
| Kamis, 20 Maret 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Nasabah Dirampok, Rp 100 Juta Amblas
SEMARANG UTARA- Setelah sekian lama tak muncul, perampok bercelurit yang mencari sasaran nasabah bank kembali beraksi. Selain merampas uang tunai Rp 100 juta serta lembaran cek senilai Rp 85 juta, empat pelaku yang berboncengan dua motor Yamaha RX King juga melukai korbannya, seorang karyawan kantor ekspedisi muatan kapal laut (EMKL) PT Segarasena Putera Jalan Branjangan 8. Sudiyono (25), korban aksi perampokan itu, kini dirawat di RS Panti Wilasa Jalan Citarum. Kepalanya sobek ditikam celurit sehingga harus dijahit di 13 titik. Tangan kanan pemuda yang tinggal di Jalan Surtikanti Tengah itu juga terkena bacokan senjata tajam, setelah dia berusaha mempertahankan tas berwarna hitam yang isinya uang tunai dan cek. Perampokan di siang bolong itu cukup mengejutkan banyak orang dan tergolong nekat karena lokasi kejadian hanya berjarak sekitar 300 meter dari kantor Mapolsek Semarang Utara dan Satlantas Poltabes. Menurut korban, saat ditemui di rumah sakit, siang itu dia baru saja mencairkan uang tunai Rp 100 juta di BRI Jalan Patimura. Sudiyono sendirian menumpang mobil Toyota Kijang pikap H-9260-A. Pelaku diduga sudah membuntuti korban. Namun, ketika pulang ke kantor dia tidak begitu memperhatikan ada orang di belakang mobilnya. ''Biasanya ada yang menemani, tapi kebetulan tadi (kemarin-Red) dia mengambil uang sendirian,'' kata Rubi (23) karyawan PT Segarasena Putera. Setelah memarkir kendaraan, korban bermaksud masuk ke kantornya. Belum sampai menginjak lantai ruang tempatnya bekerja, seorang pria tidak dikenal tiba-tiba mendekatinya dari arah belakang dan langsung menyabetkan celurit ke kepalanya. Pelaku yang lain berusaha merampas tas yang dikalungkan di lengan kanan korban. Selain mengejutkan, serangan tersebut membuat korban tak berkutik. Darah segar muncrat dari kepalanya. Saat itulah tas yang dibawanya terlepas. Dalam keadaan berlumuran darah, dia berusaha meraih kembali tas yang jatuh ke tanah. Saat itulah pelaku kembali membacokkan celuritnya ke tangan korban. Satu pelaku lain mengambil tas, lalu keduanya meloncat ke jok motor yang telah bersiap kabur. ''Tas akhirnya lepas setelah tangan saya kena bacokan,'' kata korban. Ketika peristiwa berlangsung Jalan Branjangan ramai. Tak jauh dari tempat itu ada kantor Polsek Semarang Utara dan Satlantas. Persis di sebelah tempat kejadian ada warung nasi Padang yang saat itu sesak pengunjung. Sepeda motor dan mobil juga banyak berseliweran, tapi tak satu pun yang mengetahui ribut-ribut di depan PT Segarasena Putera itu perampokan.
Orang-orang justru mengira kejadian itu perkelahian biasa antarpemuda, sehingga tak satu pun yang berani melerai. ''Banyak yang melihat kejadiannya, tapi dikira hanya perkelahian biasa,'' kata Paimin (35) warga Jalan Pandansari yang mengaku saat itu berdiri tak jauh dari tempat kejadian. Ny Randiman (65) penjual rokok di kios tepat di seberang kantor PT Segarasena mengaku melihat celurit pelaku jatuh setelah dipakai membacok korban. Helm salah seorang perampok juga terjatuh sat berusaha melarikan diri. ''Saya tidak melihat persis, tahu-tahu saya lihat dia (Sudiyono-Red) lari sambil teriak-teriak minta tolong,'' ujar Ny Randiman. Mukidjo (33) warga Genuksari, Genuk mengaku saat itu melihat dua motor Yamaha RX King berhenti di dekat kantor itu. Dia melihat satu orang pembonceng turun dan langsung menyerang korban yang baru saja turun dari mobil. Setelah melukai dan merampas tas, mereka kabur ke arah jembatan Berok. Korban berusaha mengejar, namun lantaran darah terus mengucur dari kepala dan tangannya, dia memutuskan balik ke kantor. Sebelum kejadian itu, beberapa teman sekantornya sudah memperingatkan Sudiyono agar ditemani saat mengambil uang di bank. Korban menolak. Selain sudah kerap mengambil uang di bank, selama ini pengambilan selalu aman-aman saja. Atas pertimbangan itulah dia memilih ke bank sendirian. ''Padahal, saya sudah mengajak berangkat bersama-sama. Hari ini (kemarin-Red) saya juga ditugasi mengambil uang di BCA Jalan Pemuda,'' kata Rubi. (D7,G3-76) |