
| Kamis, 20 Maret 2003 | Sala |
Hanya 200 M dari MapolwilULAH kawanan perampok bersenjata api di wilayah hukum Polwil Surakarta, semakin menggila. Kasus perampokan di BTPN Kantor Kas Wonogiri dan di PT Sumber Sendang Artoguno (SSA) di Jl Raya Baki, Grogol Sukoharjo, masih samar, kini disusul kasus perampokan brankas ATM BNI di Megaland, Pertokoan Hero Jalan Protokol Slamet Riyadi, Solo. Ironisnya, lokasi kejadian kali ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari Markas Kepolisian Wilayah (Mapolwil) Surakarta. Di Solo, kawanan perampok yang diperkirakan berjumlah lima orang itu, selain bersenjatakan pistol juga melengkapi diri dengan celurit dan pedang. Adapun kendaraan yang digunakan, diidentifikasikan Toyota Kijang kapsul berwarna cokelat. Sebelum membawa kabur brankas ATM berisi uang tunai Rp 39,3 juta itu, kawanan itu terlebih dahulu melumpuhkan tiga orang satpam, Joko Supriyanto, Aris dan Ardian. Agar tidak berteriak, mulut korban dilakban, tangan diikat serta matanya ditutup. Aris mengaku bernasib apes, sebab malam itu sebenarnya dia lepas piket. Dia ada di sana, hanya sekadar menemani rekan-rekannya itu. Adapun, dua rekan mereka yang berjaga di toko bagian belakang Mulyadi dan Suparmin, tidak mengetahui aksi perampokan saat subuh itu. Sebagaimana rekannya yang berjaga di halaman depan, mereka semua tertidur pulas. Namun, keberadaan dua petugas satpam Megaland itu, tidak diketahui penjahat.
Mereka sekali tidak diikat. Namun, karena tertidur mereka tidak bisa menghambat aksi para perampok. ''Saya tidak mengerti, kenapa mereka semua tidur bersamaan. Sebagai pertugas keamanan, tidak seharusnya bertindak demikian,'' kata Kapolresta Surakarta AKBP Bambang Hermanu didampingi Kasatserse AKP Masrur. Pemeriksaan Maraton Karena itu, lanjut Bambang, pihaknya akan melakukan pemeriksaan secara maraton terhadap kelima satpam Megaland. Mereka diindikasikan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Menurutnya, ada beberapa hal yang akan dikembangkan polisi dalam penyelidikan perkara itu, antara lain tentang pembagian waktu istirahat dan alat apa yang digunakan pelaku untuk membawa kabur brankas. ''Perampok minta kunci Inggris untuk membuka baut yang ditanam di lantai,'' jelasnya. Untuk melepas baut secara konvensional itu, lanjut dia, tentu membutuhkan waktu relatif lama. Sedangkan kejadiannya, sebagaimana diungkapkan para satpam terjadi sekitar pukul 04.00. ''Tapi, kenapa orang-orang yang berlalu lalang di lokasi itu, tidak ada yang curiga. Jam-jam itu, kan sudah banyak orang,'' katanya lagi. Kecolongan Pada bagian lain, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Hasyim Irianto SH mengaku kecolongan. Mengingat lokasi kejadiannya sangat dekat dengan markasnya. Meski demikian, dia berjanji akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk membongkar kasus itu. ''Saya belum bisa membuat simpulan, apakahkah kasus ini memiliki kesamaan dengan kasus yang terjadi di Wonogiri dan Sukoharjo. Walaupun, mereka sama-sama menggunakan senjata api.'' jelasnya. Untuk mengantisipasi kemerebakan aksi perampokan, lanjut Hasyim, pihaknya akan mengintensifkan patroli di tempat-tempat rawan, termasuk penyimpanan brankas ATM. Langkah lainnya, dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar menggunakan jasa Polri, saat mengambil uang berjumlah besar di bank. ''Di Megaland, sebenarnya terpasang tiga ATM, tapi hanya ATM milik BNI itu saja yang terletak di luar,'' katanya. Adapun tiga Tim Polwil yang dibentuk untuk mengejar pelaku perampokan Rp 333 juta di BTPN Wonogiri, kini diberi tugas tambahan. Mereka diminta mencari pelaku perampokan di Grogol dan Solo. ''Selain itu, setiap Polres dan Polresta yang di sini, membentuk tim kecil anti perampok yang koordinasinya langsung dari Polwil.'' (Sri Hartanto, Budi Santoso-51) |