| INDEKS BERITA HARI INI | Kamis, 20 Maret 2003 |
|
Prancis Tidak Mau Disalahkan
PARIS - Menlu Prancis Dominique de Villepin kemarin mengaku "terkejut dan sedih" atas pernyataan para pejabat Inggris yang memberi kesan Prancis telah menghilangkan solusi diplomatik bagi krisis Irak. "Kami sepenuhnya mengetahui tekanan internal yang membebani Pemerintah Inggris. Tetapi, komentar-komentar tersebut tidak baik bagi sebuah negara yang merupakan sahabat dan mitra di Eropa," katanya, seperti dikutip sumber diplomatik. |
Analisis Serangan Darat dan Udara Akan Dilancarkan Bersamaan DUBAI - Perang Teluk II yang segera pecah, jelas akan berbeda dari Perang Teluk 1991, kecuali hasilnya. Pada perang tahun 1991 (Perang Teluk I), koalisi multinasional pimpinan AS yang jauh lebih besar melemahkan pasukan yang loyal pada Presiden Irak Saddam Hussein dengan serangan udara selama lima pekan, sebelum pasukan darat mengusir mereka dari Kuwait. |
|
|
New York Siaga Kuning
NEW YORK - Pemerintah Kota New York meningkatkan sistem pengamanan kota itu dengan menambah jumlah personel keamanan, menyusul pidato Presiden George W Bush yang mengisyaratkan akan segera menyerang Irak. |
Parlemen Setujui PM Zivkovic
BELGRADO - Parlemen Serbia menyetujui pengangkatan Zoran Zivkovic sebagai perdana menteri, menggantikan Zoran Djindjic yang tewas dibunuh penembak gelap pekan lalu. Sekitar 128 anggota parlemen memberikan suara mendukung Zivkovic, |
|
|
Thailand Susul Para Pekerjanya
BANGKOK - Pasukan Thailand kemarin berada dalam siaga penuh, untuk menghadapi kemungkinan serangan teroris berkaitan dengan perang di Irak. Sementara itu, rencana pengungsian pekerja Thailand di dekat zona perang, sedang dilakukan. |
Dokter Telah Identifikasi Virus Pneumonia
HONG KONG - Para dokter di Hong Kong telah membuat terobosan besar dalam mengidentifikasi virus pneumonia maut yang telah menewaskan sedikitnya 11 orang. Virus itu telah menyebar ke seluruh dunia. |
|
|
Kuba Bongkar Konspirasi Dukungan Amerika
HAVANA - Kuba kemarin menangkap beberapa puluh orang yang dituduh terlibat dalam suatu konspirasi yang diduga dipimpin James Cason, kepala Seksi Kepentingan AS di Havana. |
||