
| Kamis, 20 Maret 2003 | Internasional |
Prancis Tidak Mau DisalahkanPARIS - Menlu Prancis Dominique de Villepin kemarin mengaku "terkejut dan sedih" atas pernyataan para pejabat Inggris yang memberi kesan Prancis telah menghilangkan solusi diplomatik bagi krisis Irak. "Kami sepenuhnya mengetahui tekanan internal yang membebani Pemerintah Inggris. Tetapi, komentar-komentar tersebut tidak baik bagi sebuah negara yang merupakan sahabat dan mitra di Eropa," katanya, seperti dikutip sumber diplomatik. Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyalahkan para pemimpin Prancis, atas apa yang dia sebut sebagai "perbuatan mereka yang menyesatkan dan sikap berbahaya mereka yang akhirnya menguntungkan Presiden Irak Saddam Hussein". "Ada kemarahan mengenai dominasi AS. Ada kekhawatiran AS berbuat sewenang-wenang. Saya tahu semua itu. Tetapi, jalan untuk membuat kesepakatan bukan dengan rivalitas, melainkan kemitraan," kata Blair. Dia menyatakan hal itu di hadapan Parlemen, saat berlangsung debat sengit Selasa lalu mengenai dukungannya yang kontroversial terhadap perang. Menlu Jack Straw dan anggota pemerintahan Blair, juga mengungkapkan kemarahan mereka terhadap penentangan Prancis. Presiden Prancis Jacques Chirac pekan lalu mengumumkan, dia akan memveto resolusi apa pun di Dewan Keamanan PBB yang memberi lampu hijau bagi aksi militer ke Irak. Straw mengatakan kepada khalayak bahwa Chirac menolak usulan terakhir Inggris mengenai resolusi baru, bahkan sebelum Saddam Hussein melakukannya. Blair, setelah menghadapi pembangkangan terbesar dari Partai Buruh yang dipimpinnya, pada Selasa malam (Rabu pagi WIB) memenangi dukungan Parlemen untuk perang melawan Presiden Irak Saddam Hussein. Tetapi, sekitar serpertiga anggota Partai Buruh membangkang terhadapnya. Itu merupakan tamparan pedas bagi Blair, menyusul pengunduran diri tiga menterinya yang menolak perang. Tetapi, meski Parlemen Inggris diguncang oleh para pembangkang, jabatan Blair terlihat aman. Jajak pendapat terakhir menunjukkan Blair membuat kemajuan dalam upaya memenangi hati dan pikiran warga Inggris. 160 Kota AS Menentang Sementara itu kota San Jose di California kemarin menjadi kota terakhir di AS yang mengesahkan resolusi menentang perang AS terhadap Irak. "Resolusi itu merupakan cara bagi warga kota untuk menyampaikan pernyataan kepada pemerintah," kata Julie Callahan, seorang aktivis antiperang yang memonitor voting di dewan kota itu. Resolusi-resolusi itu mungkin dicatat di Washington, tetapi tidak punya dampak resmi untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri AS. Sekitar 159 kota di AS telah mengesahkan resolusi menentang perang sebelum San Jose. Antara lain Los Angeles, Oakland, Denver, Atlanta, Chicago, Baltimore, Detroit, dan Philadelphia. Dewan Kota New York pekan lalu mengesahkan resolusi yang menyatakan "serangan militer seharusnya hanya dilakukan untuk merespons ancaman nyata yang sebentar lagi terjadi". Dewan itu mendesak Pemerintah AS untuk menunggu dukungan PBB.
Pasukan Sukarela Di Bagdad, para sukarelawan dari segala penjuru dunia kemarin bermain sepak bola, memetik gitar, dan menyanyikan lagu-lagu perdamaian, sambil tersenyum pada anak-anak Irak. Ketika batas waktu menjelang perang tinggal beberapa jam lagi, para sukarelawan yang siap menjadi tameng hidup itu mempertaruhkan nyawa mereka untuk menghalangi AS dan sekutunya mengebomi fasilitas-fasilitas umum. "Sekarang suasananya mulai terasa tegang," kata Uzma Bashir (32), seorang dosen Inggris yang menjadi tameng hidup di sebuah pembangkit listrik di pinggiran Bagdad, Irak selatan. "Ada kegelisahan yang mencerminkan bahwa obrolan mengenai bom bukan sekadar obrolan. Bom-bom itu sangat mungkin segera datang," katanya kepada Reuters, kemarin. Militer AS diperkirakan akan melancarkan "serangan mengejutkan dan memukau" berupa pelepasan 3.000 bom dan rudal, sebagai salvo pembukaan perang jika Presiden Saddam bersikeras menetap di Irak. Bashir mengatakan sekitar 100 tameng hidup masih berada di sekitar sembilan kemungkinan sasaran perang di Bagdad, termasuk gardu-gardu listrik, tempat pengolahan air, pembangkit listrik, gudang makanan, dan penyulingan minyak. Mereka menulis surat kepada Bush dan PM Blair, mendesak keduanya untuk mencegah pasukan AS dan Inggris mengebom tempat-tempat yang mereka lindungi. Sebagian besar aktivis telah menyusun rencana-rencana darurat, menyimpan bahan makanan dan air bersih, memperbesar bunker-bunker di sekitar mereka, atau membuat rute melarikan diri jika bom-bom mulai dijatuhkan. Ratusan aktivis tiba di Bagdad dalam beberapa pekan terakhir, termasuk pendeta Budha, musisi, veteran perang, dan juru kampanye muda yang melakukan protes-protes politik.(rtr-ben-30) |