logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Ekonomi  
Line

Target Ekspor Belum Berubah

JAKARTA-Meski pecah perang di kawasan Teluk akibat serangan AS dan sekutunya ke Irak, tetapi dampak langsungnya terhadap ekspor Indonesia belum terlihat. Target ekspor 2003 juga belum berubah. Demikian penegasan Menperindag Rini Soewandi, akhir pekan lalu.

Menurut dia, akibat perang tersebut produk pertanian diperkirakan tidak akan mengalami gejolak karena dalam situasi apa pun masih tetap dibutuhkan.

''Saat ini saya belum melihat ada gangguan terhadap ekspor. Ekspor masih berjalan dan untuk beberapa komoditas malah meningkat ,'' jelasnya.

Namun, dia mengaku belum bisa memprediksi gangguan ekspor Indonesia baik ke Timur Tengah maupun ke AS. Apalagi jalur perdagangan internasional masih berjalan baik.

Ekspor ke Afrika dan Timur Tengah rata-rata 2,2 miliar dolar AS. Negara tujuan terbesar adalah Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab.

Pihaknya terus mencari pasar alternatif terlepas dalam kondisi perang atau tidak.

''Kami selalu memonitor perkembangan yang terjadi di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap ekspor dari hari ke hari,'' tambahnya seraya menyebutkan masalah ekspor dan impor diprediksi belum terganggu hingga memasuki April 2003.

Kajian

Sementara itu Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Sudar SA, mengatakan program ekspor Indonesia masih berjalan sebagaimana biasa. Tapi, kajian dampak perang di Irak termasuk lamanya serta komoditas yang akan terhambat, masih dilakukan.

''Saya perkirakan kalau pun terjadi penurunan tidak akan mencapai 50% dari volume sekarang. Mudah-mudahan perang cepat berakhir,'' tuturnya.

Deperindag, lanjut dia, mulai mengumpulkan data ekspor serta sikap asosiasi industri. Penurunan ekspor diperkirakan terjadi pada tekstil dan produk tekstil. Diperkirakan ekspor kedua komotitas itu akan mengalami penurunan 10 sampai 15% dengan pasar terbesar AS.

Demikian juga komoditas kayu yang diprediksi mengalami penurunan, sedangkan sepatu tidak berubah. Komoditas yang mengalami peningkatan adalah karet dan bahan sintetisnya.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan mengangkat harga karet alam.

Pemerintah, kata Sudar, bersama kalangan industri merencanakan mengalihkan pasar komoditas yang diperkirakan akan turun ekspornya.

Pasar alternatif tersebut antara lain Kanada, Eropa, dan Australia untuk tekstil. Untuk kayu masih cukup luas pasarnya karena permintaan tetap tinggi.

Menurut dia, komoditas lain yang kemungkinan mengalami kesulitan adalah industri makanan dan minuman.

Selain kemungkinan peningkatan harga bahan baku, ada masalah kebijakan AS dan sekutunya dalam pemberlakuan UU bioterorisme.

Ketua Gabungan Elektronika (Gabel) Lee Kang Hyun mengatakan kalangan industri penanaman modal asing yang ada di Indonesia lebih memilih sikap menunggu, karena sesuatunya serbatidak pasti.

Dalam situasi perang, tutur dia, ada tiga hal yang memengaruhi harga barang. Pertama, harga dasar barang yang dipengaruhi kurs dolar.

Harga barang memang bisa naik dan turun, tapi dalam kondisi sekarang saat dolar AS menguat dan rupiah melemah harga cenderung naik.

Kedua, biaya asuransi makin mahal. Ketiga, ongkos kirim juga naik karena harga BBM kemungkinan melonjak.

''Hambatan selama perang bukan dalam mengekspor barang tapi dalam mengimpor barang, yaitu barang modal. Akibat perang pengiriman terhambat sehingga sulit berproduksi dan biaya pun bertambah,'' jelasnya.(tri-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA