logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Ekonomi  
Line

Analisis Pasar Modal

Perang dan Harga Saham

KENYATAAN menunjukkan perang AS-Irak benar-benar terjadi. Untuk sementara hampir semua bursa saham di dunia mengalami kenaikan indeks harga saham meskipun variasi kenaikannya berbeda-beda.

Berarti untuk sementara mengandaskan prediksi sebagian analis yang menyatakan perang tersebut akan membuat bursa melemah. Untuk sementara pula membenarkan prediksi analis lain bahwa indeks harga saham justru meningkat.

Di kalangan analis profesional pada tingkat global juga terjadi perbedaan pendapat dalam meramal bursa. Sebagian pesimistis, namun sebagian yang lain optimistis.

Sebagaimana peramal pasar bernama Michael Painchaud, Linch's Richard McCabe termasuk kalangan peramal yang optimistis.

Peramal bursa pada masa perang itu memperkirakan pada akhir tahun 2003 indeks bursa Dow Jones akan berada pada posisi 9.500 sampai 10.000.

Pengamatan dua bulan terakhir IHSG terhadap Dow Jones terbentuk persamaan regresi Y=302+0,0116X. Berarti jika indeks Dow Jones benar menuju 10.000, maka IHSG akan menuju posisi 418.

Perkembangan sementara ini pada bursa Dow Jones mengalami kenaikan. Sebelum perang pada posisi 7.860 dan kini pada posisi 8.287 atau naik 4,2%.

Bursa di Indonesia juga naik dari semula pada posisi 387 menjadi 394 atau naik 1,8%. Sesederhana itukah melihat perkembangan bursa? Perkembangan IHSG tidak hanya dipengaruhi Dow Jones.

Bagaimana perkembangan bursa selanjutnya? Jawabannya adalah bergantung pada faktor x. Dinamakan faktor x karena istilah itu sebenarnya berasal dari terminologi statistik matematik.

Pada analisis statistik dikenal metoda untuk meramal yang disebut analisis regresi. Metoda ini diperkenalkan kali pertama oleh Sir Francis Galton pada tahun 1886.

Sesuatu yang diramal atau diprediksi disebut variabel dependen (Y), sedangkan sesuatu yang akan memengaruhi prediksi tersebut dikenal variabel independen (X).

Variabel yang memengaruhi bisa hanya satu variabel (Dow Jones), tetapi dapat juga beberapa variabel lain. Makin banyak faktor yang memengaruhi berarti kian banyak faktor X-nya, misalnya X1, X2, X3, sampai Xn.

Pertanyaan mendasar adalah mengapa justru begitu perang meletus indeks harga saham meningkat? Masyarakat bursa sebenarnya tidak menyukai perang, dan sebaliknya cinta perdamaian.

Tetapi mereka lebih tidak menyukai ketidakpastian. Begitu perang meletus berarti untuk sementara ada suatu kepastian dalam penyelesaian konflik pada tingkat global.

Jadi peningkatan keyakinan dapat berfungsi sebagai variabel X1. Keyakinan bahwa perang cepat selesai merupakan indikator positif, sedangkan perang yang lama merupakan indikator negatif.

Derajat keyakinan berinvestasi masyarakat investor antarnegara berbeda. Itu merupakan hal wajar mengingat bursa di Indonesia termasuk dalam taraf belum berkembang (emerging market).

Masih terjadi ada pihak tertentu yang dapat memermainkan harga saham di bursa. Intervensi pemerintah lewat kebijakan alokasi dana investasi di pasar modal dengan jumlah dan waktu yang tepat merupakan faktor pendorong dan stabilisator untuk meningkatkan keyakinan berinvestasi.

Di masa perang pada dasarnya masyarakat sebenarnya bursa enggan bertransaksi. Namun mereka menyadari begitu perang selesai bursa akan bergairah.

Dalam keadaan demikian investor tidak mudah lagi mendapatkan saham populer. Kondisi saham yang masih under valued mendorong akumulasi pembelian. Jadi, kondisi saham layak sebagai faktor X2.

Faktor keamanan sebagai reaksi atas perang merupakan faktor yang layak untuk dipertimbangkan sebagai variabel X3. Reaksi berupa demo yang tertib menentang perang akan mendapat reaksi positif dari pasar, sedangkan reaksi yang bersifat anarkis atau teroris membuat pasar bereaksi negatif.

Benarkah ramalan Linch's Richard McCabe bahwa indeks Dow Jones akan menuju 10.000? Atau dengan demikian berarti IHSG akan menuju ke posisi 418?

Perkembangan sangat bergantung pada hijau dan merah variabel X tersebut. Variabel X dengan unsur merah merupakan faktor koreksi terhadap perkembangan bursa. (Sugeng Wahyudi, pengajar pada Program MM Undip-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA