
| Kamis, 20 Maret 2003 | Berita Utama |
Pasukan Darat AS Dekati Irak
BAGDAD - Pasukan invasi pimpinan AS kemarin mulai bergerak menempati posisi-posisi strategis, untuk melancarkan perang menyingkirkan Presiden Irak Saddam Hussein. Sehari setelah Saddam menolak ultimatum Amerika untuk meninggalkan Irak, Panglima Armada AS di kawasan Teluk mengatakan, awal perang sudah sangat dekat. Pesawat-pesawat Inggris dan AS menebar selebaran ke daerah-daerah Irak. Isinya, mendesak serdadu Irak agar tidak menggunakan senjata pemusnah massal atau membakar sumur-sumur minyak. Selebaran itu juga menyarankan mereka agar meletakkan senjata, ''daripada mati sia-sia tanpa alasan yang jelas''. Sumber-sumber keamanan Kuwait mengatakan, pasukan Amerika kemarin bergerak memasuki zona demiliterisasi (DMZ) yang membentang di antara perbatasan Irak-Kuwait. ''Pasukan bergerak ke DMZ siang ini sekitar pukul 11.00 (pukul 15.00 WIB),'' kata sumber pasukan keamanan Kuwait di Umm Qasr, timur DMZ, Rabu. ''Konvoi militer Amerika masih bergerak menuju Umm Qasr.'' Di tempat lain di suatu gurun Kuwait, pasukan AS mengenakan pakaian pelindung senjata pemusnah massal, ketika mereka melintasi Irak selatan. Badai pasir mengurangi jarak pandang mereka menjadi hanya beberapa meter. ''Kami hanya dapat melihat beberapa meter di depan,'' kata koresponden Reuters Andrew Gray, yang berada bersama satuan infantri US Army (AD AS) di Kuwait utara. Para komandan militer AS mengatakan, cuaca seperti itu dapat memainkan peran dalam hal penentuan waktu serangan. Badai gurun mengurangi jarak penglihatan, tapi sebaliknya juga memberikan perlindungan dari pandangan musuh. Presiden George W Bush, yang menuding Saddam menyembu-nyikan senjata kimia dan biologi, memberinya waktu sampai Kamis pagi pukul 04.15 waktu Irak (08.15 WIB) untuk mengasingkan diri bersama putra-putranya. Bakal Mati Sia-sia Ketika Washington mendesak tentara Irak agar minggir dan tidak melakukan perlawanan, Laksamana Madya Timothy Keating, panglima Armada Kelima US Navy (AL AS), memberi semangat kepada pasukannya. ''Saya kira, sangat mungkin beberapa hari lagi jet-jet tempur akan menggempur Irak dari kapal induk USS Abraham Lincoln,'' katanya kepada para pelaut kapal induk tersebut. Bush dan sekutu utamanya, PM Inggris Tony Blair, telah mengerahkan 280.000 serdadu di wilayah Teluk, untuk menangkap Saddam dan menggulingkan pemerintahnya. Di Bagdad, Menteri Penerangan Irak Mohammed Saeed Al-Sahaf mengatakan kepada para wartawan, invasi ke Irak bukan hal mudah, bahkan mungkin akan gagal. ''Mereka akan mati sia-sia,'' katanya, dalam suatu pesan kepada serdadu AS dan Inggris. Arab Saudi menyiagakan 15.000 tentara khusus untuk menjaga ladang-ladang minyaknya dari kemungkinan serangan Irak. Demikian media massa setempat melaporkan, Rabu. Menurut kantor berita SPA, puluhan ribu prajurit pasukan khusus menjaga ladang-ladang minyak tersebut. Mereka diperkuat oleh alat penangkis serangan rudal. Kesiagaan pasukan khusus Arab Saudi itu agaknya merupakan reaksi atas laporan media massa, yang menyatakan Irak mungkin akan melakukan serangan rudal terhadap ladang minyak negara-negara tetangganya, sebagai protes atas serangan pasukan koalisi pimpinan AS. Respons serupa dilakukan negara tetangga lain Irak, seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Di Kuwait, Majelis Al-Ummah (DPR) dilaporkan melakukan pertemuan rahasia untuk mengantisipasi serangan Irak ke negara itu. Saham Anjlok Di pasar-pasar keuangan dunia, harga sebagian besar saham Rabu kemarin jatuh. Para investor yang khawatir terhadap kemungkinan lamanya perang dan masa sesudah perang, tampaknya berusaha mencari aman. Emas yang selalu kuat pada masa-masa krisis dan obligasi, naik harganya. Harga minyak, setelah turun dengan harapan perang berlangsung cepat, sedikit naik. Dolar AS stabil. Para pejabat AS menjanjikan, ''hujan bom'' dari serangan udara yang terarah akan mengisolasi Saddam dan kepemiminannya, serta memukau tentara Irak sehingga mereka takluk dengan cepat. (Berita lain baca di halaman 10). Pesawat-pesawat tempur dari kapal induk USS Abraham Lincoln kemarin mengebom posisi-posisi Irak di selatan, setelah pesawat koalisi yang berpatroli di atas zona larangan terbang mengkalim ditembak oleh pasukan Irak. ''Kemarin ada empat tembakan terhadap pesawat kami yang terbang di atas zona larangan terbang Irak selatan,'' kata Laksamana Muda John Kelly kepada wartawan di geladak kapal induk USS Abraham Lincoln. Dia mengatakan, pasukan AS telah membalas tembakan itu dengan mengebom ''sejumlah target'' yang dia gambarkan sebagai ''posisi-posisi komando Irak'' di bagian barat zona larangan terbang, dini hari kemarin. Pesawat-pesawat tempur AS dan Inggris telah berpatroli di atas zona larangan terbang selama lebih dari 10 tahun. Kelly mengatakan Irak memindahkan sistem rudal darat-ke-udara dan senjata lain di sekitar negara itu, dalam upaya untuk menghindari peralatan tersebut menjadi sasaran jika AS menyerang. Kurang dari 24 jam sampai batas waktu berakhir bagi Saddam untuk meninggalkan Irak atau menghadapi perang, laksamana itu mengatakan intelijen AS melaporkan adanya meningkatnya gerakan pasukan, pesawat, dan senjata di Irak. Pengasingan Diri Arab Saudi, sekutu penting AS di dunia Arab, kemarin untuk kali pertama secara resmi mengusulkan kali agar Presiden Saddam mengasingkan diri, sebagai upaya pada menit-menit terakhir untuk menghindari perang. ''Kerajaan ini, dan kelompok lain, akan mengerahkan upaya maksimal untuk mencegah perang yang menghancurkan,'' kata seorang pejabat penting Saudi, yang tak bersedia disebutkan namanya. ''Kami mengusulkan gagasan pengasingan diri bagi Saddam, dan menjamin tempat perlindungan yang aman bagi dia dan keluarganya,'' tambahnya. Arab Saudi adalah negara kedua di Teluk yang menyeru Saddam agar mundur. Tetapi sumber itu mengatakan, kerajaan tersebut tidak berencana menawarkan suaka kepada Saddam. Uni Emirat Arab pada awal bulan ini mengusulkan Saddam agar meninggalkan negerinya. Tetapi konferensi tingkat tinggi Arab dan negara Islam, menolak untuk membahas masalah tersebut. (rtr-ben-30) | |||||