
| Senin, 24 Maret 2003 | Ekonomi |
Panen tetapi Tak Ada Petani GembiraSOLO-Para petani di Kabupaten Sukoharjo beberapa pekan terakhir sibuk panen padi. Namun panen raya itu tidak membuat mereka gembira. Para petani mengeluh karena harga gabah jatuh terlampau jauh dari patokan yang ditetapkan pemerintah. ''Harga paling baik di sini hanya Rp 1.050/kg, sedangkan yang kurang baik Rp 1.000/kg,'' kata Sadimin, petani Desa Pondok, Kecamatan Grogol, kemarin. Harga tersebut di atas adalah untuk gabah kering panen. Patokan harga yang ditetapkan oleh pemerintah untuk gabah jenis itu Rp 1.230/kg. Ny Warsi dari Kecamatan Baki mengungkapkan pada masa panen sebelumnya harga gabah masih lumayan. ''Ketika itu baru dipanen dari sawah, kami bisa menjual Rp 1.500/kg, tetapi sekarang hanya Rp 1.100/kg. Repot, harga barang-barang naik, tetapi harga gabah turun. Panen sekarang menyedihkan,'' tuturnya. Langsung Dijual Petani umumnya menjual gabah dalam bentuk kering panen. Begitu padi dipanen langsung dijual. Selain kepada tengkulak luar daerah, petani menjual ke tempat-tempat penggilingan padi yang banyak terdapat tak jauh dari sawah mereka. Mardiwaluyo, petani Desa Pakis, Kecamatan Grogol mengatakan karena harga jatuh ia tidak menjual gabahnya. Menurut dia, petani yang menjual gabah ke tempat penggilingan padi ukurannya adalah beras pecah kulit, yakni beras yang masih ada kulitnya. Setelah digiling menjadi beras pecah kulit harganya Rp 1.900/kg. Agar beras tak remuk gabah yang akan digiling harus dijemur sehingga kualitasnya menjadi gabah kering giling yang kadar airnya rendah. ''Panen lalu harga beras pecah kulit Rp 2.400/kg. Masak sekarang turun sampai Rp 500/kg. Remuk petani kalau begini,'' kata dia sambil menambahkan satu kuintal gabah kalau digiling menghasilkan sekitar 60 kg beras pecah kulit. Lewat cara dijemur dulu untuk dijadikan beras pecah kulit memang harganya sedikit lebih tinggi, tetapi untuk mengubah dari gabah kering panen menjadi kering giling butuh waktu lama dan tenaga banyak. (Subakti A Sidik-53) |