
| Kamis, 20 Maret 2003 | Berita Utama |
FPDI-P dan FPP Rapatkan Barisan
SEMARANG - Untuk menghadapi koalisi empat fraksi, yakni FKB, FPG, FTNI/Polri, dan FAN dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng periode 2003-2008, jajaran FPDI-P dan FPP kini mulai merapatkan barisan. ''Saya menilai, koalisi empat fraksi itu sah-sah saja, sehingga tidak perlu dipersoalkan. Kondisi ini justru menunjukan dinamika politik di Jateng semakin baik,'' kata Wakil Ketua FPDI-P Wuwuh Beno Nugroho SH, kemarin. Dia mengemukakan, koalisi fraksinya dan FPP merupakan hasil keputusan dalam rapat DPD PDI-P beberapa waktu lalu. Dengan demikian, kebijakan partai itu harus diamankan oleh semua anggota FPDI-P. ''Saya kira tak ada alasan untuk tidak mengamankan hasil keputusan DPD PDI-P itu. Saya yakin teman-teman di FPDI-P juga siap mengamankan keputusan itu,'' tandasnya. Sekretaris DPD PDI-P Jateng itu menekankan, alasan penggandengan FPP itu karena mencontoh suksesi nasional yang berhasil mengantarkan duet Megawati dan Hamzah Haz menjadi presiden dan wakil presiden. Selain itu, ada kesamaan dalam hal paham partai. PDI-P partai nasionalis religius, PPP partai religius nasionalis. ''Jadi klop sudah. Sampai sekarang, koalisi FPDI-P dan FPP masih tetap kami pertahankan. Munculnya koalisi empat fraksi itu justru menjadikan FPDI-P dan FPP bertambah solid,'' ujarnya. Seperti diberitakan, setelah secara resmi FPDI-P dan FPP berkoalisi berkaitan dengan Pilgub 2003-2008, kini berembus isu terjadi koalisi empat fraksi tersebut. Koalisi itu untuk menghadapi laju duet Mardijo-Hisyam Alie. Koalisi empat fraksi itu terbentuk setelah muncul koalisi FPDI-P dan FPP. Tak Berhadapan Sementara itu Sekretaris FPP Dra Munawaroh Nurhadi berpendapat, kelahiran koalisi empat fraksi itu sah dan menunjukan dinamika politik di Gedung Berlian semakin tumbuh baik. ''Lo itu sah-sah saja, tidak perlu dihadapi. Wong kami merasa tak berhadapan kok,'' katanya. Dia mengemukakan, koalisi fraksi-fraksi itu akan tampak jelas setelah proses pendaftaran calon pasangan cagub dan cawagub mendatang. Saat ini, lanjutnya, belum tampak jelas adanya koalisi fraksi itu. ''Bila sekarang muncul duet Mardijo-Hisyam Alie, itu kebijakan DPW PPP, bukan kebijakan FPP. Sampai sekarang, belum ada perintah dari DPW untuk mengamankan calon tersebut. Namun, prinsipnya kami siap mengamankan bila ada perintah seperti itu.'' Dia menjelaskan, semua masyarakat memiliki hak yang sama untuk mendaftarkan diri menjadi cagub atau cawagub. Asalkan orang itu mendaftarkan diri kepada panitia pemilihan. Setelah itu, panitia itu menyerahkan dokumen calon ke tiap-tiap fraksi. ''Fraksi kemudian menyeleksi calon itu sesuai dengan kebijakan fraksi. Apakah cagub itu harus melakukan debat publik, diskusi interaktif dengan masyarakat atau kegiatan lain, itu tergantung pada kebijakan fraksi.'' Ketua FPP Drs Hisyam Alie berpendapat, semakin banyak cagub dan cawagub akan semakin baik. Kondisi itu mencerminkan proses demokrasi di Jateng semakin tumbuh baik. ''Sejak dahulu FPP berharap agar calon gubernur Jateng banyak, sehingga persaingan kandidat semakin ramai,'' tandasnya. Terlalu Hati-hati Meski PDI-P dan PPP sudah resmi berkoalisi dengan mencalonkan Mardijo-Hisyam Alie dan FPG yang bersiap-siap mencalonkan Mayjen (Pur) HS Kirbiantoro SIP MBA, hingga kemarin Gubernur H Mardiyanto belum juga mau beranjak dari tempat duduknya. Hal itu menimbulkan tanda tanya besar dari sejumlah kalangan, baik dari LSM maupun anggota DPRD Jateng. Bahkan sikap diam itu menimbulkan berbagai spekulasi. ''Mengapa PPP mau berkoalisi dengan PDI-P, karena selama ini belum ada ketegasan sikap dari Pak Mardiyanto. FPG mau menerima Pak Kirbi, juga karena fraksi itu belum dia dihubungi,'' kata sumber di Gedung Berlian. Namun, sumber lain di Gedung Setda Pemprov Jateng menyatakan, Mardiyanto tidak akan gegabah mencalonkan diri sebelum Dewan menerima LPJ-nya. ''Jika Pak Mardiyanto muncul di permukaan sebelum LPJ-nya diterima Dewan, saya yakin dia langsung dihabisi. Atau paling tidak, jika Dewan menerima LPJ-nya, pasti dengan catatan. Tentu saja, secara moral hal ini memengaruhi pencalonannya nanti,'' katanya. Pengamat politik Drs Mahfudz Ali MSi menilai, Mardiyanto sedang menghadapi dilema. ''Jadi blunder-nya itu pada LPJ. Kalau dia maju sekarang, barangkali dia akan dihabisi,'' tandasnya. Proaktif Ketua FAN dr H Kusno Hadi SH MBA menyatakan, meski sedang mengatur strategi, sebaiknya Mardiyanto sudah mulai proaktif. Terutama dalam hal menghubungi fraksi-fraksi di luar FPDI-P dan FPP. ''Kesempatannya masih terbuka lebar. Sebab, masyarakat memang mendukung. PAN juga mendukung, karena kami sangat berharap pilgub nanti tidak ada politik uang. Saya rasa beliau terlalu berhati-hati,'' ujarnya. Dia menyadari, Mardiyanto tengah melihat peta politik di Gedung Berlian, sehingga tidak grusa-grusu dalam melangkah. Namun, dia berharap Mardiyanto tetap proaktif dengan fraksi-fraksi di luar FPDI-P dan FPP. ''Kalau memang beliau mencalonkan diri, langkah yang harus dilakukan saat ini, ya proaktif ke fraksi-fraksi.'' (D14,D6-29,64jk) |