logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Ekonomi  
Line

Perusahaan Tidak Bisa Kirim Barang

  • Akibat Perang AS-Irak

SEMARANG-Perang Irak-AS yang belum diketahui kapan akan berakhir telah menggoyang dunia usaha di Indonesia. Banyak perusahaan yang tidak bisa mengirim barang, meskipun sudah menerima Letter of Credit (LC) dari pembeli di luar negeri.

''Pembeli meminta pengiriman supaya ditunda,'' kata Ketua Koordinator Komite Timur Tengah Kadin Pusat H Anas Bahfen, kemarin.

Meski sudah memberi L/C, lanjut dia, permintaan penangguhan pengiriman barang oleh pemesan tidak menjamin modal kerja bisa berputar, karena barang yang disimpan akan menimbulkan berbagai masalah. Di antaranya keterbatasan ruang penyimpan yang bisa berakibat kerusakan.

''Padahal L/C tidak dapat dicairkan sebelum barang sampai ke pemesan. Meski modal besar, jika batas waktu sirkulasi terhambat tidak diketahui, jelas berakibat pada perputaran modal dan menjadikan pengusaha terlilit bunga bank,'' tuturnya.

Menurut dia, kalau sampai terjadi gangguan pada modal kerja, tidak menutup kemungkinan akan muncul kasus pemutusan hubungan kerja (PHK). Jika itu terjadi, jelas akan menimbulkan banyak pengangguran.

Hingga kemarin pihaknya belum memiliki data berapa perusahaan yang terkena dampak perang AS-Irak tersebut. Namun, beberapa perusahaan tekstil sudah mulai memperhitungkan berapa kontainer barang yang terus digudangkan.

Ketua Asosiasi Perstekstilan Indonesia (API) Jateng Andi Sanang Romawi mengatakan, perang akan memperparah kondisi industri tekstil di Jateng. Masalahnya, tujuan pasar ekspor industri padat karya itu sebagian besar ke AS dan Timur Tengah.

''Kekhawatiran kami akhirnya terjadi. Kalau demikian, kami belum bisa memperkirakan bagaimana perusahaan tekstil di Jateng selanjutnya,'' jelas dia.

Dia belum bisa menyebutkan berapa besar kerugian yang diderita akibat perang tersebut. Namun, ditegaskan kerugian yang diderita sangat besar.

''Soalnya pasar ekspor di wilayah itu saat ini menjadi harapan utama pemasaran ekspor tekstil kita, setelah di negara lain dalam beberapa tahun terakhir terus melesu,'' tandas dia.

Ketua Umum Kadin Jateng H Soendoro memperkirakan ekspor Jateng turun hingga 40% akibat perang tersebut. Penurunan ekspor terutama terjadi pada produk mebel dan pendukungnya.

''Produk mebel paling banyak diekspor ke Timur Tengah dan Eropa. Kalau kemudian terjadi perang, jelas berpengaruh,'' tuturnya.

Perang di Irak bukan hanya berpengaruh pada bisnis negara itu, melainkan juga negara lain di Timur Tengah. Kondisi itu berdampak pada kegiatan bisnis para pengusaha Jateng. Apalagi saat ini pengusaha di provinsi ini baru merintis kerja sama dengan pengusaha di Timur Tengah.(G2,E4-53k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA