logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 20 Maret 2003 Berita Utama  
Line

BEM Se-Jatim - BMI Bentrok

MALANG-Aksi demo damai yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) se- Jawa Timur yang diikuti beberapa perguruan tinggi dari berbagai kota, kemarin (19/3) berakhir ricuh. Aksi mereka berhadapan dengan massa yang menamakan diri Banteng Muda Indonesia (BMI). Bahkan, beberapa anggota BEM harus masuk Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang.

Yang menarik, di antara kerumunan BMI terdapat tiga anggota DPRD dari FPDI-P Kota Malang, yaitu Wirlo Hadi, Yacob Kun Nyio, dan Widyanto yang bahkan aktif ikut mengejar anggota BEM. Aksi penghajaran itu seusai BEM berorasi di gedung Dewan dan dalam perjalanan pulang menuju ke Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) yang dijadikan tempat berkumpul.

Begitu tiba di depan Museum Brawijaya, informasi yang diterima mahasiswa dari polisi, ternyata sekitar 20-an BMI sedang menuju ke museum. Kalangan mahasiswa tidak menyadari massa BMI yang mengenakan kaus merah bertuliskan ''Banteng Muda Indonesia'' itu memang sengaja mengejarnya.

Begitu bertemu, massa BMI mengamuk dan membabi buta memukul mahasiswa dengan beragam pukulan, antara lain ada yang bersarang di pipi Siti Munawaroh, mahasiswi UIIS. Mulin yang juga dari UIIS mengalami gegar otak. Meski mereka sudah berusaha menyelematkan diri dengan masuk Museum Brawijaya, ternyata kejaran massa BMI terus berlanjut. Bahkan leher kiri Zaki kena sayatan belati dan kini dibalut dan dalam perawatan RSSA.

Bentrok sekitar pukul 11.30 itu memakan korban tidak sedikit dari kalangan mahasiswa, enam lainnya ada yang mengalami luka-luka di kaki. Yang jelas kedelapan mahasiswa kini dalam perawatan intensif di UGD RSSA. Bahkan, hingga siang kemarin sekelompok mahasiswa masih berjaga-jaga di depan ruang UGD.

Yang disesalkan kalangan mahasiswa, tindakan polisi yang sepertinya tidak sepenuh hati menghalau massa BMI, bahkan ada kesan memberi peluang. Padahal BEM itu melakukan autokritik terhadap kepemimpinan Megawati-Hamzah Haz dalam aksi damai. "Jika mereka tidak menerima Mega didemo, jangan seperti itu tindakannya. Apalagi kami hanya menilai Mega-Hamzah gagal, bukan minta turun," tandas Megiyanto.

Tak Rela

Sementara itu massa BMI mengaku tidak rela bila duet Megawati-Hamzah, khususnya Megawati, dihujat seperti itu. ''Kondisi ekonomi yang ada sekarang bukan sepenuhnya kesalahan Megawati, melainkan merupakan peninggalan pemerintahan sebelumnya,'' jelas sementara anggota BMI yang enggan disebut namanya.

Apalagi Kapolresta Malang AKBP Fatkhur Rachman dalam keterangannya kepada wartawan menampik keras adanya bentrok massa. "Tidak ada bentrokan, mereka hanya salah paham saja. Bahkan juga tidak ada yang ditahan, kalaupun ada yang di kantor polisi, itu hanya diminta keterangan saja," ungkapnya.

Ketua DPC PDI Kota Malang Drs Peni Suparto yang ditemui di tempat kejadian mengatakan, mereka bukan BMI murni. Sebab, dua minggu lalu BMI mengadakan gerak jalan dan membagi-bagi kaus. ''Bisa saja yang melakukan tindakan seperti itu bukan BMI murni tapi orang lain.''

Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Heru Susanto berpendapat, sekalipun tidak ada yang ditahan, penyelidikan tetap berjalan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. "Masyarakat supaya menyikapi masalah itu dengan tenang dan jangan emosional. Dudukkan pada porsi yang sebenarnya, dan biarlah polisi menyelidiki," papar Kapolda saat ditemui di Pondok Pesantren Al-Hikam, kemarin seusai bersilaturahmi dengan Ketua PBNU Hasyim Muzadi.(jo-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA