logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 24 Maret 2003 Ekonomi  
Line

Perlu Langkah Konkret untuk Gerakkan Pasar Domestik

JAKARTA-Untuk mengantisipasi akibat perang di Irak, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk menggerakkan pasar domestik. Langkah itu perlu dilakukan agar industri manufakturing dan pertanian dapat bertahan karena ketersediaan pasar baru.

Pandangan itu disampaikan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Komisi Pengembangan Ekonomi Nasional (KPEN) di Jakarta, akhir pekan lalu.

''Langkah paling konkret untuk menggerakkan pasar domestik adalah kemauan ekspansi kredit perbankan ke industri nasional,'' kata Ketua Umum Kadin Indonesia, Aburizal Bakrie.

Menurut Aburizal, dampak perang di kawasan Teluk itu sudah mulai dirasakan. Antara lain dapat dilihat pada penurunan produksi baik yang ditunda maupun dibatalkan akibat ongkosnya meningkat.

Selain itu, ada kekhawatiran masalah persediaan bahan baku dan gangguan dalam transportasi perdagangan.

Meskipun hal tersebut bisa dibantu lewat penyerapan di pasar domestik, lanjut dia, tetapi kesiapan infrastrukturnya masih harus disiapkan.

''Ekspansi kredit yang dilakukan perbankan bagi dunia industri pasti akan merangsang industri nasional yang mulai bingung mengalihkan produk ekspornya,'' tuturnya.

Industri yang bertahan terutama padat tenaga kerja, kata dia, jelas akan menghindari terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan demikian secara tidak langsung akan mengurangi angka pengangguran.

Hal itu berdampak pada daya beli yang akan melemah.

''Karena itu, langkah untuk menggerakkan pasar domestik harus diambil agar tidak menjadikan krisis makin parah. Tentu, tidak hanya mengganti komoditas impor untuk diproduksi di dalam negeri,'' paparnya.

Namun demikian, lanjut dia, penyaluran kredit perbankan masih harus dikonfirmasi dengan kebijakan Bank Indonesia (BI).

''Meski perbankan sudah menyatakan komitmennya dan memiliki dana, tapi apabila payung dari BI dalam ekspansi kredit tidak diperjelas maka stimulan pada sektor riil pun menjadi sulit direalisasi,'' jelasnya.

Dalam kasus itu, dia berpendapat perbankan siap jika BI juga memperlonggar ketentuan mengenai rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) dan kredit bermasalah atau non performing loans (NPL).

''Sayangnya, kami belum membicarakan masalah tersebut dengan BI,'' katanya.

Proyek Pembangunan

Sementara itu Ketua Harian KPEN Sofyan Wanandi mengatakan pemerintah harus secepatnya melaksanakan proyek-proyek pembangunan yang sudah direncanakan di Bappenas. Misalnya proyek yang sebagian besar dananya berasal dari pinjaman lembaga ekonomi dunia yang diperkirakan nilainya mencapai Rp 9 triliun.

Pembangunan proyek yang banyak menyerap tenaga kerja, tutur dia, jelas akan berdampak pada daya beli masyarakat yang membaik.

''Dengan demikian maka market atau pasar domestik akan membaik,'' kata dia seraya menambahkan pemerintah jangan terlalu lama mempertimbangkan hanya karena takut mekanisme, termasuk korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang makin tidak jelas.

Selain itu, lanjut dia, untuk memperbaiki pasar penyaluran kredit kepada sektor usaha kecil menengah (UKM) dan petani sebagaimana sudah dinyatakan perbankan nasional, perlu dipercepat. Demikian juga pajak.

''Kami usulkan jika memungkinkan pemerintah dapat menunda pengenaan pajak agar industri tetap hidup dan tidak terjadi PHK dalam skala besar,'' tegasnya.

Menyinggung ekonomi biaya tinggi dan penyelundupan, Sofyan mengatakan masalah itu perlu segera diminimalisasi agar konsentrasi menggerakkan pasar domestik makin jelas arahnya.

''Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan komoditas utama, misalnya beras, gula, dan bahan baku lainnya agar tetap bisa memenuhi pasokan,'' paparnya.

Sementara itu Benny Sutrisno, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan 50% anggotanya sudah menjerit, bahkan sekitar 10 sampai 15% dipastikan akan tutup.

Menurut dia, pukulan bagi industri dan produk tekstil dalam negeri sangat beruntun. Mulai peristiwa 11 September di AS, bom Bali, kebakaran Pasar Tanah Abang, hingga perang di Irak, yang menyebabkan penyerapan pasar tekstil sudah sangat kurang.

Ekspor ke AS dan Timur Tengah, kata dia, yang merupakan pangsa pasar terbesar banyak yang dibatalkan order pesanannya. Apalagi transportasi perdagangan akhir-akhir ini mulai terhambat.

''Kalau pun ada alternatif pasar persaingan dengan negara pengekspor lain sudah sangat ketat. Semua negara juga akan mengalihkan pasarnya dari Timur Tengah,'' tuturnya.(tri-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA