
| Kamis, 20 Maret 2003 | Berita Utama |
Karyawan Akan Bekerja BergiliranSEMARANG- TVRI Jateng tengah di ujung tanduk, antara tetap bertahan siaran untuk sekadar memperpanjang umur atau tiarap seketika. Minimnya dana harus disiasati agar bisa mempertahankan siaran dengan tempo lebih panjang. ''Kita tidak boleh putus asa. Masih ada jalan untuk mempertahankan siaran TVRI. Karyawan akan bekerja secara bergilir dalam dua shift,'' ungkap General Manager TVRI Jateng Drs Effendi Anwar kemarin. Dia menambahkan langkah tersebut masih perlu disosialisasikan dengan karyawan. Metode menggilir kerja karyawan tersebut diharapkan mampu menghemat pengeluaran. Dia mencontohkan karyawan tersebut dibagi menjadi dua shift dalam tempo kerja sebulan. Karyawan yang ''diam di rumah'' tersebut tetap mendapat uang gaji dan uang kesejahteraan. ''Cuma mereka tidak mendapat uang makan.'' Karyawan yang memiliki jatah jam bekerja akan tetap mendapat uang makan, sedangkan gaji dan kesejahteraan akan diterima saat ''diam di rumah''. Dengan pola tersebut, lanjut Anwar, uang kesejahteraan Rp 32 juta/bulan dan gaji dengan jumlah yang sama bagi semua PNS bisa ditunda (dihemat?). Ia menjelaskan, karena karyawan dibuat ke dalam dua shift berati pengeluaran awal bisa ditekan. Ini artinya, kedua pos pengeluaran cukup mengeluarkan uang Rp 32 juta/bulan dari yang seharusnya Rp 64 juta/bulan. Atau, cukup mengeluarkan Rp 18 juta setiap dua minggu. ''Karena pembayarannya tiap dua minggu, sisanya masih bisa dicari sambil berjalan. Ini untuk mengurangi pengeluaran awal,'' terangnya. Dia optimistis, sisa dana operasional bagi karyawan itu akan tetap terpenuhi. Hanya saja, dia tidak bersedia menjelaskan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk memenuhi kekurangan itu. Karyawan yang bekerja lebih awal, tambahnya, dianggap kerja dulu baru dibayar. Karena itu, mereka tergolong karyawan yang patuh, taat, dan loyal terhadap perusahaan. ''Mereka adalah karyawan yang satu komando untuk berjibaku, mempertahankan agar TVRI tetap siaran,'' ujarnya. Dia menyebutkan, jalan itu menjadi pilihan karena tidak ada jalan yang lebih baik. Dengan mengurangi jam tayang tidak akan membuat TVRI lebih lama bertahan, itu terbukti dari dua stasiun TVRI di Sumatera. ''Kami memilih untuk menggilir karyawan, siapa tahu upaya ini justru bisa bertahan lebih lama,'' katanya. Digaet Swasta Angin segar sebenarnya sudah berhembus sejak adanya pendekatan dari Pro TV (Jakarta) yang berniat untuk memanfaatkan frekuensi UHF dengan peralatan milik TVRI. Menurut dia, sementara ini terdapat perjanjian dengan sewa Rp 100 juta/tahun selama tiga tahun. Dengan catatan, lanjutnya, setiap tahun besarnya sewa tersebut bisa ditinjau kembali. Selain itu, Pro TV harus membayar sewa peralatan yang lain sebesar Rp 40 juta/bulan selama enam bulan. ''Uang sewa tersebut harus dibayar di depan. kalau tidak saya tidak mau. Ini juga upaya untuk mengeliminir gejolak,'' tandasnya. Kendati frekunsi UHF itu sudah disewa hingga ditayangkan, siaran VHF tetap berjalan. Menyangkut soal sumber daya manusia, dia mengungkapkan TVRI memiliki karyawan-karyawan terbaik. Apabila pihak swasta itu ingin merekrut tenaga lagi, lanjutnya, dipersilakan.(G1-60) |