
| Kamis, 20 Maret 2003 | Berita Utama |
TVRI Jateng, Nasibmu Kini (1)
Ibarat Kapal yang Hampir Tenggelam
SEPERTI halnya kondisi TVRI Pusat yang hampir bangkrut, TVRI Jateng mengalami nasib serupa, dihadapkan pada persoalan kekurangan dana operasional. Bagaimana kondisi televisi kebanggaan masyarakat Jateng itu saat ini? Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Agus Toto Widiatmoko yang diturunkan berseri mulai hari ini. IDE Gubernur Jateng (waktu itu) Soewardi membangun stasiun TVRI Semarang di Pucanggading tergolong nekat. Meski menyedot anggaran besar, tetap dilakukan karena dipandang sudah saatnya provinsi ini memiliki stasiun televisi sendiri. Setelah obsesi itu terealisasi, langkah nekat Soewardi mendapat pujian dari banyak pihak. Stasiun televisi ''pelat merah'' itu dalam beberapa tahun eksis. Dalam perkembangannya ternyata bayang-bayang suram mulai muncul. Belum lagi masalah sumber daya manusia yang menumpuk yang tidak diimbangi ruangan yang cukup, masalah biaya operasional menjadi kendala utama. TVRI Jateng, nama ini untuk lebih mendekatkan dengan komunitas regional dibanding dengan sebutan TVRI Semarang, memiliki 315 karyawan. Status 255 karyawan sebagai PNS dan sisanya honorer kontrak. Dengan karyawan mayoritas PNS tak bisa dihindari pola kerja birokrat. Seorang karyawan senior mengemukakan, perlunya perubahan mental dari semua karyawan dari pola birokratis yang hanya mau dilayani menuju ke mental berjiwa swasta. Semakin giat bekerja, berarti pendapatan makin tinggi, lanjutnya. Stasiun televisi dengan jam tayang siaran lokal empat jam kini terkena empasan badai. Kucuran dana dari pusat tak lagi mengucur sejak Desember 2002. ''Kami sudah mulai membiayai sendiri sejak Desember lalu. Dana dari pusat Rp 250 juta belum cair sampai sekarang,'' tutur General Manager Perjan TVRI Jateng Drs Effendi Anwar, kemarin. Pemasukan dari iklan tidak mungkin bisa diandalkan. Kue iklan semakin kecil dengan bermunculannya televisi swasta yang memiliki program siaran menggiurkan. Untuk mengurangi jam siaran, ujar Effendi Anwar, TVRI Jateng tidak ingin senasib dengan TVRI Medan dan TVRI Palembang. ''Mereka juga tenggelam setelah menghemat biaya operasional.'' Saat ini program yang memiliki pemirsa tergolong tinggi seperti ''Obrolan Simpanglima'' sudah dihapus. Penyebabnya, tidak ada dana cukup untuk menayangkan siaran langsung tersebut yang menelan hingga biaya belasan juta rupiah itu. Jangankan untuk siaran, pengeluaran rutin seperti biaya kesejahteraan karyawan berstatus PNS memerlukan dana Rp 32 juta/bulan. Belum lagi uang makan yang jumlahnya tidak jauh berbeda dari dana kesejahteraan. ''Diibaratkan sebuah kapal, TVRI Jateng ini sudah hampir tenggelam. Upaya apa pun yang dilakukan juga akan tenggelam. Namun kita boleh pasrah, sehingga yang diperlu dilakukan adalah upaya agar kapal itu tidak lekas kandas,'' tuturnya. Betapa tidak? Pengeluaran Rp 250 juta yang dahulu ditanggung pusat harus ditangani sendiri. Padahal tidak terdapat pemasukan tetap dari iklan atau sponsor. Kucuran dana APBD Jateng juga sudah dihentikan. Bayangkan saja, jika untuk menayangkan sebuah siaran features misalnya, semua peralatan yang tidak berada dalam kondisi 100% harus bisa difungsikan maksimal. Peralatan di Ruang Master Control dan Ruang Continuity sudah tambal sulam. Tidak ada biaya untuk mengganti perangkat yang rusak. Karena itu, karyawan berprinsip, yang penting harus bisa siaran. Jika tidak nekat, tayangan features yang mengangkat kehidupan rakyat kecil di sudut-sudut Kota Semarang tidak bakal tampil di layar kaca. Peralatan operasional lain seperti kamera juga tidak kalah mengenaskan. Dari 12 buah kamera yang dimiliki, tinggal delapan kamera yang bisa difungsikan. Delapan kamera itu saja tidak semua dalam kondisi baik. Empat di antaranya tidak bisa diandalkan, misalnya baterai cepat habis. Praktis tinggal empat kamera yang bisa diusung setiap saat untuk berburu berita bagi 64 reporter. Bila kondisi itu terus berlangsung, bukan mustahil dalam waktu beberapa bulan ini televisi dengan aset Rp 1, 2 miliar akan gulung tikar. Adakah jalan keluar yang terbaik bagi TVRI Jateng yang kerap menyiarkan ketoprak, campur sari, dan dangdut itu?(bersambung-60j) | |||||