logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 20 Maret 2003 Tajuk Rencana  
Line

Mencermati Peringatan Sekjen ASEAN

- Sekretaris Jenderal ASEAN Ong Keng Yong mengemukakan peringatan sangat penting untuk kita cermati. Negara-negara Asia Tenggara menghadapi kemungkinan serangan balasan atas serbuan Sekutu yang dipimpin AS terhadap Irak. Teroris menganggap berbagai objek AS dan sekutunya, terutama Inggris, Spanyol, dan Australia, gampang jadi sasaran pembalasan. Banyak orang menganggap kawasan Asia Tenggara sasaran empuk dan gampang diserang bagi pelaku teror. Setelah menyerang, mereka langsung lari dan bersembunyi. Sementara perang AS-Irak mungkin pecah pekan ini, para pemimpin ASEAN harus bekerja sama untuk menjamin stabilitas ekonomi dan politik. Bekerja sama menangani dampak konflik untuk meminimalkan kekacauan dan perpecahan di kalangan masyarakat.

- Sebenarnya Sekjen ASEAN mengingatkan kembali hal-hal yang selama ini menjadi keprihatinan kita semua. Serangan AS bisa memicu gerakan radikalisme di kawasan ini. Terutama di kawasan panjang mulai dari Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina. Hal itu sudah kita lihat sesudah peristiwa 11 September 2001 di AS, yang kemudian berbuntut penyerbuan terhadap Afghanistan untuk memburu Usamah bin Ladin. Akibatnya, pengikut Usamah keluar dari Afghan dan menyebar ke berbagai negara. Secara garis besar, dampak buruk Perang Teluk II itu bisa dikategorikan dalam tiga butiran. Kemungkinan objek-objek Sekutu di kawasan ini yang bisa diincar gerakan radikal, dampak buruk di bidang ekonomi dan kemungkinan perpecahan dalam masyarakat.

- Objek-objek Sekutu, apa pun wujudnya, adalah yang paling gampang menjadi sasaran. Objek itu sangat banyak, tersebar sangat luas di hampir tiap negara. Mulai gedung-gedung perwakilan resmi pemerintah seperti kedubes dan konsulat, berbagai jenis industri dan bisnis dengan modal AS, dan lain-lain. Sebagai contoh, massa demonstran kemarin mendatangi rumah makan McDonald di Kompleks Sarinah Thamrin Jakarta. Namun, pendemo kemudian berhasil dibujuk untuk membatalkan niat mereka. Kita bersyukur unjuk rasa ke gedung-gedung Kedubes AS dan Inggris hingga kini berjalan tertib dan aman. Tidak ada ekses-ekses yang merugikan. Namun, bukan tak mungkin, jika perang benar-benar pecah unjuk rasa bakal makin massal, makin panas, dan sulit dikendalikan.

- Dampak buruk di bidang ekonomi sudah lama diperingatkan. Bahkan, kini dampak itu sudah dirasakan, terutama oleh industri yang mengimpor bahan mentah dari Eropa dan AS yang sangat banyak. Bahan mentah yang biasanya diangkut melewati Terusan Suez, terpaksa berputar mengitari Benua Afrika. Hal itu akan menaikkan biaya kapal. Belum lagi biaya asuransi yang bisa naik berlipat akibat risiko yang tambah besar. Kesulitan bahan mentah berakibat langsung terhadap proses produksi. Berbagai sumber mengatakan, banyak industri di Tanah Air yang mulai merancang pengurangan produksi dan jam kerja karyawan. Berbagai maskapai penerbangan yang melayani kota-kota di Timur Tengah sejak ultimatum Bush pada Selasa pagi, banyak yang langsung membatalkan penerbangan.

- Tentang radikalisme kita telah memetik pelajaran sangat pahit dari kasus bom Bali. Salah seorang tersangka pelaku ada yang menyatakan menyesal ketika melihat korban yang jatuh bukan yang sebenarnya diincar, yaitu orang-orang Amerika. Peristiwa itu mengingatkan kita kepada satu hal. Bom Bali telah mendatangkan derita dan kerugian besar bagi bangsa kita. Turis yang menjadi sumber penghidupan warga pulau itu, juga banyak daerah tujuan wisata lain di Tanah Air, turun drastis. Kini mulai ada tanda-tanda akan bangkit. Turis manca mulai berdatangan lagi. Namun ancaman baru muncul. Perang Irak diduga bakal sangat mengurangi turis dari AS dan Eropa, jika tidak malah mandek sama sekali. Sampai kapan, tidak ada yang tahu.

- Kita semua kecewa dan sangat marah terhadap George W Bush yang keras kepala. Mengabaikan opini dunia dan meninggalkan peran DK PBB. Kita bersimpati kepada rakyat Irak yang bakal menjadi korban serangan membabi-buta itu, meskipun tidak berarti mendukung Saddam Hussein. Yang perlu kita perhatikan, kemarahan kepada Bush seharusnya dilakukan secara proporsional. Jangan sampai hal itu menimbulkan tindakan-tindakan yang bisa merugikan kepentingan bangsa kita sendiri. Terlebih lagi jangan sampai masyarakat kita terpecah-pecah karena beda sikap dalam menanggapi kasus itu. Termasuk jika ada yang sengaja meniup-niupkan opini bahwa perang Irak adalah perang agama. Beda pendapat adalah wajar, tapi tidak harus kebablasan menjadi perpecahan.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA