tengah bergelut dengan penyakit Tb. Untuk mengatasi hal tersebut slogan yang tepat diserukan adalah, "pengobatan penderita Tb dengan strategi DOTS sekaligus mempunyai dampak mencegah, melindungi keluarganya dan masyarakat sekelilingnya dari penularan penyakit Tb. "Tuberkulosis menjadi masalah dunia karena mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi lebih dari sepertiga penduduk dunia, sehingga WHO mencanangkan kegawatdaruratan global penyakit Tb. Oleh karena penyakit itu tidak terkendali pada sebagian besar negara di dunia. Ini disebabkan oleh banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan terutama penderita menular (BTA positif). Tema dan slogan peringatan ini jelas mengingatkan kembali betapa dahsyatnya ancaman yang melanda penduduk akan bahaya penyakit Tb. Dari laporan WHO tercatat 2 juta penduduk dunia mati karena penyakit Tb tiap tahunnya. Bila ini berlangsung terus, bukan tidak mungkin lebih dari tiga puluh juta penduduk dunia akan meninggal dalam waktu sepuluh tahun mendatang. Melumpuhkan Produktivitas Temuan WHO melukiskan puluhan juta penduduk dunia tengah bergumul dengan penderitaan yang mengenaskan akibat tertular Tb. Mereka tersisih dari tugas sehari-hari bahkan sebagian disingkirkan dari lingkungan pekerjaannya lantaran sudah tidak berdaya karena fisiknya kurus kering dan habis tenaganya. Penderita ini juga merupakan ancaman karena sumber penularan kepada manusia lain di sekitarnya kepada siapa pun tanpa memandang umur, jenis kelamin, dan status sosial. Di sisi lain ancaman segmen khusus yang dilaporkan WHO bahwa penyakit ini membunuh satu juta wanita setiap tahun. Pada usia produktif/usia subur wanita mempunyai risiko kematian lebih tingi dibanding teman prianya pada usia yang sama oleh karena faktor hormonal dan gizi. Bagi ibu hamil, ibu bersalin kondisi mereka sedang lemah termasuk sistem kekebalan tubuhnya sehingga mempermudah terkena infeksi sekaligus mengancam penularan kepada bayi, anak, suami dan keluarganya. Disebutkan derajat kesehatan dalam hal ini angka kesakitan karena Tb, faktor penyebab yang paling besar mengancam secara berurutan adalah lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan kemudian yang paling kecil adalah keturunan. Hal ini nampak di lapangan, sebagian penduduk negara berkembang termasuk Indonesia hidup di pedesaan dengan kondisi lingkungan dan sanitasi masih jelek, geografis dan ekonomi kurang mendukung sangat menyulitkan ibu-ibu berobat. Era globalisasi yang berpengaruh negatif terhadap moral, gaya hidup dengan mencuatnya kasus HIV makin merebak karena kekebalan turun akan memudahkan tertularnya Tb. Di samping itu stigma yang masih kental dan rasa malu dengan menyembunyikan diri sebagai penderita sehingga sangat membahayakan. Jadi jelaslah sudah penderita Tb akan terganggu fisik, psikis, maupun sosial sesuai yang tertera dalam (UU No 23 tahun 1992, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif). WHO mencatat Indonesia sebagai hot spot pemegang rekor ketiga terbesar dalam menyumbang jumlah penderita tb di dunia setelah India dan Cina. Kenyataannya di Indonesia penyakit tb merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT 1995) menunjukkan, penyakit tb menyebabkan kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua usia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Tahun 1999, WHO sudah memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru tb dengan kematian sekitar 140.000. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita tb paru BTA (positif). Penyakit tb menyerang sebagian kelompok usia produktif, kelompok ekonomi lemah dan berpendidikan rendah. Melalui peringatan hari tb sedunia kita bangkit dengan menggalang sumber daya yang ada keterpaduan dan terosan terobosan dalam penanggulangan tb. Sebenarnya sejalan dengan kebijakan WHO, Indonesia semenjak tahun 1995 telah melakukan strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse) yaitu strategi yang memberikan obat paling efektif kepada penderita tb yang didiagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis, memastikan mereka meminum obat sampai selesai dan memantau kemajuan pengobatannya sampai sembuh. Strategi ini perlu disosialisasikan dan dioperionalkan mengingat bila dikiatkan dengan produktivitas SDM penyakit ini sangat merugikan karena menyerang kelompok usia produktif yang merupakan SDM potensial yang dibutuhkan bangsa dalam pembangunan nasional. Lima Komponen Secara nasional operasionalisasi strategi DOTS ada lima komponen. Pertama adanya komitmen politis adanya dana/kebijakan dari pengambil keputusan. Inilah yang menurut penulis perlunya dipertajam dalam memperluas keikutsertaan semua pengambil keputusan (di era desentralisasi di setiap jenjang pemerintahan) baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif/baik di pemerintah maupun non- pemerintah/Lembaga swadaya masyarakat lainnya. Kedua: penetapan diagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis dan dukungan jaga mutu melalui pemeriksaan cross chek. Ketiga, pengobatan dengan obat anti-tb jangka pendek dan dengan pengawasan menelan obat (PMO) inilah yang menurut penulis perlu disosialisasikan secara gencar dan sistimatis bahwa penderita tb selaku individu dan seluruh anggota keluarganya tahu sadar mau dan mampu sebagai "pokja" yang tangguh dalam menyukseskan pengobatan penderita tb dalam keluarganya, sekaligus melindungi seluruh anggota keluarganya dari penularan tb. Keempat: tersedianya OAT (obat anti tb) dalam bentuk paket kombipak yang bermutu baik disediakan secara kontinyu inilah pula menurut penulis sangat strategis dipersiapkan di tempat pelayanan kesehatan yang terdekat dengan penderita dalam rangka meluaskan jangkauan pelayanan dan mempercepat pelayanan kesehatan penderita tb. Kelima pencatatan dan pelaporan yang akurat untuk memantau kemajuan dan hasil pengobatan dari penderita. Menurut penulis pelaksanaan di lapangan ada yang masih kurang teratur tetapi ada yang sudah teratur, rapi, tepat waktu dan segera menindak lanjuti dengan kegiatan-kegiatan intervensi sesuai mahasiswa, misalnya kasus-kasus di beberapa tempat telah terjadi Multi drug resistant (MDR)" atau disebut juga kekebalan majemuk yaitu kebal terhadap obat anti - tb. Kemudian dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Mengingat rumit dan luasnya masalah SDM yang terkoyak produktivitasnya akibat terkena tb, tiba saatnya kini para penderita tb yang tersebar di berbagai wilayah dicari solusinya dengan tepat. Sejalan dengan kewenangan dan tanggung jawab pelaksanaan otonomi daerah di masing wilayah provinsi, kabupaten, kota bahkan sampai kelurahan/desa kiranya dapat memfokuskan program pengobatan penderita tuberkulosis yang menggerogoti produktivitas penduduknya melalui strategi Dots. Salah satu lembaga swadaya masyarakat yang sudah tersebar di sebagian besar kabupaten/kota yang bergerak khusus di bidang penanggulangan tb adalah Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. PPTI sebagai lembaga swadaya masyarakat berperan dalam membantu Pemerintah melaksanakan penyuluhan dan penanggulangan pemberantasan penyakit Tb . PPTI didirikan atas dasar kepedulian yang tinggi tentang penyakit tuberkulosis yang belum ditangani secara tuntas dan menyeluruh, oleh pemerintah. Menyadari akan situasi tersebut di atas, dan menunjuk kepada tema dan slogan peringatan hari Tb se-dunia, sangatlah tepat saatnya pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, mengoordinasikan kemitraan keterpaduan instansi, menggalang kemitraan bersama PPTI dan LSM lainnya dan seluruh lapisan masyarakat mempergunakan strategi DOTS guna memberantas tuberkulosis di wilayah masing-masing secara optimal. (18) -Drg H Saifuddin Ali Anwar SKM, pengurus PPTI Jawa Tengah dan Koordinator Widyaiswara Bapelkes Salaman |