logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 20 Maret 2003 Internasional  
Line

Analisis

Serangan Darat dan Udara Akan Dilancarkan Bersamaan

DUBAI - Perang Teluk II yang segera pecah, jelas akan berbeda dari Perang Teluk 1991, kecuali hasilnya. Pada perang tahun 1991 (Perang Teluk I), koalisi multinasional pimpinan AS yang jauh lebih besar melemahkan pasukan yang loyal pada Presiden Irak Saddam Hussein dengan serangan udara selama lima pekan, sebelum pasukan darat mengusir mereka dari Kuwait.

Dan saat ini, pasukan darat AS dan Inggris tampaknya tidak akan membuang banyak waktu dalam menginvasi Irak begitu Washington melepaskan tali arsenal bom-bom dan rudal cerdiknya ke arah Saddam dan para pembantu dekatnya.

Karena para perencana militer AS percaya serangan kilat akan membuat kemenangan lebih cepat, para pakar militer memprediksi tentara darat dalam pasukan invasi AS dan Inggris yang berkekuatan 280.000 personel akan melancarkan serangan ke utara lebih awal.

"Saya kira fase serangan udara dan darat akan dimulai pada saat yang bersamaan - tidak akan ada jeda beberapa pekan antara kedua serangan itu," kata Francois Heisbourg dari Yayasan Riset Strategi yang bermarkas di Paris.

Tiru Dampak Nuklir

Para pakar militer menyatakan, para perencana militer AS berharap perpaduan eksplosif rudal jelajah Tomahawk yang dikendalikan dengan tepat dan bom-bom cerdik akan meniru dampak psikologi ledakan nuklir, mengisolasi Saddam dan memecah-belah pasukannya.

Beberapa pengamat berpendapat, kecermatan dan pukulan yang lebih besar dari arsenal baru Washington, didukung oleh pasukan khusus yang lebih banyak, akan menyebabkan perang lebih cepat berakhir dibandingkan Perang Teluk 1991, yang membutuhkan waktu enam pekan.

Namun presiden Irak, yang mengatur pentas perang dengan mengenakan seragam militernya dan menolak ultimatum untuk meninggalkan negara itu, melihat sesuatu yang sangat berbeda.

Dalam pidatonya Selasa lalu, Presiden George W Bush memberi Saddam dan kedua putranya, Uday dan Qusay, waktu 48 jam untuk meninggalkan Irak atau menghadapi perang. Ultimatum itu akan berakhir Kamis ini pukul 08.15 WIB.

Saddam dan para komandannya mengancam akan melakukan kejutan-kejutan di medan tempur dan pertempuran jalan berdarah untuk mempertahankan ibu kota Bagdad.

Mereka mempercayai tameng hidup yang dipadu dengan protes-protes antiperang di Barat bisa menghentikan gerak maju militer di basis kekuasaan mereka di Bagdad atau kota kelahiran Saddam, Tikrit, sekitar 150 km arah barat laut.

Juru bicara militer menyatakan, mereka telah mempertimbangkan segala kemungkinan. Para pakar militer tidak mengabaikan risiko apa pun.

"Selain hipotesis kudeta istana atau serangan pembedahan dengan beberapa rudal yang dimaksudkan untuk mengisolasi Saddam, Anda bisa melancarkan perang habis-habisan di sepanjang garis klasik," kata Jean-Vincent Brisset dari Institut Hubungan Internasional dan Strategi (IRIS) di Prancis.

"Semua tujuan itu tampaknya tidak akan memakan waktu lama," kata Holger Mey, ketua Institut Analissi Strategi yang berpusat di Bonn.

Amankan Ladang Minyak

"Namun, kami tidak tahu apa yang bakal terjadi jika pecah pertempuran di jalan-jalan, dan kami juga tidak tahu kartu apa yang akan dimainkan Saddam," lanjutnya. "Dia punya andalan dan tidak mudah dikalahkan. Dia bisa menggunakan senjata kimia. Dia mungkin menyeret Israel."

Pengamat militer independen Rusia, Pavel Felgenhauer, juga sependapat. "Pada dasarnya, Bagdad sulit diserang. Mereka kini punya pertahanan udara yang unggul, bahkan mereka seharusnya tidak perlu bertarung," jelasnya.

Prioritas pasukan darat mungkin mengamankan ladang-ladang minyak Irak dan menghentikan orang-orang yang loyal kepada Saddam membakar sumur-sumur minyak seperti yang mereka lakukan di Kuwait pada 1991.

Pasukan para AS tampaknya akan menuju ke kota besar kedua, Basra, dan ladang-ladang minyak di bagian selatan. Pasukan udara atau pasukan khusus mungkin mengarahkan sasaran ke ladang-ladang minyak di utara dekat Kirkuk.

Namun para pakar pertahanan menyatakan adanya kemungkinan berhenti sebentar di dekat Bagdad untuk memberi Saddam dan para pendukungnya kesempatan terakhir untuk menyerah - dan menghindari pertempuran berdarah memperebutkan ibu kota itu.

Koalisi pimpinan AS kali ini lebih kecil dibandingkan kekuatan sekitar 500.000 tentara AS dan 160.000 personel dari lebih dari 30 negara lain yang mengusir pasukan Irak dari Kuwait pada 1991.

Para pakar militer menyatakan adanya debat di Pentagon (Dinas Pertahanan AS) tentang penggunaan kekuatan yang lebih kecil itu, meski mungkin akan memengaruhi hasilnya pada tahap-tahap awal.(rtr-niek-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA