logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 20 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Warga Kurdi Lari ke Perbukitan

ERBIL - Ribuan warga Kurdi Irak yang panik, telah lari menuju bukit-bukit di daerah mereka di Irak utara. Namun, tidak ada pelarian besar-besaran warga Irak dari wilayah yang dikuasai pemerintah, menjelang invasi pimpinan AS.

Beberapa jam setelah Presiden AS George W Bush memberi waktu 48 jam kepada pemimpin Irak Saddam Hussein untuk meninggalkan negara itu, atau menghadapi perang, warga Kurdi segera melarikan diri dari ibu kota Kurdistan, Erbil.

Mereka masih trauma pada serangan senjata kimia Irak pada masa lalu. ''Mungkin Saddam tidak punya kemampuan untuk menyerang kami,'' kata Nawzad, seorang pengacara yang mempunyai toko jam, kepada Reuters.

''Tetapi orang-orang di sini sebelumnya pernah mengalami serangan dari tentara Irak,'' katanya, sambil mengemasi barang dagangan dan menutup tokonya.

''Tetapi jika negara besar dan kuat seperti AS mengatakan Saddam punya senjata pemusnah massal, mengapa orang-orang awam seperti saya harus percaya ketika Saddam berkata tidak punya senjata-senjata itu?''

Pasar Erbil telah ditinggalkan dan sebagian besar toko tutup. Jalan-jalan di utara Erbil, jauh dari garis depan pasukan Saddam, dipenuhi oleh keluarga-keluarga yang berebutan tempat di truk-truk yang penuh dengan barang-barang milik mereka.

Ratusan warga Kurdi dari kota minyak Kirkuk, yang berada di bawah kekuasaan Saddam, mengalir ke daerah kantong Kurdi yang dibentuk setelah Perang Teluk 1991.

Pada waktu itu, dua juta warga Kurdi Irak melarikan diri ke Turki dan Iran untuk menghindar dari serbuan pasukan Irak yang melumpuhkan pemberontakan mereka.

Tetangga Siap Antisipasi

Namun negara-negara tetangga Irak, yang kemungkinan bakal kebanjiran pengungsi perang, melaporkan hanya beberapa pengungsi yang telah tiba di perbatasan mereka.

''Kami sejauh ini belum menerima laporan apa pun yang mengindikasikan ada arus pengungsi dekat perbatasan kami,'' kata Ahmad Hosseini, wakil mendagri Iran untuk urusan pengungsi, kepada Reuters.

Sekitar satu juta warga Irak, sebagian besar suku Kurdi dari Irak utara dan muslim Syiah dari Irak selatan, menempati penampungan di Iran setelah Perang Teluk 1991. Sekitar 200.000 lainnya tetap berada di negara itu.

Di Ruweished, perbatasan Yordania, taksi-taksi putih dan oranye Irak datang dari Bagdad dalam keadaan penuh penumpang, dan kembali tanpa penumpang.

''Berbagai kewarganegaraan telah meninggalkan Irak, seperti warga Irak, Sudan, dan lainnya. Mereka hanya orang-orang asing dan warga kaya Irak,'' kata Sabah Nouri (45), sopir taksi Irak.

Seorang pebisnis Irak yang mengaku bernama Ahmed, me-nempuh jalan lain. Setelah mendengar ultimatum Bush, dia sadar harus mencari visa keluar untuk istrinya yang sedang hamil dan anak-anaknya.

''Jika perang berlangsung empat hari lagi, saya mungkin punya kesempatan untuk keluar. Jika perang berlangsung lebih cepat, saya mungkin tidak punya kesempatan,'' kata pria 33 tahun itu, yang berulang kali melakukan perjalanan ke Yordania.

Iran, seperti Turki, Yordania, Suriah, Arab Saudi, dan Kuwait, berencana menahan para pengungsi Irak di kamp-kamp perbatasan, walaupun memberi jalan bagi pengungsi asing dari negara lain.

''Kami akan menutup perbatasan. Tetapi karena alasan kemanusiaan, sebagian akan diizinkan,'' kata seorang pejabat Yordania.

Butuh Dana Besar

Badan pengungsi PBB, yakni Komisi Tinggi untuk Pengungsi (UNHCR), memprediksikan 600.000 warga Irak akan melarikan diri dari negara itu jika terjadi perang.

Separo dari mereka akan menuju Iran, sedangkan sisanya ke Turki, Suriah, dan Yordania. Namun sampai Selasa lalu, UNHCR menekankan bahwa hal itu hanya skenario saja.

''Kita mungkin bukan hanya melihat beberapa pengungsi, melainkan ratusan ribu,'' kata Ron Redmond, kepala juru bicara UNHCR di Jenewa.

Badan PBB itu sedang mencari dana 60 juta dolar (sekitar Rp 540 miliar) untuk memasok bahan makanan dan bahan pokok lain ke penampungan-penampungan di negara-negara tetangga Irak.

Tetapi, sejauh ini baru diperoleh 19,5 juta dolar (sekitar Rp 175 miliar) dari para donatur. Jumlah dana yang diterima itu termasuk 2,77 juta dolar (sekitar Rp 24 miliar) dari Inggris, ungkap Redmond.

Badan itu telah membelanjakan 25,8 juta dolar (sekitar Rp 232 miliar) untuk kegiatan-kegiatannya di Afghanistan dan negara-negara Balkan. Tetapi, dia mengatakan dukungan internasional belum datang.

UNHCR sebelumnya telah ''menempatkan'' cadangan-cadangan darurat di Turki, Iran, dan Yordania untuk sekitar 300.000 orang. ''Kita seharusnya punya cadangan yang cukup untuk 350.000 orang dalam beberapa hari terakhir ini,'' kata Redmond.

Badan pengungsi itu meminta negara-negara tetangga Irak untuk tetap membuka perbatasan mereka seandainya terjadi konflik, sehingga para pengungsi dapat ditolong.

Bantuan Terlambat

Hosseini dari Iran mengeluh, bantuan internasional datang terlambat untuk membantu negara itu mengatasi kemungkinan kebanjiran arus pengungsi.

''Kami memperkirakan sekitar 200.000 sampai satu juta warga Irak akan memasuki perbatasan-perbatasan kami. Kami membutuhkan 20 juta dolar (sekitar Rp 180 miliar) pada tahap awal untuk merawat 200.000 orang,'' katanya.

''Sayangnya kita belum menerima bantuan apa pun. Dan Anda tahu, pemerintah dan rakyat kami tidak akan mau membayar biaya perang yang dikobarkan Amerika dan negara-negara lain.''

Arab Saudi mengatakan telah menyiapkan tempat penampungan untuk sekitar 100.000 pengungsi Irak di perbatasan sebelah utara.

Mamoon Muhsen, juru bicara UNHCR di Riyadh, mengatakan sebagian besar pengungsi Irak diperkirakan menuju Iran dan Turki, dan sebagian lagi ke Suriah dan Yordania.

''Kami tidak mengantisipasi gelombang besar pengungsi ke Arab Saudi atau Kuwait. Jika ada, mereka pasti orang-orang muslim Syiah dari Irak selatan,'' katanya. (rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA