
| Kamis, 20 Maret 2003 | Sala |
Kwok, kwok... Hi, What's Going On?KWOK.. kwok.. kwok. Hi, what's going on? Father frog said,'' teriak Ester Setyorini sambil menirukan gaya kodok. Siswi SLTP MTA Gemolong itu tampak bersemangat bercerita dalam English Contest di Auditorium Widya Graha Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Satu per satu peserta tampak meyakinkan ketika membawakan sejumlah kisah dalam bahasa Inggris. Memang penampilan meyakinkan bukan satu-satunya penilaian yang menentukan menjadi pemenang. Namun, setidaknya melihat kemampuan mereka, pendapat kemampuan berbahasa Inggris siswa kita lemah tampaknya dapat dipatahkan. Dalam kegiatan yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris itu, sulit kita temui peserta yang tersendat-sendat atau harus berpikir lama untuk mengungkapkan suatu kata dalam bahasa internasional tersebut. Bisa jadi mereka memang yang terbaik yang dikirim dari sekolah masing-masing. Namun, dari mereka kita dapat melihat sebenarnya bahasa Inggris dapat dikuasai dengan belajar tekun. Lalu, apakah perlu persiapan lama sehingga ketika maju dalam event itu mereka sangat lancar? Metri, salah satu pembimbing siswa SLTP MTA Sragen mengatakan, persiapan lomba dilakukan sangat singkat, hanya sekitar satu minggu. Namun, latihan berbahasa Inggris dilakukan setiap hari. ''Biasanya dalam kegiatan sehabis subuh, percakapan dilakukan dalam bahasa Inggris. Sebab, para siswa tinggal di asrama,'' kata dia yang mengaku baru satu tahun menjadi pembimbing bahasa Inggris di sekolah itu. Olah Vokal Dengan berlatih setiap hari, kemampuan berbahasa Inggris dapat muncul dengan cepat. Selain itu, kata dia, kegemaran menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris juga membantu mempercepat penguasaan bahasa tersebut. Kemampuan olah vokal juga mereka tunjukkan ketika jeda istirahat. Kemampuan siswa itu diakui ketua pelaksana kontes Masfuah Fitri. ''Peserta retelling story tingkat SLTP ada 50 peserta. Peserta speech contest ada 11 orang. Kemampuan peserta yang telah maju sangat bagus. Memang ada beberapa yang seperti menghafal. Namun, yang lain terlihat natural,'' katanya. Kontes dibagi dalam dua sesi, yakni pada hari pertama untuk siswa SLTP dan hari kedua untuk SMU. Dengan program tahunan itu, dia berharap, para siswa semakin tertarik terus berlatih berbahasa Inggris. Kemampuan berbahasa itu nanti akan membuka peluang untuk memperluas pengetahuan lain.(Sri Syamsiyah LS-51e) |