
| Kamis, 20 Maret 2003 | Berita Utama |
Evaluasi Haji 2003Tiap Tahun Muncul Persoalan Baru
SEMARANG- Meskipun penyelenggaraan haji setiap tahun dievaluasi dan penyempurnaan di sana-sini tetapi selalu muncul persoalan baru. ''Memang al-hajju al-muskilat. Artinya, pelaksanaan haji tidak bisa lepas dari masalah,'' kata Kakanwil Depag Jateng Drs HM Chabib Thoha MA dalam rapat evaluasi penyelenggaraan haji 2003 di aula Kanwil Jalan Sisingamangaraja 5 Semarang, kemarin. Acara itu dibuka Wagub Jateng Ir Mulyadi Widodo, dihadiri Kepala Biro Kesra Pemprov Jateng dr H Anung Sugihantono, Kakanwil Depag DIY Drs H Sudiyono, dan Kakanwil Depag Kalteng Drs H Mudzakir, serta Kasubdit Dokumen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Depag RI H Nunun Firdaus. ''Alhamdulillah, kami menilai pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji lewat embarkasi Adisumarmo semua berjalan lancar. Namun muncul persoalan baru di Tanah Suci, yaitu pelaksanaan taraddudi (transportasi bolak-balik Arafah-Muzdalifah-Mina). Seandainya sistem baru itu berjalan lancar, insya Allah tidak ada hambatan. Ya perbaikan di sana-sini saya kira itu wajar,'' papar Sekretaris Umum MUI Jateng Dr H Ahmad Rofiq MA. Chabib mengusulkan kepada Menag, apabila 2004 Pemerintah Arab Saudi akan memberlakukan sistem itu lagi, RI harus menuntut paling tidak tiga syarat. Pertama, perbaikan manajemen sektor atau maktab yang bertanggung jawab di Muzdalifah. Kedua, perbaikan fasilitas di kawasan itu mengingat tahun ini tidak tersedia fasilitas apa-apa kecuali sarana MCK yang sangat terbatas. Ketiga, jalur jalan raya menuju ke Mina untuk haji Indonesia harus ditambah dari satu menjadi tiga jalur. Ada tiga jalur, yaitu jalur 7 langsung mengakses menuju ke jamarat (tempat lempar jumrah), jalur 8 langsung menuju ke permukiman haji Indonesia, dan jalur 9 langsung ke Makah. ''Tahun ini yang dibuka hanya satu jalur, yaitu jalur 8. Karena itu begitu macet, ya sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali harus berjalan kaki.'' Tujuh kali Wagub Ir Mulyadi Widodo mengemukakan, embarkasi Adisumarmo Solo telah dipakai tujuh kali pemberangkatan dan pemulangan haji. Masalah yang dihadapi tiap tahun selalu berbeda-beda. Persoalan tahun ini yang menonjol, jelasnya, terjadinya pembatalan jamaah haji secara mendadak dari kabupaten/kota yang menimbulkan keruwetan penanganan. ''Berkaitan dengan itu, yang menjadi persoalan adalah kekurangcepatan petugas haji mengantisipasi masalah dengan menginformasikan ke PPHI di embarkasi,'' ungkapnya. Masalah lain, ujar Wagub, ada kemunduran jam penerbangan lantaran gangguan teknis pesawat yang menyebabkan keresahan jamaah lantaran kru pesawat kurang cepat menginformasikan penyebabnya. ''Kekeliruan atau tertukarnya penempelan foto pada dokumen paspor menimbulkan masalah teknis.''(B13-60j) | |||||