logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 20 Maret 2003 Surat Pembaca  
Line

Tindakan Preventif BIN

Waka BIN As'ad dalam public hearing dengan Pansus RUU Pemberantasan Terorisme di Gedung DPR, 21 Februari lalu menyatakan agar Badan Intelijen Negara (BIN) diberi kewenangan menahan dan memeriksa seseorang yang disangka terkait dengan kegiatan terorisme selama 4x24 jam.

Hal ini menimbulkan berbagai tanggapan sinis karena keinginan tersebut dianggap tumpang tindih dengan kewenangan yang dimiliki oleh Kepolisian dan Kejaksaan.

Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar mengaku bisa memahami keinginan tersebut. Pihaknya tidak melihat ada distorsi tugas Kepolisian jika BIN juga mena ngani penangkapan orang. Menurutnya, BIN memang perlu langkah awal untuk mencegah teroris.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Ishak Latuconsina. Usulan BIN tidak perlu dicurigai terlalu berlebihan, karena didasari KUHP yang tidak dapat melakukan pencegahan terhadap aksi terorisme.

Dalam hal ini, kewenangan yang diinginkan BIN merupakan keinginan wajar, karena tujuannya untuk menangkal secara dini akibat yang lebih luas dan fatal dari aksi terorisme. Apabila kewenangan ini tidak diakomodasi, maka yang akan rugi rakyat sendiri.

Tentang kekhawatiran kewenangan itu disalahgunakan, sebenarnya juga sekaligus dibarengi dengan pemberian rambu-rambu hukum dalam pelaksanaannya. Selain itu, juga diperlukan adanya pengawasan yang terlembaga.

Adhe Soemanto
Jl Siaga Raya 20 Pejaten, Jaksel

***

Tanggapan untuk Bapak Wali Kota

Bravo buat Bapak karena punya kiat mendisiplinkan warga khususnya di bidang lalu lintas di Semarang. Kiat tersebut di antaranya menyebar sejumlah fotografis ke jalan dan memotret langsung pelanggaran yang didiamkan aparat.

Mengajak wartawan untuk bergabung memotret pelanggaran masyarakat pengguna jalan di hadapan petugas tetapi dibiarkan. Mengajak pegawai Pemkot mendukung upaya penegakan hukum di bidang itu.

Bagi yang masih amatir, dia menjanjikan sejumlah uang untuk foto yang memperlihatkan pelanggaran di hadapan petugas tetapi dibiarkan saja. Hasil foto diserahkan kepada atasan petugas.

Selain itu ada pernyataan yang sangat formalistik dan terlampau jauh intervensinya yaitu, selama ini pelanggar baru ditilang surat-suratnya, tetapi sebulan lagi tindakan akan lebih keras yakni penyitaan kendaraan.

Dari pernyataan Bapak tersebut ada beberapa kejanggalan di antaranya mengajak seseorang atau beberapa orang untuk membentuk opini dengan maksud mendiskreditkan atau memojokkan instansi yang paling berwenang mengenai berlalu lintas.

Apakah tidak seyogyanya dimusyawarahkan dulu dengan instansi yang paling berwenang. Juga pernyataan tentang penyitaan kendaraan, apakah sudah sesuai dengan prosedur hukum.

Sepengetahuan saya kalau pengemudi melanggar akan ditilang dan barang buktinya (SIM atau STNK). Kalau salah satu barang bukti tersebut tidak ada, atau kendaraan itu diragukan, baru dilakukan penyitaan.

Dan pernyataan tersebut saya pikir tidak proporsional. Kita sepakat dan sadar, disiplin berlalu lintas bukan tanggung jawab aparat saja tetapi merupakan kepentingan semua pengguna jalan.

Hasan Suhairi SSos
Perum Limbangan Baru
Sokanandi Banjarnegara

***

Hati-hati Ditawari Orang Tak Dikenal

Belum lama ini saya didatangi seorang pria yang mengaku ingin menukar agar-agar yang saya jual dengan yang baru. Gaya bicaranya meyakinkan sehingga saya tertarik. Penukaran barang tidak dilakukan langsung.

Dia membawa sejumlah agar-agar saya dan berjanji akan datang lagi membawa agar-agar yang baru. Namun ditunggu lama dia muncul. Saya tidak ingin kejadian seperti ini menimpa pedagang lain. Karena itu, berhati-hatilah bila didatangi orang tak dikenal yang menawarkan/menukarkan barang yang kita miliki. Kalau tidak ada jaminan, jangan layani.

Enny Wahyu Ningsih
SMU Kebon Dalem Semarang

***

Kelurangan Soal

Saya peserta tes CPNSD Kota Salatiga formasi Tata Negara SMU, mengimbau kepada panitia agar dalam pelaksanaan tes 17 Februari lalu tidak terulang akibat panitia kurang teliti.

Hal ini terkait dengan kekurangan soal, sehingga saya dan kawan-kawan harus menunggu selama satu jam lebih untuk dapat mendapatkan soal. Terus terang menjadikan konsentrasi saya buyar. Jangan sampai hal itu terulang lagi, karena menyangkut masa depan orang banyak.

Ana Ribowo, S.Pd
Dsn Galangan Rt 4/Rw 5 Gentan Susukan

***

KKN Oh... KKN

Bulan Februari - Maret ini, Undip meluncurkan kegiatan rutin KKN (Kuliah Kerja Nyata), di Kabupaten Demak, Grobogan dan Kendal.

Tujuannya memberikan pengalaman belajar mahasiswa di masyarakat, tetapi ternyata sering menghadapi kendala.

Persepsi masyarakat bahwa mahasiswa membawa setumpuk uang untuk mewujudkan bentuk nyata fisik di desa, menjadi citra pikir salah yang menyusahkan mahasiswa.

Barangkali ini terjadi karena sebagian mahasiswa justru memamerkan kekayaannya dengan membuat program kerja "Mobil Mewah Masuk Desa".

Tema "Pemberdayaan sektor ekonomi melalui pengembangan dan peningkatan usaha kecil menengah" yang coba diangkat, dirasa menjadi impian belaka ketika mahasiswa sendiri masih bingung atau tidak mau tahu.

Pembekalan yang dilakukan dirasakan hanya formalitas tanpa diisi materi-materi yang terkait dengan tema pengembangan UKM.

Keterbatasan dana juga menjadi alasan tersendiri yang menghambat, termasuk ketika kerjasama dengan instansi terkait tentang penyuluhan ditolak.

Peran Dosen Pembimbing Lapangan yang praktiknya bersifat "pengawas" tentunya harus ditingkatkan menjadi motivator sekaligus mitra kerja mahasiswa. Pada dasarnya KKN memang membutuhkan kerjasama yang baik di antara semua pihak baik pemerintah daerah, instansi, perusahaan donatur, masyarakat setempat dan kesungguhan peserta KKN.

Yosef Prihanto
Tim I Desa Pasir, Mijen Demak

***

Demo Mahasiswa

Kondisi pemerintahan dan ekonomi yang sedang kacau, mendorong mahasiswa turun ke jalan demi menyalurkan aspirasi dan protes kebijakan pemerintah. Biasanya mereka demo dengan orasi, mogok makan dan doa bersama.

Namun karena ulah provokator, biasanya para mahasiswa terlibat bentrok dengan mahasiswa lain atau aparat keamanan. Bahkan menimbulkan korban luka-luka juga meninggal dunia.

Saya menyarankan kepada seluruh mahasiswa yang demo agar tidak terpancing ulah provokator hingga menyebabkan bentrokan. Karena dengan bentrok, aspirasi mahasiswa menjadi tidak murni dan tercoreng.

Yanita Hartanti
Jl Sidorejo 88 Semarang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA